Sabtu, 18 April 2026

(3) Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

 "Tolong serahkan kunci mobil dinas, laptop perusahaan, dan seluruh kartu kredit korporat Anda sebelum jam dua belas siang ini, Bapak Rizwan. Jika tidak, terpaksa kami yang akan menjemput aset tersebut ke rumah Anda, bersama pihak kepolisian."


Suara bariton Pak Yuda, Kepala HRD di perusahaan peninggalan papaku, mengalun jernih dan tegas dari speaker ponsel Rizwan. 


Benda pipih canggih itu lolos begitu saja dari genggaman suamiku, menghantam lantai marmer ruang makan dengan bunyi yang memuaskan. Layarnya retak, hancur berantakan. Persis seperti harga diri laki-laki di hadapanku ini.


Napas Rizwan memburu. Matanya yang tadi membelalak garang kini menyusut, penuh dengan ketakutan yang menjalar ke seluruh sarafnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga menabrak ujung meja makan.


"Bela, k-kamu ... kamu nggak bisa melakukan ini padaku," bisiknya parau. 


Kesombongannya luruh tak berbekas. Dengan gerakan yang terlihat menyedihkan, ia menjatuhkan lututnya ke lantai marmer yang dingin. Merangkak ke arahku. 


"Bel, Sayang. Ini Mas. Suamimu. Kita bangun semuanya sama-sama, kan? Kamu nggak mungkin tega memenjarakan suamimu sendiri."


Aku menunduk menatapnya, menggeser kakiku sedikit agar tangannya yang gemetar tidak menyentuh ujung gaun rumahanku.


"Kita bangun sama-sama?" ulangku lambat-lambat, menaikkan sebelah alis. "Biar kuperbaiki ingatanmu, Mas. Papaku yang membangun perusahaan itu dari nol. Aku yang memberikan kursi Direktur Utama itu sebagai hadiah pernikahan kita. Dan kamu? Kamu hanya bertugas duduk manis, tanda tangan, lalu diam-diam menguras uangnya untuk membelikan tas dan menyewa ruko untuk perempuan murahan."


"Aku khilaf, Bel! Tolong, jangan bawa polisi. Adel yang terus memeras Mas!" Rizwan mulai terisak, tangis yang terlihat begitu palsu dan memuakkan.


"Terlambat, Mas." Aku berbalik, berjalan santai menuju pintu utama. "Kopermu ada di garasi. Waktumu sepuluh menit sebelum aku memanggil satpam kompleks untuk menyeretmu keluar."


Rizwan tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Dengan langkah gontai dan wajah sembap, ia berjalan menuju garasi. Aku berdiri di ambang pintu, bersedekap dada mengawasinya.


Laki-laki itu meraih gagang koper hitam besarnya, lalu tangannya yang lain merogoh saku celana untuk menekan remote alarm mobil SUV hitam yang biasa ia pakai.

Mobil itu diam saja. Tidak ada bunyi atau kedipan lampu.


Rizwan menekan tombol itu berkali-kali dengan panik, sebelum akhirnya menoleh ke arahku dengan tatapan putus asa.


Aku mengangkat tangan kananku, memutar-mutar kunci mobil SUV tersebut di telunjukku. Kunci cadangan yang selalu kusimpan rapi.


"Lupa dengan ucapan Pak Yuda tadi?" tanyaku dengan senyum mengejek. "Mobil ini aset perusahaan. Hak pakaimu sudah dicabut. Silakan jalan kaki ke depan kompleks, Mas. Udaranya sedang cerah, cocok untuk orang yang baru mulai hidup dari nol lagi."


Rahang Rizwan mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang tak bisa ia lampiaskan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyeret koper berat itu keluar dari gerbang rumah. 


Terdengar kasak-kusuk tetangga yang kebetulan sedang menyiram tanaman, menatap heran ke arah direktur terhormat yang kini berjalan gontai menyeret koper layaknya gelandangan.


Begitu siluet Rizwan hilang di ujung jalan, ponselku bergetar. Pak Dimas menelepon.


"Bagaimana di Sudirman, Pak Dimas? Adel sudah angkat kaki dari rukoku?"


"Ada sedikit kejutan, Bu Bela," suara Pak Dimas terdengar lebih serius dari biasanya. 


"Adel memang sedang menangis histeris di dalam karena staf kami mulai mengunci pintu. Tapi, dia tidak sendirian. Ada seseorang yang datang melabrak staf kami, menyuruh preman bayaran untuk menghancurkan karangan bunga Ibu, dan bersikeras bahwa ruko ini adalah hadiah dari putranya."


Keningku berkerut. 


"Putranya?"


"Iya, Bu. Ibu mertua Anda, Bu Lastri. Beliau baru saja datang membawa tumpeng untuk peresmian butik, dan sekarang sedang memaki-maki staf kami di depan umum."


Sebuah tawa sinis meluncur dari bibirku. Ternyata drama ini jauh lebih busuk dari yang kukira. Ibunya sendiri merestui hubungan gelap putranya? Fantastis.


"Oh, ibu mertuaku ikut meresmikan butik pelakor itu? Sempurna," ucapku dengan nada sedingin es. 


"Biarkan saja mertuaku tersenyum lebar untuk difoto hari ini, Pak Dimas. Karena besok pagi, aku sendiri yang akan datang membawa surat sita jaminan untuk rumah mewah yang ditinggalinya. Kita lihat, ke mana lintah darat ibu dan anak itu akan pindah setelah tahu rumah itu juga berdiri di atas tanah milikku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...