Minggu, 19 April 2026

(5) Kuwariskan Tanah Terbengkalai untuk Istriku karena Aku Sakit Parah. Kukira Istriku Akan Menyera, tapi Dia Justru Mengubah Hidup dan Nasib Kami!

 

"Sertifikat hak milik yang kau agung-agungkan itu, Nyonya Resti, hanyalah kertas pembungkus kacang. Tirta diam-diam menjaminkan tanah itu kepadaku lima tahun lalu, dan secara hukum, setiap jengkal kerajaan bisnis yang kau bangun dengan susah payah itu berdiri kokoh di atas tanah milikku!"


Kalimat arogan itu meluncur mulus dari bibir merah Vanya. Dengan gaya angkuh, ia melemparkan sebuah map kulit berwarna merah ke atas meja marmer di hadapan kami. 


Sebuah dokumen resmi dengan segel notaris dan stempel Badan Pertanahan Nasional mengintip dari dalamnya.


Ruang tamu mendadak senyap. Udara yang semula terasa hangat oleh kemenangan, kini berubah tegang. 


Pak Yanto dan dua petugas keamanan bahkan menahan napas, tak berani berkutik melihat aura mendominasi tamu tak diundang ini.


Aku merasakan aliran darahku mendidih. Tanpa ragu, aku melangkah maju, memosisikan diriku tepat di depan Resti untuk melindunginya layaknya perisai. 


Kutatap tajam wanita berpakaian haute couture itu dengan rahang mengeras.


"Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak peduli omong kosong apa yang baru saja kau muntahkan," ucapku dengan suara berat dan dingin yang memperingatkan. 


"Aku tidak pernah memiliki tunangan selain istriku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merampas hasil keringat Resti. Bawa kertas sampahmu ini dan keluar dari rumahku sekarang juga!"


Mendengar pembelaanku, Vanya justru tertawa kecil. Tawa yang meremehkan.


"Oh, Tirta sayang. Kau ini naif atau pura-pura bodoh? Aku datang bukan untuk meminta izinmu. Tim pengacaraku sudah bersiap di luar," desis Vanya, menyilangkan kakinya dengan elegan. 


"Aku beri kalian waktu 24 jam. Serahkan seluruh aset agrowisata itu padaku, atau kalian berdua akan membusuk di penjara atas tuduhan penyerobotan lahan."


Aku mengepalkan tangan, bersiap memanggil petugas keamanan untuk mengusir wanita gila ini dengan paksa. Namun, sebuah sentuhan lembut di punggung tanganku menghentikanku.


Resti melangkah keluar dari belakang tubuhku. Wajah istriku luar biasa tenang, tak ada setetes pun riak kepanikan di matanya. 


Alih-alih marah atau syok, ia justru tersenyum elegan. Dengan gerakan anggun, Resti mengambil dokumen berstempel merah itu dari atas meja dan membacanya sekilas.


"Tanda tangan ayah mertua yang asli, stempel notaris yang sah, dan titik koordinat yang sangat akurat," gumam Resti pelan, terdengar seperti memuji kelengkapan dokumen itu.


Senyum kemenangan Vanya semakin melebar. 


"Bagus kalau kau tahu diri, Nyonya Resti. Setidaknya kau cukup pintar untuk menyadari bahwa kau sudah kalah telak."


"Kalah?" Resti menutup map merah itu dengan bunyi tamparan yang cukup keras, lalu menatap Vanya dengan sebelah alis terangkat. 


"Kau sepertinya salah paham, Nona Vanya."


Resti berjalan santai mengitari sofa, lalu berdiri menatap Vanya dengan sorot mata sedingin es di kutub utara. 


Istriku melipat tangannya di dada, memancarkan dominasi yang jauh lebih pekat hingga membuat postur angkuh Vanya tanpa sadar sedikit menegang.


"Aku memang membangun perkebunan dan sistem hidroponik raksasa di atas tanah ini," ucap Resti dengan suara yang mengalun pelan namun mematikan. 


"Namun, sebelum aku menanam satu biji pun benih di sana enam bulan lalu, hal pertama yang aku lakukan adalah melegalkan hak milik atas satu-satunya hal yang membuat tanah mati itu berharga."


Kening Vanya berkerut dalam. 


"Apa maksudmu?"


Resti menyeringai, sebuah senyuman mematikan yang selalu ia tunjukkan sebelum menghancurkan musuh-musuhnya.


"Sertifikat ini memang mencatat namamu sebagai pemilik lahan gersang itu," ucap Resti lembut, mendekatkan wajahnya ke arah Vanya. 


"Tapi sayangnya, kau pasti lupa membaca hukum agraria dan berita bisnis hari ini. Perusahaanku telah secara legal menguasai dan mematenkan hak paten eksklusif atas mata air tersembunyi di bawah tanah tersebut. Jadi, silakan ambil kembali tanahmu, Nona Vanya, tapi bersiaplah membayar biaya sewa aliran air padaku sebesar sepuluh miliar per hari, atau lihat kerajaan tanah impianmu itu mengering dan mati besok pagi!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(9) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

  "Heh, Satpam! Cepat hancurkan gembok ini pakai palu! Di dalam sana ada koleksi tas, baju sutra, dan perhiasan emasku! Berani-beraniny...