Bab 4
"Kau gila, Mas?! Berdiri! Jangan permalukan aku dengan berlutut di depan gembel yang bahkan tak mampu membeli obat batuk ini! Kau pasti sudah salah minum obat!" jerit Alina histeris. Ia menarik-narik kerah jas Danu dengan kasar, wajahnya merah padam menahan malu.
PLAAKK!!
Suara tamparan keras yang menggema di ruang tamu itu sukses menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
Alina terjerembap ke lantai marmer, memegangi pipinya yang memerah dengan mata terbelalak tak percaya. Ia menatap suaminya yang masih berlutut dengan napas memburu.
Tangan Danu yang baru saja menampar istrinya itu masih gemetar hebat di udara.
"Tutup mulutmu, jalang bodoh! Kau baru saja menghancurkan nyawa kita berdua!" bentak Danu dengan suara parau dan putus asa. Ia bahkan tidak peduli pada istrinya yang mulai menangis syok.
Danu kembali merangkak maju, memohon di bawah ujung sepatu pantofelku. Keringat dingin membasahi seluruh kemejanya hingga menembus jas mahal yang ia kenakan.
"Pak Tirta, Bu Resti. Saya mohon ampun! Istri saya ini bodoh, dia tidak tahu apa-apa! Tolong jangan pecat saya, Bu! Saya mohon, karir saya baru saja menanjak!" rengek pria yang usianya beberapa tahun di atasku itu, benar-benar membuang seluruh harga dirinya.
Aku menatapnya dingin. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di hatiku. Aku melirik Resti, menyerahkan panggung ini sepenuhnya pada istriku yang luar biasa.
Resti melangkah pelan, ujung sepatu hak tingginya berbunyi klik berirama, terdengar seperti ketukan palu hakim di telinga Danu.
Istriku bersedekap, menatap kakak kandungnya yang masih terduduk di lantai dengan pandangan merendahkan.
"Oh, jadi Mas Danu ini suami dari Mbak Alina? Pria hebat yang katanya baru saja dipromosikan menjadi Direktur Operasional di perusahaan agrikultur terbesar di kota ini?" sindir Resti dengan senyum miring yang mematikan.
Ia merogoh saku blazernya, mengeluarkan sebuah ponsel dan membuka sebuah dokumen digital. Layar itu ia putar dan tunjukkan tepat di depan wajah Danu yang pucat pasi.
"Sayang sekali, Mas Danu," lanjut Resti dengan nada halus namun menusuk.
"Manajer SDM memang merekomendasikan namamu ke mejaku pagi ini. Aku baru saja berniat menandatangani Surat Keputusan pengangkatanmu sebagai Direktur Operasional. Tapi melihat bagaimana istrimu yang luar biasa ini berniat mempekerjakan CEO-nya sendiri sebagai tukang cuci piring."
Resti menekan tombol berlogo tempat sampah merah di layar ponselnya. Delete.
"Mulai detik ini, kau bukan hanya gagal promosi, tapi kau resmi dipecat dengan tidak hormat. Silakan kemasi barang-barangmu dari kantorku, dan jangan harap ada perusahaan lain di kota ini yang mau menerima mantan karyawan yang masuk daftar hitam perusahaanku."
Mata Danu mendelik. Napasnya tercekat seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya.
Ia ambruk, benar-benar kehilangan tenaga, menyadari bahwa seluruh kerja kerasnya selama bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik hanya karena mulut sombong istrinya.
Sementara itu, Alina yang akhirnya menyadari situasi, merangkak mendekati kaki Resti. Kesombongannya menguap tak berbekas.
"Resti! Resti, tolong, Dek! Mbak minta maaf! Mbak khilaf! Tolong jangan pecat Mas Danu, cicilan rumah dan mobil mewah kami masih banyak! Kalau dia dipecat, kami mau makan apa?!" isaknya tersedu-sedu, mencoba meraih tangan adiknya.
Resti menarik kakinya mundur dengan anggun, menghindari sentuhan Alina seolah itu adalah kotoran.
"Makan saja uang tunai yang tadi kau lemparkan ke mejaku, Mbak. Pak Yanto!" panggil Resti tegas.
"Siap, Bu!" sahut Pak Yanto yang sudah bersiap di ambang pintu bersama dua petugas keamanan bertubuh kekar.
"Seret dua sampah ini keluar dari rumahku. Dan pastikan wajah mereka dilarang masuk ke seluruh fasilitas milik perusahaan kita."
Jeritan tangis Alina dan permohonan ampun Danu menggema mengiringi tubuh mereka yang diseret paksa keluar oleh petugas keamanan.
Pemandangan itu begitu memuaskan. Benalu di masa lalu kami kini benar-benar telah bersih.
Aku tersenyum, merangkul pinggang Resti dan mengecup pelipisnya.
"Kerja bagus, Sayang. Rumah ini akhirnya benar-benar terasa nyaman."
Namun, kelegaan kami hanya bertahan kurang dari lima menit.
Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi asing yang melangkah masuk ke ruang tamu tanpa permisi. Suara tepuk tangan pelan dan elegan mengalun, membuatku dan Resti serempak menoleh ke arah pintu utama.
"Luar biasa. Pertunjukan yang sangat menghibur, sungguh memanjakan mata." Suara wanita itu lembut, namun memancarkan aura dominasi yang pekat.
Di ambang pintu, berdirilah seorang wanita cantik dengan gaun hitam haute couture yang memeluk tubuh sempurnanya.
Wajahnya tertutup kacamata hitam besar, namun senyum sinis di bibir merah meronanya tak bisa disembunyikan. Ia melepas kacamatanya, menatapku lekat-lekat dengan sepasang mata tajam yang seolah menyimpan ribuan rahasia.
Wanita itu melangkah maju, melewati Pak Yanto yang entah kenapa mematung kaku tak berani mencegatnya, lalu mengulurkan sebelah tangannya yang dihiasi sarung tangan renda hitam ke arah Resti.
"Maaf saya datang tanpa diundang ke pesta syukuran ini, Nyonya Resti. Perkenalkan, saya Vanya," ucapnya dengan senyuman misterius yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Wanita yang seharusnya dinikahi oleh Tirta seandainya dulu dia tidak mendadak jatuh sakit dan miskin dan, ah ya, kebetulan saya adalah pemilik sah dari sertifikat tanah asli yang baru saja kalian bangun menjadi kerajaan agrobisnis triliunan rupiah itu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar