Teriakan Hakim memantul di dinding marmer lobi, suaranya melengking pecah antara kepanikan dan penyangkalan yang luar biasa.
Wajahnya pias tak berdarah. Matanya terbelalak lebar menatap Pak Dirman, lalu beralih menatapku seolah aku adalah hantu yang tiba-tiba bangkit dari kubur.
Hakim mencoba meraih lenganku, mungkin untuk menyeretku keluar seperti niat awalnya, namun dua pengawal bertubuh tegap berpakaian serba hitam dengan sigap memelintir tangannya ke belakang.
"Aaargh! Lepaskan! Jannah, bilang pada mereka siapa kamu sebenarnya!" rintih Hakim sambil meronta, keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya.
Pak Dirman membetulkan letak kacamatanya dengan tenang, menatap Hakim dengan sorot mata yang biasa ia gunakan untuk melihat sampah.
"Jaga batasan Anda, Saudara Hakim. Anda sedang berteriak di hadapan Nona Jannah Wiryawan, pewaris tunggal Grup Wiryawan, pemegang saham mayoritas, sekaligus pemilik sah gedung pencakar langit yang sedang Anda pijak ini."
Kaki Hakim langsung lemas seketika. Jika saja dua pengawal itu tidak menahan lengannya, ia pasti sudah merosot jatuh ke lantai.
Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan kekurangan oksigen, tak mampu mengucapkan satu patah kata pun.
Kesombongan yang selama ini ia agung-agungkan hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Aku tidak membuang waktu lebih lama untuk menikmati wajah bodohnya.
Tanpa menoleh lagi, aku melangkah anggun menuju lift eksekutif berlapis emas yang hanya bisa diakses menggunakan sidik jariku.
Bunyi stiletto-ku yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti detak waktu yang menghitung mundur kehancuran suamiku.
Setibanya di lantai paling atas, aku duduk di kursi kulit kebesaran yang dulu diduduki oleh mendiang Papaku. Pemandangan ibu kota terlihat begitu kecil dari dinding kaca ini.
Pak Dirman masuk, meletakkan setumpuk dokumen tebal bersampul merah tepat di atas mejaku.
"Ini hasil audit internal divisi pemasaran selama masa cuti Anda, Bu Jannah. Persis seperti kecurigaan Anda," lapor Pak Dirman dengan nada profesional.
"Saudara Hakim telah melakukan penggelembungan dana promosi selama delapan bulan terakhir. Ia mengalihkan miliaran rupiah dana perusahaan ke sebuah vendor fiktif."
Jari telunjukku membalik halaman dokumen itu. Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman dingin.
"Vendor fiktif atas nama Restu Anggraini?"
"Benar, Bu. Uang yang dia gunakan untuk membeli tas kulit ratusan juta, perhiasan, dan gaya hidup mewah wanita simpanannya itu, murni merupakan hasil penggelapan dana perusahaan kita. Semua bukti transfer dan pemalsuan tanda tangan sudah kami amankan."
Aku menutup dokumen itu perlahan. Sebuah rencana yang jauh lebih indah dari sekadar surat cerai mulai tergambar sempurna di kepalaku.
Hakim pikir dia bisa mengusirku dan hidup bahagia dengan hasil curiannya?
Dia salah besar karena telah membangun istana pasirnya tepat di atas wilayah kekuasaanku.
Aku menatap Pak Dirman, menyandarkan punggungku ke kursi kebesaran ini dengan aura seorang pemimpin yang siap mengeksekusi pengkhianatnya.
"Jangan pecat suamiku hari ini, Pak Dirman. Kirimkan undangan VVIP ke mejanya untuk acara malam puncak ulang tahun perusahaan akhir pekan ini, dan buat aturan wajib agar dia membawa serta pendamping wanitanya itu. Aku ingin memastikan gaun mewah dan tas mahal Restu, terlihat sangat serasi dengan borgol perak dari kepolisian saat penyidik menyeret mereka berdua dari atas karpet merah."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar