"Perusahaan ini tidak menerima pengemis, apalagi pria berengsek yang memberikan surat cerai tepat di depan nisan ayah mertuanya demi seorang janda."
Map cokelat berisi dokumen lamaran kerja itu jatuh begitu saja dari tangan Devan. Tubuhnya kaku, seolah aliran darahnya baru saja berhenti.
Dengan napas tertahan dan mata membelalak lebar, ia mendongak, menatap sosok wanita yang duduk angkuh di kursi kebesaran CEO.
Ruangan mewah di lantai empat puluh itu mendadak terasa kehabisan oksigen bagi Devan.
Setelan jasnya yang sudah memudar dan terlihat kebesaran di tubuh kurusnya, berbanding terbalik dengan keanggunan wanita di hadapannya.
Itu aku. Hani. Istri yang ia buang seperti sampah lima tahun lalu.
"H-Hani? T-tidak mungkin."
Suara Devan bergetar hebat. Kakinya lemas, hingga tanpa sadar ia terhuyung mundur dan membentur meja kaca di belakangnya.
"Bukannya kamu koma? Kamu ... kamu kecelakaan waktu itu!"
Aku tersenyum miring, menyandarkan punggung pada kursi kulit mahal ini sambil melipat tangan di dada.
Kepanikannya adalah hiburan paling menyenangkan yang sudah kutunggu selama bertahun-tahun.
"Kecewa melihatku bernapas, Devan?" balasku dingin.
"Sayang sekali, kecelakaan mobil di hari hujan itu tak cukup untuk membunuhku. Tuhan sepertinya tahu aku harus bangun untuk melihat kehancuranmu."
Lima tahun lalu, tepat di hari pemakaman ayahku, Devan menyodorkan draf perceraian.
Ia muak hidup dengan wanita yang ia anggap 'beban', lalu memilih berlari ke pelukan Viona, janda kaya yang memberikannya modal bisnis.
Di tengah duka dan tangis, aku mengemudi tanpa arah hingga mobilku tergelincir hebat.
Berbulan-bulan aku koma di ranjang rumah sakit.
Jangankan menjenguk, Devan sibuk menggelar pesta pernikahan mewahnya dengan Viona.
Ia tak tahu, saat aku akhirnya terbangun, aku mewarisi seluruh perusahaan rahasia milik mendiang ibuku di luar negeri.
Dan sekarang, roda nasib berputar. Bisnis Devan bangkrut total karena gaya hidup boros Viona, menyisakan tumpukan utang yang mencekiknya setiap malam.
Aku memungut berkas lamaran kerjanya yang jatuh di atas mejaku dengan ujung pena, lalu membolak-baliknya dengan tatapan jijik.
"Mantan Direktur Utama memohon posisi Manajer Pemasaran?" Aku berdecak pelan.
"Kudengar rumahmu sudah disita bank minggu lalu, dan janda kesayanganmu itu mulai uring-uringan karena tak bisa arisan berlian lagi."
"Hani, tolong." Devan tak sanggup lagi berdiri. Pria arogan yang dulu meludahiku itu kini ambruk, berlutut lemas tepat di bawah kakiku.
Wajahnya pucat pasi, penuh keputusasaan.
"Aku benar-benar butuh pekerjaan ini. Viona terus menuntut, dan rentenir mengejarku. Tolong, Hani. Demi masa lalu kita."
Aku menatapnya lurus, membiarkan keheningan yang menyiksa menguasai ruangan sejenak.
Perlahan, aku mencondongkan tubuh ke depan, menatap tepat ke manik matanya yang ketakutan.
"Tentu, aku akan mempekerjakanmu, Devan. Mulai besok pagi, kau resmi menjadi cleaning service pribadiku," ucapku dengan suara rendah yang mengiris.
"Tolak, dan pastikan kau serta janda parasitmu itu siap tidur di kolong jembatan malam ini juga karena kutarik semua aset terakhir kalian."
***
Bab 2
"Pungut noda debu di ujung sepatuku ini, Devan. Anggap saja pemanasan sebelum kau menyikat kloset ruanganku besok pagi."
Kata-kata itu meluncur mulus dari bibirku, sedingin es dan setajam silet.
Aku sengaja menggeser ujung sepatu hak tinggiku ke arahnya, menatap lurus ke arah pria yang masih berlutut kaku di atas karpet tebal ruanganku.
Rahang Devan mengeras. Wajahnya merah padam menahan luapan emosi dan harga diri yang baru saja kuinjak-injak hingga rata dengan tanah.
Dulu, pria ini adalah raja di rumah kami. Pria arogan yang selalu memerintahku dan menghinaku karena tak bisa membelikannya barang-barang bermerek.
Sekarang? Dia tak lebih dari pria pesakitan yang nyaris kehilangan napas karena himpitan utang.
Tangannya yang gemetar perlahan terulur. Dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca menahan penghinaan, Devan mengusap ujung sepatuku menggunakan lengan jasnya yang sudah lusuh.
"Bagus," ucapku tersenyum sinis, menarik kakiku kembali. "Datang jam enam pagi. Terlambat satu menit, gajimu kupotong setengah. Sekarang, keluar dari ruanganku."
Devan bangkit dengan susah payah.
Tanpa berani menatap mataku lagi, ia membalikkan badan dan menyeret langkahnya keluar dari ruangan. Punggungnya yang dulu selalu tegap kini terlihat begitu ringkih dan menyedihkan.
Satu jam kemudian, Devan tiba di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota. Bau selokan yang menguar dari luar jendela langsung menyambutnya.
Di ruang tamu yang berantakan, Viona, wanita yang dulu dipujanya bak dewi karena hartanya, sedang duduk mengikir kuku dengan daster murahan. Wajah cantiknya ditekuk masam.
Harta peninggalan mantan suami Viona sebelumnya sudah ludes terjual untuk menutupi kerugian perusahaan Devan yang hancur lebur bulan lalu.
"Dari mana saja kamu?! Lama sekali!" bentak Viona kasar begitu melihat Devan masuk. Matanya langsung memindai tubuh suaminya.
"Bagaimana interview-nya? Kamu diterima jadi Manajer Pemasaran, kan? Mana uang mukanya? Beras kita habis, Devan! Aku juga sudah tidak tahan pakai krim wajah murahan ini, kulitku jadi rusak!"
Devan mengusap wajahnya yang kasar. Kepalanya berdenyut nyeri melihat wanita yang dulu selalu tampil elegan itu kini tak ubahnya seperti istri cerewet yang menuntut.
Bayangan wajah angkuh Hani di kursi CEO tiba-tiba berkelebat, menampar kesadarannya.
Jika Viona tahu ia hanya diterima sebagai tukang bersih-bersih perusahaan, wanita ini pasti akan langsung mengamuk dan meninggalkannya.
"Aku ... aku diterima," bohong Devan dengan suara parau, memaksakan senyum di bibirnya.
"Aku diterima di perusahaan multinasional itu, Viona. Gajinya besar. Kita akan segera pindah dari tempat kumuh ini."
Mata Viona langsung berbinar serakah. Ia melempar kikir kukunya dan memeluk lengan Devan erat.
"Benarkah?! Ya ampun, sayang! Aku tahu kamu memang hebat! Kamu bos di sana, kan? Ah, akhirnya aku bisa ke salon lagi besok!"
Devan hanya tersenyum getir. Namun, kebahagiaan palsu itu tak bertahan lama. Tiba-tiba, ponsel Devan berdering nyaring.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Viona yang penasaran langsung merebut ponsel itu sebelum Devan sempat mencegahnya. Kening Viona berkerut membaca pesan yang muncul di layar, lalu menatap suaminya dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Devan, apa maksud pesan ini?!" jerit Viona dengan suara melengking, menodongkan layar ponsel ke depan wajah suaminya.
"Siapa wanita bernama Bos Hani ini?! Dan kenapa dia menyuruhmu mengambil seragam cleaning service dan sikat WC besok pagi?!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar