Sabtu, 18 April 2026

(3) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!


Bab 4

 "Satpam, cepat seret perempuan kampung ini keluar! Berani-beraninya kamu menyewa baju mahal dan menyusup ke lobi VIP kantorku hanya untuk mengemis jatah bulanan, Jannah?!"


Suara lantang Hakim membelah kesunyian lobi utama gedung pencakar langit Grup Wiryawan. 


Wajah pria itu merah padam, campuran antara terkejut, marah, dan malu. Matanya menatap nyalang ke arahku, menelanjangi penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Aku tidak lagi mengenakan gamis katun polos yang memudar warnanya. 


Pagi ini, aku menghabiskan waktu dua jam di salon eksklusif. Rambutku ditata sempurna, wajahku dipoles riasan elegan yang menonjolkan tulang pipiku, dan tubuhku dibalut setelan blazer wanita berwarna navy dengan potongan tegas yang dirancang khusus oleh desainer luar negeri. 


Sepasang stiletto mengkilap menyempurnakan langkahku.


Banyak karyawan yang berlalu-lalang sempat menghentikan langkah, berbisik kagum melihat penampilanku yang mereka pikir adalah tamu VIP penting. 


Sampai akhirnya, Manajer Pemasaran bernama Hakim ini datang merusak suasana.


"Mengemis?" Aku menyunggingkan senyum tipis, memutar pelan cincin berlian berpotongan zamrud di jari manisku. 


"Memangnya sisa gajimu bulan ini cukup untuk membayar satu kancing blazerku, Mas?"


Mendengar nada bicaraku yang tenang namun menusuk, harga diri Hakim seolah diinjak-injak. 


Ia melangkah maju dengan kasar, nyaris mencengkeram lenganku jika saja ia tidak ingat sedang berada di lobi kantor.


"Jangan gila hormat kamu, Jannah! Kamu pikir dengan berdandan sok kaya begini aku akan luluh?!" desis Hakim tajam, melirik panik ke arah pintu masuk utama. 


"Dengar, ya! Hari ini Direktur Utama kami yang baru, pewaris tunggal Grup Wiryawan, akan datang meninjau! Kalau beliau atau dewan direksi melihat ada gembel pencari sensasi sepertimu di sini, karierku bisa hancur! Pulang sekarang sebelum aku memanggil polisi!"


Aku menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan tatapan penuh rasa kasihan. Betapa butanya laki-laki ini. 


Tiga tahun tidur denganku, namun ia tidak pernah benar-benar tahu siapa wanita yang ia ceraiberaikan hatinya demi seorang wanita simpanan berkelas abal-abal.


"Bagaimana kalau aku tidak mau pulang, Mas?" tantangku pelan. "Bagaimana kalau aku bilang, hari ini aku punya jadwal meeting penting di gedung ini?"


Hakim tertawa meremehkan, tawa yang terdengar sangat sumbang. 


"Meeting? Istri yang kerjanya cuma menyetrika daster mau meeting dengan siapa di perusahaan multinasional ini? Tukang kebun?!"


Tiba-tiba, suara derap langkah teratur dan tegas terdengar dari arah lift eksekutif. 


Empat orang pria berjas hitam rapi berjalan bergegas membelah lobi, dipimpin oleh pria paruh baya berkaca mata, Pak Dirman, asisten eksekutif tertinggi di Grup Wiryawan.


Melihat rombongan itu mendekat, wajah Hakim memucat. Kepanikannya memuncak. 


Ia segera menunduk hormat, mencoba tersenyum canggung ke arah Pak Dirman sambil berusaha mendorong bahuku untuk menyingkir.


"S-selamat pagi, Pak Dirman!" sapa Hakim gugup. 


"Mohon maaf atas pemandangan yang tidak menyenangkan ini. Ini ... eh, ini orang gila yang kebetulan nyasar masuk. Saya jamin dalam satu menit dia sudah dibersihkan dari lobi agar tidak mengganggu penyambutan Ibu Direktur Utama."


Pak Dirman tidak merespons senyuman canggung Hakim. Tatapan asisten setiaku itu dingin, sedingin es, sebelum akhirnya berhenti tepat di hadapanku.


Dan di detik berikutnya, sesuatu yang akan menghancurkan kewarasan Hakim terjadi.


Pak Dirman, pria yang paling ditakuti dan dihormati oleh seluruh jajaran direksi, tiba-tiba membungkukkan badannya sembilan puluh derajat ke arahku, diikuti oleh keempat pengawal di belakangnya.


"Maaf atas kelancangan karyawan ini, Bu Jannah," ucap Pak Dirman dengan suara lantang dan penuh hormat, mengabaikan rahang Hakim yang seolah baru saja lepas dari engselnya. 


"Ruangan Direktur Utama sudah siap untuk Anda tempati. Dan mengenai Manajer Pemasaran yang tidak tahu sopan santun ini, apakah Ibu ingin memecatnya sekarang di lobi, atau membiarkannya menangis memohon ampun nanti setelah jam makan siang?"


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...