"Air mata buayamu sudah tidak laku lagi di sini, Ibu! Silakan terus bergulingan di aspal dan menjerit sejadi-jadinya, biar seluruh tetangga tahu seperti apa wujud asli wanita yang selama ini sok suci, tapi tega menjadikan menantunya sendiri sebagai babu!"
Suaraku menggelegar, dingin dan tajam, memotong drama tangisan Ibu yang sengaja menjatuhkan diri ke jalanan demi menarik simpati warga.
Seketika, bisik-bisik tetangga yang sejak tadi berkerumun langsung berubah arah.
Tatapan sinis yang biasanya mereka tujukan pada Yuni, kini berbalik menusuk Ibu dan Bagas.
Mereka mulai saling berbisik, menyadari kebohongan yang selama ini disembunyikan keluargaku di balik tembok mewah rumah ini.
"Kurang ajar kau, Aji! Berani-beraninya kau mempermalukan Ibu dan aku di depan umum demi perempuan kampung ini!"
Bagas, yang wajahnya sudah merah padam karena menanggung malu yang luar biasa, tiba-tiba nekat menerjang maju dengan kepalan tangan melayang ke arahku.
Namun, belum sempat tinjunya menyentuh kerah jasku, dua bodyguard bertubuh tegap berpakaian hitam lebih dulu meringkusnya.
Tubuh adikku itu dibanting ke kap mobil dengan suara debuman keras, membuat Ibu menjerit histeris.
"Berani kau sentuh seujung rambut istriku, kupatahkan kedua tanganmu di tempat ini juga, Bagas!" ancamku dengan tatapan membunuh.
Aku merangkul pinggang Yuni yang sedikit gemetar, memberinya rasa aman yang tak pernah ia dapatkan di rumah ini.
"Reno, pastikan mereka tidak menginjakkan kaki radius seratus meter dari gerbang rumahku. Jika mereka melawan, laporkan atas tuduhan perusakan properti dan ancaman pembunuhan."
"Baik, Tuan," jawab Reno patuh.
Aku menuntun Yuni melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah, meninggalkan Ibu dan Bagas yang kini meronta-ronta dan meratap diusir oleh petugas keamanan.
Begitu pintu kayu jati berukir itu tertutup di belakang kami, meredam segala keributan di luar, Yuni akhirnya menghembuskan napas lega. Kakinya lemas, nyaris merosot ke lantai marmer jika aku tak menahannya.
"Mas, ini semua beneran? Yuni nggak lagi mimpi, kan?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca, menatap takjub ke sekeliling ruang tamu yang mewah.
Dulu, ia hanya boleh berada di ruangan ini untuk mengepel lantai sampai tangannya lecet.
"Ini nyata, Sayang. Mulai hari ini, kamu adalah pemilik sah rumah ini. Tidak ada lagi yang berani menyuruh-nyuruhmu. Kamulah ratunya," ucapku sambil mengecup keningnya lembut.
Aku lalu mengajaknya berkeliling. Aku sudah merenovasi kamar utama secara diam-diam melalui asistenku, mengubahnya menjadi persis seperti kamar impian yang dulu sering Yuni ceritakan saat kami masih tinggal di kontrakan sempit.
Matanya berbinar melihat walk-in closet yang sudah terisi penuh dengan pakaian dan tas bermerek, khusus disiapkan untuknya.
Namun, momen manis itu harus terjeda saat Reno mengetuk pintu kamar yang terbuka.
Wajah asisten kepercayaanku itu tampak lebih tegang dari biasanya. Ia melangkah masuk dan membungkuk sopan sebelum memberikan sebuah tablet ke tanganku.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan. Tapi ada situasi darurat yang tidak bisa ditunda. Kami baru saja meretas ponsel Tuan Bagas dan menemukan data transaksi gelap."
Aku mengernyitkan dahi.
"Transaksi gelap apa?"
"Tuan Bagas tidak hanya berencana menjual rumah ini secara ilegal, Tuan. Bulan lalu, dia kalah judi online dan meminjam uang sebesar sepuluh miliar kepada rentenir paling kejam di kota ini. Dan yang paling parah ..."
Reno menelan ludah, menatap Yuni dengan raut wajah khawatir.
"Tuan Bagas memalsukan tanda tangan dan KTP Mbak Yuni dalam sebuah surat perjanjian serah terima. Sore ini adalah batas waktu pembayarannya. Jika uang itu tidak ada, Bos rentenir hidung belang itu akan datang untuk menyeret Mbak Yuni paksa dan menjadikannya istri simpanan sebagai pelunas utang."
Rahangku mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi. Aura membunuh di sekelilingku memuncak seketika, membuat suhu ruangan terasa turun drastis.
"Bagus. Biarkan saja rentenir busuk itu datang ke mari sore ini beserta seluruh anak buahnya. Akan kutunjukkan pada mereka dan adikku yang durhaka itu, bahwa menyentuh istriku adalah tiket jalur cepat menuju neraka!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar