"Dasar anak gembel tak berguna! Berani-beraninya kamu menghilangkan kalung berlian kesayanganku, hah?!"
Pecahan piring keramik itu terlempar dan hancur berkeping-keping tepat di ujung kakiku, menggores kulit hingga meneteskan darah.
Namun, rasa perih di kakiku tak sebanding dengan hinaan yang baru saja meluncur dari mulut wanita yang membesarkanku.
Ibu menatapku dengan raut wajah penuh kebencian, seolah aku adalah kotoran paling menjijikkan di rumah ini.
Di belakang Ibu, adik bungsuku, Riko, melipat tangan di dada dengan senyum sinis.
"Sudah miskin, numpang hidup, sekarang jadi maling. Benar-benar sampah keluarga! Lempar saja dia ke jalanan, Bu!"
"Mas Biru bukan pencuri!"
Tiba-tiba, sepasang lengan mungil memeluk lenganku erat. Alika, istriku, menjatuhkan diri berlutut di depanku, melindungiku dari tatapan bengis mereka. Air matanya bercucuran deras membasahi pipinya yang pucat.
"Ibu, tolong jangan fitnah Mas Biru. Seharian ini dia sibuk bekerja di luar. Kami memang miskin, tapi kami tidak akan pernah mencuri!"
"Halah! Istri sama suami sama-sama parasit! Drama!" Ibu menendang sebuah tas pakaian lusuh ke arah kami dengan kasar.
"Keluar kalian berdua dari rumah ini! Malam ini juga! Aku tidak sudi menampung gembel dan pencuri di rumah mewamku!"
Aku menatap Alika. Bahunya bergetar hebat.
Keluarga ini selalu merendahkannya, menganggapnya wanita kampung yang tak pantas masuk ke keluarga terpandang ini.
Namun, di saat aku diinjak-injak, dialah satu-satunya yang pasang badan.
"Kamu yakin mau membelaku, Alika?" tanyaku pelan, menatap matanya dalam-dalam. "Kalau kamu keluar dari pintu ini bersamaku, kamu tidak akan punya apa-apa."
Alika mengusap air matanya dengan kasar, lalu menggenggam tanganku erat. Sorot matanya begitu teguh.
"Harta bisa dicari, Mas. Tapi suami sebaik dirimu tidak akan pernah kutemukan lagi. Aku rela tidur di emperan toko malam ini, asalkan kita tetap bersama."
Mendengar itu, pertahananku runtuh. Bukan karena sedih, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.
Tiga tahun lamanya aku menyembunyikan identitas asliku, hidup dalam balutan kemiskinan dan hinaan di keluargaku sendiri hanya untuk mencari satu hal: ketulusan.
Dan malam ini, wanita di sampingku telah membuktikannya, sementara keluarga kandungku telah membuangnya.
"Bagus! Pergi kalian sana dan jangan pernah kembali!" usir Ibu sambil membanting pintu utama dengan keras.
Angin malam berhembus dingin saat kami melangkah keluar dari pagar tinggi rumah yang menganggapku benalu itu. Alika menggigil, merapatkan jaket tipisnya.
Aku tersenyum tipis. Sorot mataku yang tadinya sayu dan mengalah, kini berubah tajam dan dingin.
Sudah cukup aku bermain drama menjadi pria miskin yang tak berdaya.
Aku merogoh ponsel dari saku celana lusuhku, mengetik sebuah pesan singkat. Tak sampai dua menit, deru mesin halus memecah kesunyian malam.
Lampu menyilaukan menyorot ke arah kami, sebelum sebuah mobil hitam pekat yang mengkilap berhenti mulus tepat di depan kaki kami.
Seorang pria berjas rapi dan bersarung tangan putih bergegas turun dari kursi kemudi. Ia membukakan pintu penumpang belakang, lalu menunduk 90 derajat di hadapanku.
"Maaf kami membuat Anda menunggu di luar yang dingin ini, Tuan Muda Biru."
Alika tersentak mundur. Ia menatap pria berjas itu, lalu menatap mobil mewah di depannya, dan terakhir menatapku dengan mata membelalak sempurna. Mulutnya terbuka, seolah kehilangan kata-kata.
"M-mas? I-ini mobil siapa? Dia memanggilmu apa tadi?"
Aku membelai rambut Alika dengan lembut, lalu menuntunnya masuk ke dalam jok kulit mobil yang hangat.
"Mulai malam ini, kamu tidak akan pernah menangis lagi karena kemiskinan, Sayang."
Tanpa membiarkan Alika mencerna apa yang baru saja terjadi, aku menempelkan ponsel ke telingaku. Rahangku mengeras saat menatap sinis ke arah balkon rumah keluargaku yang masih terang benderang.
"Halo, Asisten Leon. Batalkan suntikan dana miliaran untuk perusahaan keluargaku malam ini juga. Blokir semua akses bank, dan biarkan mereka hancur mengemis di kakiku besok pagi!"
***
Bab 2
"Hapus air matamu, Alika. Karena mulai detik ini, gaun lusuhmu akan kuganti dengan sutra, dan setiap tetes air matamu akan kubayar dengan kehancuran mereka."
Kata-kataku mengudara di dalam kabin mobil yang senyap dan kedap suara. Alika masih mematung, tubuhnya kaku tenggelam di jok kulit premium yang empuk. Matanya yang sembab menatapku seolah aku adalah hantu yang baru saja bangkit dari kubur.
"M-mas Biru, ini sebenarnya apa? Mobil ini, asisten ini ..."
Alika terbata, tangannya gemetar saat mengelus kemudi sandaran tangan yang terbuat dari kayu mahoni asli.
"Kamu ... kamu bukan supir pocokan seperti yang selama ini Ibu bilang, kan?"
Aku menghela napas panjang, meraih kedua tangan istriku yang dingin dan mengecupnya lembut.
Sudah saatnya topeng ini kubuka sepenuhnya di hadapan satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku.
"Maafkan aku karena merahasiakan ini darimu selama tiga tahun pernikahan kita, Sayang," ucapku lembut.
"Namaku Biru Adhitama. Aku adalah CEO sekaligus pewaris tunggal Adhitama Group. Pria miskin, pengangguran, dan benalu keluarga yang selama ini dihina oleh Ibuku sendiri hanyalah ujian yang kubuat untuk melihat siapa yang benar-benar peduli padaku saat aku berada di titik terendah."
Alika menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Adhitama Group? P-perusahaan raksasa yang menguasai perekonomian negara ini?"
Aku mengangguk mantap. Dulu, setelah Ayah meninggal, Ibu mengambil alih seluruh warisan dan memberikannya pada Riko, adik tiriku yang selalu dianakemaskan.
Mereka mengira aku hancur dan menjadi gembel, tanpa tahu bahwa di balik layar, aku membangun kekaisaran bisnisku sendiri hingga menjadi triliuner yang memonopoli industri.
Mobil mewah kami akhirnya melambat dan memasuki sebuah gerbang besi menjulang tinggi.
Sepanjang jalan masuk, deretan lampu kristal menerangi taman seluas lapangan golf. Tepat di ujung jalan, sebuah mansion bergaya Eropa klasik berdiri megah layaknya istana.
Begitu mobil berhenti, puluhan pelayan berseragam rapi sudah berbaris menunduk di depan pintu utama.
"Selamat datang di rumah, Tuan Besar Biru! Selamat datang, Nyonya Besar Alika!" sapa mereka serempak, suaranya menggema memecah keheningan malam.
Alika nyaris pingsan jika aku tidak menahan pinggangnya.
Malam itu juga, istriku yang terbiasa mencuci piring dengan air dingin dan memakai baju loak, dilayani bak seorang ratu. Ia dimanjakan di ruangan spa pribadi mansion, lalu tertidur pulas di atas ranjang king size berbalut sutra terbaik.
Aku memandangi wajah damainya. Tidak akan ada lagi yang berani menyakitinya. Tidak akan pernah.
***
Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Aku berdiri di depan cermin raksasa, membiarkan asisten Leon merapikan kerah jas Armani pesanan khusus yang melekat sempurna di tubuhku.
Aura pria miskin yang tertindas sudah menguap tak bersisa, digantikan oleh ketegasan seorang predator puncak.
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di atas nakas berdering nyaring. Nama 'Ibu' berkedip di layar.
Aku melirik Alika yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah sutra yang membuatnya terlihat sangat cantik dan elegan.
Aku memberi isyarat padanya untuk mendekat, lalu menekan tombol loudspeaker.
"Biru! Biru, anakku sayang! Tolong Ibu, Nak! Perusahaan keluarga kita hancur lebur pagi ini! Semua investor membatalkan kontrak sepihak dan bank menyita aset kita! Tolong pinjamkan Ibu uang dari bosmu, Ibu tahu kamu bekerja pada orang kaya yang punya mobil mewah semalam!"
Suara histeris dan isak tangis Ibu terdengar memelas dari seberang telepon. Benar-benar musik yang indah di telingaku.
Aku tersenyum miring, menatap tajam pantulan diriku di cermin sambil merangkul erat pinggang istriku.
"Pinjam uang pada bosku? Maaf, Nyonya. Bos yang Anda maksud saat ini sedang sibuk memeluk istrinya, wanita yang semalam Anda sebut gembel dan Anda tendang ke jalanan."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar