Bab 3
"Sita rumah ini?! Jangan mengada-ada! Ini rumah peninggalan ayah saya, berani-beraninya Anda mengancam akan merampas hak milik keluarga kami!"
Aku membentak ke arah layar ponsel yang retak itu, berusaha terdengar garang meski jantungku berdebar tak karuan.
Namun, alih-alih ciut, pria bersuara bariton di seberang sana justru tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang menggetarkan keberanianku hingga ke titik terendah.
"Hak milik? Sepertinya ingatan Anda sangat buruk, Tuan Fajar. Sebaiknya Anda periksa kembali dokumen hipotek bank yang Anda tanda tangani tahun lalu saat bisnis Anda nyaris hancur. Nona Muda kami yang melunasi seluruh hutang Anda dalam diam. Secara hukum, rumah yang Anda pijak sekarang adalah milik sah dari Nona Eli."
Panggilan diputus sepihak. Ponsel usang itu merosot dari tanganku, jatuh menghantam lantai dengan suara berdebum yang memekakkan telinga.
Tubuhku gemetar hebat. Ingatanku langsung terlempar pada krisis keuangan tahun lalu, di mana tiba-tiba saja pihak bank menyatakan hutangku lunas oleh seorang 'investor anonim'.
Aku selalu mengira itu adalah keajaiban, atau campur tangan relasi bisnis almarhum Ayah. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku bahwa dewa penolong itu adalah istriku sendiri, perempuan yang selalu mengenakan daster pudar dan memasak tempe goreng di dapurku.
"Fajar, siapa yang menelepon? Siapa yang mau menyita rumah kita?" Suara Ibu terdengar parau. Wajah rentanya kini seputih kapas.
Napasnya mulai tersengal, dan tangannya kembali meremas dada kirinya dengan kuat.
"Fajar, dada Ibu sakit sekali."
"Bu! Ibu kenapa?!" Aku panik bukan main, berlari merengkuh tubuh Ibu yang perlahan tumbang. "Kita ke rumah sakit sekarang, Bu! Bertahanlah!"
Kepanikan menguasaiku. Aku mengabaikan fakta bahwa kami mungkin akan menjadi gelandangan hari ini.
Kubopong tubuh Ibu menuju mobil, menginjak pedal gas dalam-dalam menuju rumah sakit swasta tempat Ibu biasa dirawat.
Begitu tiba di instalasi gawat darurat, beberapa perawat yang biasanya menyambut kami dengan senyum hormat kini terlihat ragu. Aku membaringkan Ibu di ranjang dorong sambil berteriak kalap.
"Panggil Dokter Handoyo sekarang! Siapkan kamar VVIP di lantai atas seperti biasa! Cepat, detak jantung ibuku melemah!"
Seorang petugas administrasi menghampiriku dengan wajah kaku.
"Maaf, Bapak Fajar. Status jaminan VVIP atas nama pasien sudah dicabut lima belas menit yang lalu oleh pihak sponsor utama kami. Jika Anda ingin pasien ditangani, Anda harus mendaftar di jalur umum dan menyetorkan deposit awal sebesar lima puluh juta rupiah ke kasir."
"Lima puluh juta?!" Mataku melotot.
Saldo di rekeningku tak sampai dua juta rupiah.
Selama ini, aku hidup berfoya-foya di atas kenyamanan yang rupanya disediakan oleh penderitaan istriku.
"Kalian gila?! Ibuku bisa mati kalau tidak segera ditangani!"
"Maaf, Pak. Itu adalah prosedur operasional kami."
Aku mengacak rambut frustrasi. Rasa tidak berdaya ini seolah mencekik leherku.
Aku menatap Ibu yang merintih kesakitan di atas ranjang dorong di lorong, tak ada satu pun dokter yang mau menyentuhnya tanpa bukti pembayaran.
Di tengah keputusasaan yang menenggelamkanku, suasana lobi rumah sakit tiba-tiba berubah senyap.
Direktur rumah sakit, ditemani beberapa jajaran manajemen tinggi, berjalan tergesa-gesa dengan sikap sangat menunduk, mengawal seorang perempuan yang baru saja melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis.
Langkah kaki perempuan itu berderap anggun. Ia mengenakan setelan blazer rancangan desainer ternama, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dengan rambut lurus berkilau yang dibiarkan tergerai.
Di belakangnya, seorang asisten pria berpakaian rapi yang memegang tablet, mungkin pria bernama Zayyan, atau siapa pun yang tadi berbicara di telepon, mengikutinya dengan langkah sigap.
Duniaku berhenti berputar saat perempuan itu perlahan melepas kacamata hitamnya.
Itu Eli.
Bukan Eli yang menunduk memunguti pakaian lusuhnya semalam. Ini adalah wujud asli dari seorang pewaris tahta yang menyamar menjadi orang biasa hanya demi pengabdian pada suaminya.
Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang, aku berlari menerobos kerumunan dan menjatuhkan diri tepat di depan langkahnya.
"Eli! Eli, tolong aku!" ratapku memilukan, bersimpuh di atas lantai marmer yang mengilap sambil mencoba meraih ujung sepatunya.
"Ibuku sedang sekarat di ruang gawat darurat! Tolong kembalikan fasilitas VVIP itu, bayar depositnya, aku mohon padamu, Sayang!"
Eli menghentikan langkahnya. Tak ada gurat keterkejutan di wajah ayunya. Ia menunduk menatapku dengan sorot mata yang tak lagi memancarkan kehangatan seorang istri yang tulus, melainkan keangkuhan absolut dari seorang penguasa yang sedang menatap seekor serangga.
"Ibumu sekarat karena kehilangan fasilitas dari perempuan melarat ini?" bisik Eli, melengkungkan senyum miring yang begitu dingin dan mematikan.
"Lalu, kenapa kamu memintanya padaku, Fajar? Bukankah semalam ibumu sendiri yang menyuruhku angkat kaki dari kehidupan kalian agar tak lagi menumpang hidup dari keringatmu?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar