Sabtu, 18 April 2026

Kecelakaan Membuatku Divonis Lumpuh, tapi Keluargaku justru Memanfaatkannya untuk Merebut Hartaku. Hanya Istriku yang Setia Merawatku. Setelah Aku Sembuh, Kurebut Kembali Semuanya dan Kumiskinkan Keluargaku!

 


"Bawa istrimu yang bunting itu dan angkat kaki dari sini! Laki-laki sepertimu cuma jadi benalu. Oh ya, terima kasih atas tanda tangan paksaanmu kemarin. Perusahaanmu kini resmi menjadi milikku!"


Gema tawa arogan Baskoro, kakak tiriku, masih terus mengiris telingaku, berpadu dengan suara rintik hujan yang membasahi atap seng bocor di atas kami. 


Pintu besi rumah mewah yang dulu kubangun dengan keringat dan darahku sendiri telah dibanting tepat di depan wajahku, menyisakan aku yang terduduk tak berdaya di atas kursi roda ini.


Aku menatap nanar sekeliling ruangan berukuran tiga kali empat meter yang pengap ini. Bau apek menguar dari dinding yang berjamur. 


Di sudut ruangan, Laras, istriku yang tengah mengandung tujuh bulan, duduk bersimpuh beralaskan tikar tipis.


Ia membelakangiku, bahunya bergetar pelan.


Kudorong roda kursiku dengan susah payah mendekatinya. Hatiku hancur berkeping-keping saat melihat apa yang sedang ia sembunyikan dariku. 


Di tangannya, terdapat sebuah piring plastik kusam berisi nasi putih yang sudah dingin, hanya disiram dengan kuah air putih dan sejumput garam. Tidak ada lauk. Tidak ada gizi untuk bayi kami.


"Laras," panggilku parau.


Laras tersentak. Ia buru-buru menyeka sudut matanya, memaksakan seulas senyum yang terlihat begitu pedih di wajah pucatnya. 


"Eh, Mas Rendra sudah bangun? Maaf ya, Mas. Laras makan duluan. Tadi Laras sudah makan pakai ayam goreng yang dikasih tetangga, ini cuma ... cuma ngabisin sisa nasi saja."


Pembohong. Istriku pembohong yang paling buruk. 


Aku melihat sendiri Siska, istri Baskoro, sengaja menumpahkan sayur sisa ke tanah tadi siang saat Laras meminta sedikit makanan untukku, sambil memakinya sebagai gembel pembawa sial.


Tanganku mengepal erat hingga buku-buku jariku memutih. Rasa tidak berguna menghantam dadaku bertubi-tubi. 


Gara-gara kecelakaan sialan yang memutus saraf kakiku tiga bulan lalu, aku kehilangan segalanya. 


Keluargaku merampas hakku, memanipulasi hukum, dan membuangku ke jalanan seperti anjing kurap. Dan kini, wanita yang paling kucintai harus menanggung neraka ini bersamaku.


"Mas jangan nangis, ya," Laras mengusap air mata yang tanpa sadar jatuh di pipiku. Tangan kasarnya yang dulu begitu lembut kini dipenuhi luka gores karena harus memulung botol bekas. 


"Selama kita bersama, Dedek bayi pasti kuat. Mas Rendra juga pasti sembuh. Laras nggak apa-apa makan seadanya, yang penting Mas harus tetap sehat."


Aku menarik Laras ke dalam dekapanku. Dadaku sesak oleh amarah yang mendidih dan sumpah serapah yang tertahan. 


Tunggu pembalasanku, Baskoro. Kalian semua akan membayar setiap tetes air mata istriku dengan darah dan kehancuran kalian!


***


Malam semakin larut. Laras akhirnya tertidur pulas di atas kasur tipis, meringkuk kedinginan sambil memeluk perut buncitnya.


Setelah memastikan napas Laras teratur, aku merogoh celah di bawah bantal kursi rodaku. 


Sebuah ponsel hitam tipis bersimbol elang perak, benda yang berhasil kusembunyikan dari perampasan Baskoro, menyala dalam kegelapan.


Sebuah pesan masuk dari nomor tak bernama.


[Tuan Rendra, proses akuisisi saham bayangan telah rampung 100%. Terapi saraf dari Dokter Han juga sudah menunjukkan hasil akhir. Kapan kita akan menghancurkan mereka?]


Kutatap kakiku yang divonis lumpuh permanen oleh dokter bayaran Baskoro. 


Dengan perlahan, kuturunkan kedua kakiku menjejak lantai semen yang dingin. Otot-otot yang tertidur itu menegang, namun perlahan, menyanggah berat tubuhku.


Ya, aku berdiri. Sempurna dan tegap.


Aku menyeringai dalam gelap, mengetikkan balasan yang akan mengubah takdir semua orang.


"Siapkan setelan jas hitam terbaikku dan kumpulkan seluruh direktur utama kita. Biarkan mereka berpesta, karena tepat di hari perayaan perusahaan minggu depan, aku akan datang untuk menghancurkan mereka."


***

Bab 2

"Jilat dulu tumpahan kopi di sepatuku ini, Laras! Setelah itu, baru aku akan berpikir untuk melemparkan uang lima puluh ribu ini agar kau bisa membeli obat penahan sakit untuk suamimu itu!"


Suara melengking Siska menggelegar di pelataran lobi gedung perusahaan yang megah itu. 


Beberapa karyawan, yang dulu selalu menunduk hormat padaku, kini hanya berani menonton dalam diam, tak sedikit yang menatap iba pada wanita hamil yang tengah bersimpuh di lantai marmer yang dingin.


Dari balik pilar besar tak jauh dari sana, aku mencengkeram erat pegangan kursi rodaku. Rahangku mengeras hingga gigiku gemeretak. 


Aku diam-diam mengikuti Laras karena curiga melihatnya keluar rumah pagi-pagi sekali dengan wajah pucat. 


Ternyata, istriku yang bodoh dan berhati malaikat ini nekat mendatangi kantor lamaku demi mengemis biaya pengobatanku pada orang-orang yang telah menghancurkan kami.


"Mbak Siska, tolonglah." Suara Laras bergetar, tangannya yang kurus memegangi perut buncitnya. 


"Mas Rendra semalaman merintih kesakitan karena kakinya kram. Laras mohon, pinjami Laras sedikit saja. Nanti kalau Laras sudah dapat uang dari hasil memulung, pasti Laras ganti."


Siska tertawa pongah, memamerkan tas branded keluaran terbaru yang kubeli dengan uang perusahaanku. 


"Mengemis kok pakai janji bayar pakai uang rongsokan? Dengar ya, Laras. Perusahaan ini sekarang milik Mas Baskoro! Dan kami tidak sudi mengeluarkan sepeser pun untuk ..."


"Berdiri, Laras."


Suaraku memotong tawanya. Terdengar tenang, namun mengandung hawa dingin yang membuat suhu di lobi itu seolah turun drastis.


Laras menoleh dengan mata terbelalak, air matanya langsung luruh. 


"Mas Rendra? Kenapa Mas ke sini? Mas kan lagi sakit."


Kudorong kursi rodaku mendekat. Tanpa mempedulikan tatapan jijik Siska, aku meraih tangan istriku, memaksanya untuk bangkit dari lantai. 


"Jangan pernah merendahkan harga dirimu, terlebih untuk berlutut di hadapan sampah seperti mereka."


"Berani kau memanggilku sampah, dasar pria sialan!" Siska memekik marah. Tangannya terangkat, bersiap menampar wajah Laras.


Namun, sebelum tangan berhias berlian itu menyentuh kulit istriku, sebuah suara bariton berat menggema dari arah pintu lift.


"Ada keributan apa ini di lobi perusahaanku?" Baskoro berjalan angkuh, mengenakan setelan jas yang ironisnya, adalah desain jas yang sama persis dengan yang biasa kukenakan dulu. Ia menatapku dengan ujung matanya. 


"Oh, ternyata ada gembel yang tersesat."


Baskoro melangkah mendekat, lalu dengan sengaja menjatuhkan sebuah amplop undangan berwarna emas berlogo perusahaan ke pangkuanku.


"Lusa adalah pesta perayaan akuisisi perusahaan ini, sekaligus pelantikanku sebagai CEO baru," ucap Baskoro dengan senyum mengejek. Ia membungkuk, berbisik tepat di telingaku. 


"Aku sengaja mengundangmu, Rendra. Datanglah. Aku ingin kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana aku menikmati semua hartamu, kekuasaanmu, dan kehidupan yang seharusnya milikmu. Ah, tapi jangan lupa pakai baju yang paling bagus, jangan sampai tamu VIP-ku muntah melihat bau busuk kalian."


Laras menangis tertahan di belakangku, tangannya meremas bahuku dengan gemetar. 


"Kita pulang, Mas. Laras mohon."


Aku menatap mata Baskoro, tak ada sedikit pun riak ketakutan di sana. 


Hanya ada jurang kematian yang sedang kusiapkan untuknya. Aku mengambil undangan emas itu, menyimpannya di saku kemeja lusuhku.


"Tentu," jawabku santai, sebuah senyum tipis yang mematikan tersungging di bibirku. 


"Aku pasti datang. Dan kupastikan, perayaanmu lusa akan menjadi malam yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu, Baskoro."


Malam harinya, di bawah temaram lampu jalan yang menyusup lewat jendela kontrakan reyot kami, aku berdiri tegap di depan cermin retak.


Tidak ada lagi Rendra yang lumpuh dan tak berdaya. Otot-ototku telah kembali pada performa puncaknya berkat tim medis rahasia yang kubawa dari luar negeri.


Di telingaku, terpasang sebuah alat komunikasi nirkabel berukuran mikro.


"Tuan," suara Dimas, asisten bayanganku yang paling setia, terdengar di seberang sana. 


"Semua persiapan untuk pesta lusa telah selesai. Seluruh bukti penggelapan dana dan manipulasi hukum yang dilakukan Baskoro sudah ada di tangan para pemegang saham utama. Puluhan pengawal elite kita juga sudah bersiaga menunggu perintah Anda."


Aku menatap pantulan diriku, lalu menoleh sekilas pada Laras yang tengah tertidur lelap di atas kasur tipis, tersenyum dalam mimpinya.


"Bagus," ucapku pelan, memecah kesunyian malam. 


"Biarkan mereka menikmati tidur nyenyak terakhirnya di atas kasur empuk hasil rampasan malam ini, Dimas. Karena lusa, aku sendiri yang akan mengantarkan mereka dari kursi kebesaran, langsung menuju jeruji neraka."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...