"Sita?! Jangan gila kamu, dasar penipu berdasi! Rumah ini murni peninggalan almarhum suami saya, tidak ada sepeser pun uang dari perempuan penyakitan itu di sini!"
Jeritan Ibu melengking tajam, memecah ketegangan di ruang tengah. Wajahnya memerah padam karena amarah, sementara tangannya erat-erat menyembunyikan sisa uang gajianku di balik punggungnya.
Abizar yang tadinya santai kini ikut berdiri, menatap sang pengacara dengan tatapan menantang.
Pria berkacamata itu sama sekali tak gentar. Dengan senyum tipis yang tak mencapai mata, ia membuka koper kulit mahalnya dan mengeluarkan sebuah map merah berlambang emas, logo raksasa Adiwangsa Group.
"Begitukah, Nyonya? Kalau begitu, mari kita lihat dokumen pelunasan sertifikat rumah ini dua tahun lalu," ucap sang pengacara dengan nada tenang yang justru mengiris. Ia melemparkan selembar kertas bermeterai ke atas meja, tepat di sebelah kotak pizza yang masih hangat.
"Siapa yang Anda pikir melunasi utang almarhum suami Anda pada rentenir sebesar tiga ratus juta rupiah agar rumah ini tidak dilelang? Nona Jihan diam-diam menjual salah satu berlian pribadinya demi melindungi harga diri Tuan Dafa, agar suaminya tidak perlu menanggung aib keluarga!"
Napas Ibu seketika tertahan. Matanya membelalak lebar melihat tanda tangan dan bukti transfer yang tertera jelas di atas kertas itu.
Sementara aku? Kakiku seketika lemas hingga aku jatuh terduduk di lantai yang dingin.
"Utang rentenir apa, Bu?" suaraku bergetar hebat. "Dua tahun lalu Ibu bilang sertifikat rumah ini aman. Ibu bilang uang gajianku yang Ibu minta setiap bulan itu untuk ditabung! Jadi selama ini, Jihan yang diam-diam menyelamatkan rumah ini?!"
Ibu gelagapan, wajah angkuhnya mulai runtuh digantikan kepanikan.
"Itu ... itu pasti dokumen palsu! Dafa, jangan percaya pembohong ini!"
"Dan untuk motor sport ini," lanjut sang pengacara tanpa mempedulikan bantahan Ibu. Ia memberi isyarat, dan salah satu pria berbadan tegap di belakangnya langsung maju, merampas kunci motor dari tangan Abizar dengan kasar.
"Hei! Apa-apaan ini?! Itu motorku!" teriak Abizar tak terima.
"Dealer tempat Anda mengambil motor ini siang tadi adalah anak perusahaan Adiwangsa Group. Transaksi Anda resmi dibatalkan karena menggunakan uang hasil pemerasan terhadap pewaris sah kami. Bersiaplah, karena besok pagi kalian harus angkat kaki dari rumah ini. Tim kami akan datang untuk mengosongkan aset."
Pengacara itu menutup kopernya dengan bunyi yang terdengar bagai palu godam di telingaku.
Ibu langsung jatuh terduduk di sofa, menangis histeris meratapi nasibnya, sementara Abizar mengumpat frustrasi.
Semua kemewahan palsu yang mereka banggakan hancur lebur dalam hitungan menit.
Aku menunduk dalam-dalam. Air mata kembali mengalir membasahi wajahku yang kusam.
Aku merasa menjadi manusia paling hina di muka bumi. Istri yang kuanggap selalu merepotkan ternyata adalah malaikat tak bersayap yang mengorbankan segalanya demi aku dan keluargaku.
Pengacara itu membalikkan badan, bersiap untuk pergi. Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arahku yang masih bersimpuh tak berdaya di lantai. Tatapannya menyorotkan rasa kasihan sekaligus kebencian yang mendalam.
"Semua penyitaan dan kemiskinan ini hanyalah bunga ringan dari hutang Anda, Tuan Dafa. Kehancuran Anda yang sesungguhnya baru akan dimulai besok," ucap pengacara itu pelan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang menghujam jantungku.
"Tuan Besar Adiwangsa meminta Anda bersiap. Karena besok pagi, seluruh dunia akan tahu bahwa obat pereda nyeri kanker Jihan tidak pernah bekerja, karena ibu kandung Anda sendiri yang diam-diam menukarnya dengan vitamin murah demi menghemat uang belanjanya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar