Bab 1
"Lebih baik kamu membusuk di penjara daripada membawa lintah darat ke rumah ini! Pergi kamu, Gembel! Mulai detik ini, aku tidak punya anak benalu sepertimu!"
BRAK!
Pintu kayu jati berukir mewah itu dibanting kuat-kuat tepat di depan wajahku.
Bunyi kunci yang diputar dua kali dari dalam terdengar bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati.
Dari balik jendela kaca, kulihat Clarissa, adik kandung yang selama ini selalu kumanjakan dengan tas dan sepatu branded miliaran rupiah, menarik tirai dengan raut wajah jijik, seolah aku adalah virus mematikan.
Aku menunduk dalam gelapnya pelataran rumah ibuku.
Perlahan, senyum sinis yang sedari tadi kutahan akhirnya terbit di sudut bibirku.
Di tanganku, layar ponsel masih menyala terang, menampilkan notifikasi dari akun sosial media Bianca, wanita yang minggu lalu masih berstatus kekasihku.
[Peringatan buat para cewek: jangan mau sama cowok mokondo! Untung gue udah putus dari si miskin sok kaya. Sekarang dikejar rentenir kan lo? Wkwk, mampus rasain!]
Sandiwara kebangkrutanku rupanya berjalan terlalu sempurna. Sungguh luar biasa.
Hanya butuh waktu 24 jam sejak aku mengumumkan bahwa perusahaanku kolaps dan meninggalkan hutang miliaran, darah dagingku sendiri dan wanita yang pernah merengek memohon cintaku langsung berubah wujud menjadi monster yang membuangku ke jalanan.
"Mas Devan."
Sebuah suara lembut dan bergetar memecah keheningan malam. Aku menoleh.
Aluna, wanita yang baru menikahiku sebulan lalu, berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya menatapku dengan sorot kekhawatiran yang begitu pekat.
Tanpa basa-basi, ia meraih tanganku dan menarikku menjauh dari gerbang besi rumah ibuku.
"Jangan memohon pada mereka, Mas. Tidak apa-apa, kita hadapi ini sama-sama," bisik Aluna. Ia menggenggam tanganku erat-erat.
Telapak tangannya terasa sangat dingin, namun entah mengapa, hatiku mendadak menghangat.
Di bawah remang lampu jalanan, Aluna membuka ritsleting tas lusuhnya. Tangannya yang gemetar mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu memaksaku untuk menggenggamnya.
"Apa ini, Aluna?" tanyaku, pura-pura terkejut melihat tumpukan uang tunai di dalamnya.
"Ini ... ini cukup untuk menutupi sisa hutangmu ke rentenir itu, Mas. Besok pagi, Mas temui mereka dan lunasi semuanya ya? Aku mohon, jangan sampai mereka melukaimu lagi."
Tubuhku seketika membeku. Mataku tanpa sadar tertuju pada leher dan pergelangan tangannya yang kini terlihat kosong melompong.
Kalung emas dan gelang giok peninggalan almarhumah ibunya, satu-satunya harta paling berharga yang selalu ia jaga segenap jiwa, telah lenyap tak berbekas.
"Kamu ... kamu menjual perhiasan ibumu?" suaraku nyaris tercekat.
Kali ini aku tidak sedang bersandiwara. Hatiku benar-benar terguncang hebat.
Aluna tersenyum getir, mencoba menutupi matanya yang berkaca-kaca. Ia menepuk lenganku pelan.
"Harta masih bisa dicari, Mas. Tapi nyawa dan keselamatan suamiku itu yang utama. Aku istrimu sekarang, susah dan senang harus kita tanggung berdua, kan?"
Darahku berdesir kencang, menampar nuraniku dengan telak.
Selama sebulan usia pernikahan kami, aku selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya.
Aku sengaja merancang skenario kebangkrutan konyol ini dengan meminjam tangan asisten pribadiku untuk menyamar sebagai rentenir yang beringas.
Tujuanku hanya satu: menguji siapa lintah sesungguhnya yang hanya mengincar hartaku.
Dan malam ini, semesta memberikan jawaban yang sangat brutal.
Ibuku yang selalu kuberikan kemewahan, membuangku. Adikku yang kubiayai hidupnya, membuatku malu. Mantan pacarku menertawakanku di depan publik.
Tapi Aluna, istri yang bahkan belum pernah kusentuh dan kuabaikan keberadaannya, justru rela mengorbankan peninggalan terakhir ibunya demi pasang badan melindungi pria yang ia anggap tengah terpuruk.
Aku menarik napas panjang, menatap lekat-lekat mata jernih Aluna di bawah siraman cahaya bulan.
Ujiannya sudah selesai, batinku.
Malam ini, Devan si gembel yang miskin dan tak berdaya telah resmi mati.
Besok, sang Tuan Muda pewaris tunggal Adhitama Group akan kembali duduk di singgasananya.
***
Bab 2
Bab 2
Setelah mengantar Aluna pulang ke kontrakan sempit kami dan memastikannya terlelap karena kelelahan menangis, aku melangkah pelan menuju balkon.
Kukeluarkan ponsel khusus berwarna hitam legam yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat, lalu menekan tombol panggilan cepat.
Panggilan itu langsung dijawab pada dering pertama.
"Tuan Muda, Anda baik-baik saja? Apakah sandiwaranya sudah selesai?" Suara bariton asisten kepercayaanku terdengar penuh hormat dari seberang telepon.
"Ujiannya sudah selesai, Dimas," ucapku dingin, mataku menatap tajam ke arah gedung pencakar langit megah milik keluargaku yang menjulang di pusat kota.
"Blokir semua akses rekening, tarik semua mobil mewah, dan cabut fasilitas kartu kredit ibuku serta Clarissa malam ini juga. Pastikan besok pagi saat mereka bangun, mereka resmi jadi gembel tanpa sepeser pun. Dan untuk Bianca, hancurkan saham perusahaannya sampai wanita itu merangkak memohon di kakiku besok siang."
***
"Tidak mungkin! Coba gesek sekali lagi! Mesin kasirmu pasti rusak! Aku ini Nyonya Besar Adhitama! Bagaimana mungkin semua kartu kreditku dibekukan dan saldoku minus?!"
Suara lengkingan histeris ibuku yang terekam jelas dari sambungan telepon Dimas, menjadi melodi pembuka pagiku yang luar biasa indah.
Aku menyesap kopi hitamku perlahan, tersenyum tipis mendengar hiruk-pikuk kepanikan dari ujung telepon sana.
"Lalu, bagaimana dengan mobil dan aset lainnya, Dimas?" tanyaku pelan, memastikan suaraku tidak membangunkan Aluna yang masih terlelap karena kelelahan menangis semalaman.
"Semua mobil mewah di garasi Nyonya Besar dan Nona Clarissa sudah kami tarik paksa subuh tadi, Tuan Muda. Pihak bank juga sudah menyegel rumah utama atas instruksi Anda. Saat ini, mereka sedang diusir dari butik langganannya karena tidak bisa membayar tagihan tas branded yang baru saja mereka pesan," lapor Dimas dengan nada datar namun memuaskan.
"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun kolega bisnis yang berani memberi mereka pinjaman. Dan Bianca?"
"Saham perusahaan kosmetik milik Nona Bianca anjlok 70% sejak pasar saham dibuka pagi ini, Tuan. Para investor menarik dana mereka serentak. Dia sedang histeris mencari pinjaman sana-sini."
"Kerja bagus," ucapku dingin sebelum memutus sambungan telepon.
Aku meletakkan cangkir kopi, lalu melangkah pelan menuju ranjang sempit di kamar kontrakan kami.
Di sana, Aluna tidur meringkuk kedinginan. Hatiku seolah diremas melihat lingkaran hitam di bawah matanya.
Semalaman ia menangis, bukan karena menyesali nasibnya menikah dengan pria yang ia pikir bangkrut, melainkan karena takut para rentenir palsu itu akan mencelakaiku.
Perlahan, aku duduk di tepi ranjang. Kuambil kotak beludru merah yang tadi subuh diantarkan oleh Dimas, lalu membuka isinya.
Kalung emas dan gelang giok peninggalan almarhumah ibu Aluna memantulkan cahaya pagi.
Aku telah menebusnya kembali dengan harga sepuluh kali lipat sebelum toko emas itu sempat memajangnya.
Dengan gerakan sangat lembut, kupakaikan kembali gelang giok itu ke pergelangan tangan Aluna, lalu merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
Maafkan aku, Aluna, batinku perih.
Selama sebulan ini aku bersikap sedingin es padamu karena aku tidak percaya pada wanita manapun. Tapi ketulusanmu semalam telah menampar kesombonganku.
Sentuhan pelanku rupanya membuat Aluna terusik. Kelopak matanya mengerjap pelan sebelum terbuka sepenuhnya.
Ia terkesiap saat melihatku duduk di sisinya, namun matanya membulat sempurna saat menyadari apa yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mas Devan, ini ... bagaimana bisa perhiasan ibuku ada di sini lagi?"
Suaranya bergetar hebat. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah melihat sebuah keajaiban.
"Uang dari mana, Mas? Bukankah uang itu untuk membayar rentenir?"
Aku tersenyum hangat, mengusap pipinya dengan penuh kasih sayang, sebuah gestur yang baru pertama kali kulakukan sejak kami menikah.
"Mas sudah menyelesaikan semuanya, Sayang. Rentenir itu tidak akan berani mengganggu kita lagi. Dan perhiasan ini, tempatnya adalah di tubuhmu, bukan di etalase toko," ucapku lembut, menatap tepat ke dalam manik matanya.
***
Bab 3
"Tapi hutangmu yang miliaran itu ..."
"Mulai detik ini, kamu tidak perlu memikirkan hutang, kesusahan, atau air mata lagi, Aluna. Tugasku sekarang hanya satu: membahagiakanmu dan menjadikanmu ratu yang sesungguhnya di hidupku," potongku mantap, mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat.
Belum sempat Aluna membalas kata-kataku, terdengar suara gedoran keras dan brutal dari arah pintu depan kontrakan kami.
Aluna tersentak kaget. Tubuhnya refleks meremang ketakutan, berlindung di balik lenganku.
"Mas, apa itu rentenirnya datang lagi?" bisiknya pucat pasi.
"Biar Mas yang periksa. Kamu tunggu di sini," ujarku menenangkan.
Aku berjalan menuju ruang tamu sempit kami dan menyingkap sedikit tirai jendela yang lusuh.
Pemandangan di luar sana sukses membuat sudut bibirku terangkat membentuk seringai tajam.
Aluna yang rupanya diam-diam mengikutiku dari belakang, ikut mengintip. Seketika tangannya membekap mulutnya sendiri, menahan napas saking terkejutnya.
"Mas, itu ... Ibumu dan Clarissa? Kenapa mereka membawa koper-koper besar ke sini? Dan Ya Tuhan, kenapa mereka bersujud dan menangis meraung-raung di depan pagar kontrakan kita?!" suara Aluna bergetar kebingungan melihat dua wanita sombong yang semalam mengusir kami, kini tampak gembel dengan riasan wajah luntur.
Aku berbalik, menarik pinggang istriku ke dalam pelukanku, lalu berbisik dengan nada yang sangat tenang di telinganya.
"Jangan dibukakan pintu, Sayang. Biarkan saja. Sandiwara babak kedua, baru saja dimulai."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar