Bab 3
"Buang semua baju kampungan si Yuni dan barang rongsokan anak gila itu ke tempat sampah! Hari ini kita rayakan kebebasan kita, Bagas. Rumah mewah ini akhirnya mutlak jadi milik kita seutuhnya!"
Suara tawa melengking Ibu terdengar begitu congkak dari speaker tablet di pangkuanku.
Pagi ini, aku dan Yuni sedang duduk santai di kursi penumpang sebuah mobil mewah hitam mengkilap yang terparkir agak jauh dari gerbang rumah.
Kami sedang menonton siaran langsung dari kamera pengawas yang diam-diam dipasang oleh orang suruhanku di ruang tamu.
Penampilanku hari ini sudah berubah total seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi kemeja robek bau comberan. Aku mengenakan setelan jas rancangan desainer ternama.
Di sebelahku, Yuni tampak luar biasa memukau. Daster pudar dan wangi sabun cucinya telah berganti dengan gaun sutra elegan dan riasan natural yang membuat kecantikan aslinya terpancar sempurna.
Di layar tablet, terlihat Bagas sedang mengangkat cangkir kopi mahal, bersulang dengan Ibu yang asyik mengelus-elus map berisi sertifikat rumah.
"Tentu saja, Bu! Begitu pembeli bodoh itu mentransfer uang mukanya jam sembilan nanti, kita langsung pergi ke mall beli mobil sport keluaran terbaru!" seringai Bagas dengan mata berbinar serakah.
Tepat pukul delapan pagi, ketukan tegas di pintu utama menghentikan khayalan konyol mereka.
Pintu terbuka, menampilkan Reno, asisten pribadiku, berdiri tegap diiringi empat pria berjas hitam dari firma hukum.
"Siapa kalian?! Berani-beraninya masuk ke rumah orang kaya sembarangan!" bentak Ibu berkacak pinggang, menatap sinis tamu tak diundangnya.
"Panggil aku Nyonya Rumah ini, dan cepat keluar dari sini!"
Reno tersenyum tipis, sangat dingin dan profesional.
"Maaf, Ibu. Klien saya secara khusus melarang kami memanggil Anda 'Nyonya'. Menurut beliau, panggilan Nyonya itu sama sekali tidak elegan, justru terdengar seperti sebutan untuk babu."
Wajah Ibu langsung merah padam menahan malu dan amarah. Belum sempat ia memaki, Reno sudah menyodorkan selembar surat resmi dengan kop firma hukum raksasa.
"Saya Reno, perwakilan hukum dari Tuan Aji. Saya membawa surat pencabutan hak tinggal. Bangunan ini beserta seluruh aset di dalamnya adalah hak milik mutlak klien saya. Mengingat kalian telah mengusir klien saya tadi malam, hak kalian untuk menumpang di rumah ini telah dicabut secara permanen. Silakan angkat kaki sekarang juga."
"Bohong! Omong kosong apa ini?!" teriak Bagas histeris. "Kakakku itu gembel gila! Dia sudah dicoret dari kartu keluarga!"
"Kalian punya waktu lima menit untuk membawa baju kalian sendiri. Jika tidak, kami yang akan menyingkirkannya ke jalanan," tegas Reno tanpa emosi, sama sekali tidak mempedulikan amukan mereka berdua.
Hanya butuh beberapa menit sampai keributan memalukan itu tumpah ke halaman depan. Koper-koper berisi pakaian Ibu dan Bagas diletakkan di luar pagar oleh tim keamanan.
Tetangga-tetangga yang dulu sering dihasut Ibu untuk membenci Yuni kini berkerumun, berbisik-bisik sinis melihat tontonan gratis di pagi hari.
Aku memberi isyarat pada sopir. Mobil yang kami tumpangi meluncur pelan, membelah kerumunan tetangga, dan berhenti tepat di depan gerbang rumah.
Sopir segera turun dan membukakan pintu untukku. Begitu sepatu kulit mahalku menyentuh aspal jalanan perumahan, suasana mendadak hening.
Ibu dan Bagas yang sedang mengutuk-ngutuk di pinggir jalan mendadak mematung. Rahang mereka nyaris jatuh ke tanah.
Mata mereka membelalak ngeri melihatku keluar dengan karisma seorang CEO konglomerat, lalu mengulurkan tangan untuk menuntun Yuni yang melangkah turun bak seorang ratu. Reno dan seluruh tim pengacara serempak menunduk hormat.
"A-Aji? I-itu beneran kamu, Nak? K-kamu nggak gila?" suara Ibu gemetar parah. Kakinya lemas seketika, melihat anak yang semalam ia ludahi kini berdiri dengan kekayaan yang tak bisa ia jangkau seumur hidupnya.
Tiba-tiba saja wajah bengisnya berubah memelas, mencoba melangkah mendekatiku dengan senyum canggung.
"Syukurlah kamu sembuh, Nak. Ibu ... Ibu seneng banget."
Aku menatap wanita yang telah melahirkanku itu dengan tatapan sedingin es, lalu menyunggingkan senyum miring yang mematikan.
"Maaf, Ibu mencari siapa? Anak gila Ibu sudah mati tadi malam di jalanan berdebu saat Ibu mengusirnya. Saya Tuan Aji, bos utama A-Corp, dan ini istri saya, ratu satu-satunya di istana ini. Tolong jangan halangi jalan masuk mobil saya, atau saya harus menyuruh petugas kebersihan untuk menyingkirkan kalian berdua ke tempat pembuangan akhir."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar