"Bu, tolong jangan bilang Mas Adi kalau Putri mengemis beras dan telur ke sini lagi. Dia bisa mengurung Putri semalaman di gudang gelap kalau sampai ketahuan."
Suara gemetar itu bagai petir di siang bolong bagiku. Aku menatap Putri, menantuku yang baru satu tahun dinikahi Adi.
Penampilannya sungguh mengiris hati. Daster batik yang ia kenakan bukan hanya kusam dan sudah pudar warnanya, tapi juga dipenuhi noda kecap dan minyak. Rambutnya lepek, diikat asal-asalan, dan kantung matanya menghitam seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.
"Ya Allah, Putri. Adi kan baru gajian dua hari yang lalu. Masa uang belanja sudah habis sampai kamu harus kelaparan begini?" tanyaku, tak bisa menyembunyikan nada getir dan rasa penasaran.
Putri menunduk, meremas ujung dasternya yang koyak. Air mata menetes jatuh ke lantai teras rumahku.
"Mas Adi, Mas Adi bilang uangnya untuk investasi masa depan, Bu. Putri cuma dikasih jatah lima puluh ribu untuk makan seminggu."
Jantungku mencelos. Lima puluh ribu untuk seminggu? Di zaman sekarang?
Aku segera masuk ke dapur dan membungkuskan beras, ayam, telur, dan beberapa sayuran ke dalam kantong belanja besar.
"Ini, bawa pulang. Masak yang enak. Jangan pedulikan omongan Adi. Nanti Ibu yang akan tegur dia," ucapku sambil menyodorkan kantong itu.
"Jangan, Bu! Tolong jangan tegur Mas Adi," cegah Putri panik, matanya membelalak ketakutan.
"Putri yang salah karena boros. Putri pamit dulu, Bu, Mas Adi pasti sudah nunggu makan siangnya."
Putri berlari kecil keluar dari pekaranganku sambil memeluk erat kantong kresek itu seolah itu adalah bongkahan emas.
Kejanggalan ini tidak bisa kubiarkan.
Adi, anakku satu-satunya, bekerja sebagai manajer di perusahaan bonafide.
Gajinya belasan juta rupiah. Rumah mereka, yang letaknya hanya beda satu gang dari rumahku, adalah rumah mewah hasil jerih payahnya.
Bagaimana mungkin istrinya sendiri dibiarkan kelaparan dengan penampilan seperti pengemis?
Selama ini aku diam karena mengira Putri memang suka berpenampilan sederhana jika di rumah.
Tapi kata-kata 'mengurung di gudang gelap' terus terngiang di telingaku, mengusik naluriku sebagai seorang ibu.
Dengan jantung berdebar kencang, aku memutuskan untuk menyusulnya diam-diam.
Aku berjalan mengendap-endap melalui pintu belakang pekarangan rumah mereka yang tidak dikunci. Langkahku terhenti di samping dapur.
Lewat celah jendela yang sedikit terbuka, aku bisa melihat ke dalam tanpa ketahuan.
Kulihat Putri sedang memasak dengan tergesa-gesa. Tubuhnya yang kurus tampak gemetar saat memotong sayuran. Tak lama, langkah kaki berat terdengar memasuki dapur.
Itu Adi. Anak kebanggaanku.
Ia tampil sangat rapi, wangi, dengan kemeja bermerek yang disetrika licin dan jam tangan mahal melingkar di pergelangannya.
Kontras sekali dengan istrinya yang tampak seperti asisten rumah tangga yang tak terurus.
"Sudah jadi belum makanannya?!" bentak Adi tiba-tiba, suaranya menggema keras di dapur.
Putri terlonjak kaget sampai spatula di tangannya nyaris jatuh.
"S-sebentar lagi, Mas. Ini ayamnya tinggal diangkat."
"Lama banget sih! Perempuan gak berguna! Cuma disuruh masak aja leletnya minta ampun!"
Aku menutup mulutku rapat-rapat. Air mataku luruh seketika.
Benarkah itu anakku? Benarkah pria kasar bermulut beringas itu adalah Adi yang selalu bersikap lembut dan sopan padaku?
***
Bab 2
Putri buru-buru menyajikan makanan itu di atas meja. Ia menunduk dalam-dalam saat Adi menghampiri meja makan.
Bukannya duduk, Adi malah menatap jijik hidangan di atas meja, lalu matanya menangkap bungkusan kresek berlogo minimarket yang tergeletak di dapur, kantong yang kuberikan pada Putri tadi.
"Dari mana kamu dapat ayam ini? Ngemis lagi kamu ke rumah Ibuku?!" rahang Adi mengeras.
"A-anu, Mas. Ibu yang maksa kasih."
PRAAANG!
Aku nyaris menjerit saat melihat Adi menepis piring berisi ayam goreng itu hingga hancur berantakan di lantai. Minyak dan serpihan kaca berserakan mengenai kaki Putri.
"Mas," isak Putri, langsung berjongkok memunguti pecahan piring dengan tangan gemetar ketakutan.
"Berapa kali aku bilang?! Jangan pernah bawa-bawa keluargaku untuk mengemis! Kamu mau bikin aku malu di depan Ibu, hah?!" bentak Adi. Ia menunduk, lalu dengan kejam mendorong kepala istrinya sendiri menggunakan ujung telunjuknya.
"Dengar baik-baik, gembel! Aku nikahin kamu cuma karena Ibu yang terus-terusan mendesakku! Tapi di rumah ini, derajatmu lebih rendah dari keset!"
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Amarahku sudah mendidih hingga ke ubun-ubun. Anak yang kubesarkan dengan penuh kasih sayang ternyata menjadi monster mengerikan bagi wanita lain.
Baru saja aku mengangkat tangan untuk mendobrak pintu dapur, langkahku terhenti mati oleh kalimat Adi selanjutnya.
"Cepat bersihkan kekacauan ini dan ganti daster busukmu itu dengan seragam pelayan! Lima belas menit lagi pacarku datang ke sini untuk makan siang, dan pastikan kamu melayaninya dengan baik kalau kamu masih mau numpang hidup di rumah ini!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar