"Berani-beraninya kalian memarkir alat berat rongsokan itu di depan gerbangku?! Dan kalian, siapa yang mengizinkan sepatu bot kotor kalian menginjak lantai marmer asliku, hah?! Keluar sebelum kutelepon polisi dan kujebloskan kalian semua ke penjara!"
Jeritan melengking Ibu mertuaku memecah keheningan pagi di kawasan perumahan elit itu.
Dengan balutan jubah tidur sutra mahalnya, ia berkacak pinggang di depan pintu utama, menatap murka pada sepuluh pria berjas hitam rapi dan seorang pria paruh baya berkacamata yang berdiri tenang di terasnya.
Di belakang mereka, sebuah ekskavator kuning besar menyala dengan mesin menderu pelan, tepat di depan gerbang besi tempa yang menjulang.
"Kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa?! Aku ini nyonya besar keluarga Aditama! Akan kuviralkan kalian semua biar tahu rasa!" ancam Viona yang baru turun dari lantai dua, sibuk merekam dengan ponsel di tangannya.
Dari dalam sebuah mobil sedan mewah hitam yang baru saja meluncur mulus dan berhenti di halaman, aku melangkah keluar.
Ketukan sepatu hak tinggiku beradu dengan paving blok, membuat Ibu mertua dan Viona serempak menoleh.
"C-Cici?! Sedang apa kau di sini, gembel?! Oh, aku tahu, kau pasti menyewa preman-preman ini untuk menakutiku, kan?!" tuduh Ibu mertuaku, wajahnya memerah karena amarah bercampur gengsi melihat penampilanku yang jauh lebih berkelas darinya.
Aku tersenyum tipis, melipat tangan di dada.
"Preman? Jaga ucapan Ibu. Beliau adalah Pak Darmawan, pengacara hukum properti terbaik di kota ini."
Pak Darmawan maju satu langkah, membuka koper kulitnya dengan tenang dan menyodorkan sebuah dokumen resmi berstempel hukum.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya mewakili klien saya, Nyonya Cici, untuk mengeksekusi surat perintah pengosongan rumah. Sesuai dengan data di Badan Pertanahan Nasional, tanah dan bangunan ini seratus persen adalah hak milik sah klien saya. Anda diberi waktu satu jam untuk mengemasi barang-barang pribadi, atau tim kami yang akan memindahkannya secara paksa."
"Bohong! Kau pasti memalsukan dokumen itu, Cici!" jerit Ibu mertuaku histeris. Ia berlari panik ke dalam rumah, menuju ruang kerjanya, dan kembali beberapa menit kemudian sambil mengacungkan sebuah map.
"Ini buktinya! Sertifikat Hak Milik atas namaku! Kalian semua buta huruf?!"
Pak Darmawan menerima map itu, melihat sekilas, lalu terkekeh pelan. Ia menyalakan senter ultraviolet kecil dari sakunya dan menyorotkannya ke atas kertas milik Ibu mertua.
"Maaf, Nyonya. Kertas yang Anda simpan ini tidak memiliki watermark resmi negara dan hologramnya pun hanya stiker cetakan biasa. Ini adalah dokumen palsu kualitas rendah yang sengaja dibuat untuk mengelabui Anda," jelas Pak Darmawan profesional.
"Sertifikat asli dengan nomor register yang sah ada di tangan klien saya."
Kaki Ibu mertuaku mendadak lemas. Map di tangannya jatuh berserakan di lantai. Wajahnya yang tadi merah padam kini sepucat mayat.
Ia menatapku dengan sorot mata yang tak bisa kuartikan, antara syok, malu, dan tak percaya bahwa selama bertahun-tahun ia hanya memeluk secarik kertas tak berharga, sementara menantu yang diinjak-injaknya adalah pemilik sah istananya.
"Waktu kalian tinggal lima puluh menit. Bantu mereka mengemasi pakaiannya, dan pastikan tidak ada satu pun barang berharga atau perabotan yang mereka bawa. Semua isi rumah ini adalah milikku," perintahku dingin pada para pengawal.
Dalam sekejap, rumah mewah itu dilanda kekacauan.
Teriakan histeris Viona yang kopernya disita dan tangisan Ibu mertua yang ditarik keluar dari sofa kesayangannya menjadi alunan musik pagi yang begitu indah di telingaku.
Tepat pukul sembilan, Ibu mertua dan Viona sudah terduduk di trotoar depan pagar, diapit dua koper berisi pakaian lusuh mereka.
Tetangga-tetangga elit yang biasa minum teh bersama Ibu mertua kini hanya menonton dari jauh sambil berbisik-bisik, membuat rasa malu wanita tua itu memuncak hingga ubun-ubun.
Dengan napas memburu dan mata memerah penuh dendam, Ibu mertua bangkit berdiri, menunjuk tepat ke wajahku dari balik pagar besi yang kini terkunci rapat untuknya.
"Kau pikir mengusirku dari rumah ini akan membuatku melarat dan memohon padamu, Cici?! Jangan lupa, anakku Ari adalah Direktur Utama! Aku akan pergi ke kantor pusat perusahaan sekarang juga! Sebagai ibu kandungnya, aku berhak mencairkan seluruh dana perusahaan dan membekukan semua aset atas nama Ari! Aku akan membuatmu kembali memakan nasi garam besok pagi!"
Aku menatapnya dari balik pagar dengan tatapan meremehkan, mengibaskan debu tak kasatmata dari ujung blazer-ku sebelum memberikan senyuman paling mematikan.
"Silakan saja datang ke kantor pusat siang ini, Bu. Tapi jangan menangis histeris jika satpam menyeret Ibu keluar, karena mulai jam delapan pagi tadi, nama yang tercetak sebagai Pemilik Saham Mayoritas dan Pemimpin Tertinggi perusahaan itu bukanlah Mas Ari, melainkan aku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar