Bab 4
"Jadi ini alasanmu memutus kontak dengan keluarga selama tiga tahun, Resti? Memilih hidup melarat dan menjadi pelayan rendahan di rumah ini demi mengabdi pada suami penyakitan yang bahkan sudah dibuang keluarganya sendiri?!"
Suara sepatu hak tinggi beradu kasar dengan lantai marmer, disusul oleh tawa meremehkan yang menggema di ruang tamu utama.
Aku dan Resti yang sedang mengecek desain interior baru rumah ini serempak menoleh.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan gaun merah mencolok dan tas branded di lekuk lengannya.
Tatapannya menyapu seisi ruangan dengan pandangan menilai, sebelum akhirnya berhenti padaku dan Resti dengan sorot penuh rasa jijik.
"Mbak Alina?" Resti memiringkan kepalanya sedikit.
Suaranya tetap tenang, sama sekali tidak terintimidasi melihat kedatangan kakak kandungnya, orang yang dulu paling keras menentang pernikahan kami dan menghasut keluarga Resti untuk membuangnya.
Alina melipat tangan di dada, melangkah angkuh mendekati kami. Matanya menatap penampilanku dari atas ke bawah.
Meski aku sudah sehat bugar dan mengenakan kemeja linen premium yang dijahit khusus, di mata Alina, aku mungkin masihlah Tirta yang dulu, pria pesakitan yang tak punya masa depan.
"Aku dengar keluarga Sanjaya hancur lebur dan rumah ini disita lalu dibeli oleh seorang bos besar," ucap Alina dengan nada mencemooh.
"Lalu temanku bilang melihatmu masuk ke gerbang ini. Ckckck, Aku kira kau sudah sadar dan mencari pria kaya, Resti. Ternyata kau malah menyeret suamimu yang tak berguna ini untuk melamar kerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah bos baru, ya?"
Aku tersenyum tipis, menahan tawa. Resti hanya menghela napas elegan, lalu menyandarkan tubuhnya ke lenganku dengan santai.
Sikap tak acuh kami jelas membuat rahang Alina mengeras.
"Ada perlu apa Mbak ke sini?" tanya Resti tanpa basa-basi.
Alina mendengus sombong. Ia membuka tas mewahnya, mengeluarkan segepok uang tunai, dan melemparkannya ke atas meja kaca di hadapan kami.
"Tinggalkan benalu ini, Resti. Ceraikan dia hari ini juga," perintah Alina mutlak.
"Suamiku, Mas Danu, baru saja dipromosikan menjadi Direktur Operasional di perusahaan agrikultur terbesar di kota ini. Kalau kau mau membuang pria itu, aku akan minta Mas Danu mempekerjakanmu sebagai staf kantoran. Gajinya jauh lebih besar daripada kau harus mengepel lantai rumah orang!"
Aku melirik tumpukan uang di meja itu, lalu menatap Alina dengan sorot mata geli.
"Tawaran yang menarik, Mbak Alina. Tapi sayangnya, istriku tidak tertarik menjadi bawahan di perusahaannya sendiri."
"Tutup mulutmu, Gembel!" bentak Alina dengan mata melotot. "Aku tidak bicara padamu! Kau pikir kau siapa berani menyela—"
Ucapan Alina terpotong oleh deru mobil mewah yang mengerem mendadak di halaman depan. Langkah kaki yang tergesa-gesa dan setengah berlari terdengar mendekat.
Seorang pria dengan setelan jas mahal yang basah oleh keringat menerobos masuk ke ruang tamu. Tangannya gemetar memegang sebuah parsel buah berukuran raksasa.
Itu Danu, suami Alina.
"Mas Danu? Kenapa lari-lari begitu?" Alina mengerutkan kening, nada suaranya langsung berubah manja. Ia berjalan menghampiri suaminya lalu menunjuk ke arahku dan Resti.
"Mas, lihat deh. Ada adikku dan suami gembelnya yang sedang melamar jadi pelayan di rumah ini. Usir saja mereka, Mas. Bikin kotor mata bos besar nanti kalau beliau tiba-tiba datang ke—"
Parsel buah itu jatuh berantakan ke lantai marmer. Wajah Danu pucat pasi, nyaris membiru. Matanya terbelalak ngeri menatapku dan Resti yang berdiri dengan aura penuh otoritas di tengah ruangan.
Seluruh tubuh pria itu gemetar hebat, seolah baru saja melihat malaikat pencabut nyawa.
Mengabaikan istrinya yang kebingungan, Danu tiba-tiba menjatuhkan diri, berlutut tepat di hadapan kami dengan napas memburu dan keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.
"Mas Danu! Apa-apaan kamu?! Kenapa kamu malah berlutut di depan gembel ini?!" jerit Alina histeris, berusaha menarik kerah kemeja suaminya untuk berdiri.
Namun, Danu justru menepis kasar tangan istrinya.
Dengan wajah bersimbah peluh dan ketakutan yang luar biasa, ia mendongak menatap wajah istrinya, meneriakkan kata-kata yang sukses membuat seluruh kesombongan Alina hancur berkeping-keping.
"Tutup mulutmu yang bodoh itu, Alina! Berlutut sekarang juga! Pria yang baru saja kau panggil gembel penyakitan itu adalah Pak Tirta, pemilik tunggal perusahaan tempatku bekerja, salah satu pria terkaya di kota ini, dan tuan rumah yang sebenarnya!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar