"Tanahmu? Jangan bermimpi di siang bolong, gembel! Sertifikat rumah mewah itu jelas-jelas atas namaku dan tersimpan sangat aman di brankas! Kau pikir bisa menggertakku dengan bualan murahan?!" tawa Ibu mertuaku meledak, menggema nyaring di sepanjang lorong VIP rumah sakit, diikuti kekehan sinis Viona.
Aku hanya tersenyum miring melihat raut wajah mereka yang begitu percaya diri.
Tepat saat itu, mesin EDC di meja administrasi berbunyi nyaring. Struk kertas panjang tercetak keluar. Suster jaga menelan ludah, menatapku dengan sorot mata penuh rasa hormat yang baru.
"P-pembayaran berhasil, Nyonya Cici. Total tiga ratus lima puluh juta untuk biaya perawatan VIP Bapak Ari selama satu tahun penuh sudah lunas," ucap suster itu dengan tangan sedikit gemetar saat menyerahkan kuitansi dan kartu prioritasku kembali.
Tawa Ibu mertuaku dan Viona seketika terhenti. Mulut mereka menganga lebar seperti ikan koi kehabisan napas. Mata Viona melotot seolah bola matanya akan melompat keluar melihat kuitansi resmi itu.
Uang tiga ratus lima puluh juta dibayar tunai dalam satu gesekan oleh wanita yang semalam baru saja mereka usir tanpa sepeser pun uang di saku!
"K-kau ... uang dari mana?! Itu pasti uang hasil pesugihan, kan?!" tuduh Viona dengan suara bergetar, wajahnya memucat.
Aku tidak mempedulikan ocehan konyolnya. Kulangkahkah kakiku mendekati Ibu mertua yang masih mematung kaku.
Aku mencondongkan tubuh, berbisik pelan tepat di telinganya.
"Silakan pulang dan peluk erat-erat sertifikat di brankas Ibu itu. Tapi jangan salahkan aku jika saat dicek ke BPN, kertas yang Ibu banggakan itu ternyata tak lebih dari sekadar sertifikat bodong hasil akal-akalan Bapak mertua untuk menutupi sifat borosmu."
Meninggalkan Ibu mertua yang mendadak pucat pasi dan mematung seperti patung es, aku melenggang masuk ke ruang rawat Mas Ari. Pintu kututup rapat, mengunci dunia luar yang bising.
Udara dingin ruangan ICU menyambutku. Di atas ranjang putih itu, suamiku terbaring tak berdaya dengan berbagai selang dan monitor pendeteksi jantung. Hatiku teriris.
Kubelai wajahnya yang pucat dengan lembut, menahan air mata yang mendesak keluar.
"Mas Ari, maafkan aku baru bisa melindungimu sekarang," bisikku sambil mencium punggung tangannya yang dingin.
"Dulu kamu yang selalu banting tulang demi menghidupi keluargamu yang lintah darat itu. Sekarang, tidurlah yang tenang, Mas. Biar istrimu ini yang membersihkan benalu di hidup kita. Aku akan mengambil kembali setiap tetes keringatmu yang mereka peras."
Setelah memastikan Mas Ari mendapatkan perawat terbaik, aku melangkah keluar dari rumah sakit. Angin malam menerpa wajahku, namun hatiku terasa panas oleh tekad yang membara.
Aku merogoh tas mahal baruku, mengeluarkan ponsel pintar keluaran terbaru yang baru kubeli tadi siang, lalu menghubungi sebuah nomor.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Halo, Pak Darmawan. Saya sudah mengirimkan salinan SHM asli dan surat kuasa ke email Anda. Siapkan surat pengosongan paksa beserta sepuluh pengawal berbadan tegap ke alamat rumah Ibu mertuaku besok tepat jam delapan pagi," ucapku dingin, tanpa keraguan sedikit pun.
"Jika mereka menolak keluar dan masih berani membual, jangan segan-segan perintahkan operator buldoser untuk meratakan gerbang utama dan garasi mereka saat itu juga."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar