Minggu, 03 Mei 2026

(2) Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

 


"Kau pasti salah dengar, Aryo! Berikan ponselnya padaku, biar Ibu yang bicara dengan kakakmu!"


Ibu merebut paksa ponsel dari tanganku yang masih gemetar. Wajahnya merah padam, menahan amarah bercampur ketidakpercayaan. 


Di matanya, Randi adalah sosok direktur utama yang tak tertandingi, mustahil tunduk pada ancaman siapa pun, apalagi orang luar.


Aku hanya bisa diam membeku. Udara di ruang tamu ini terasa menyusut, mencekik paru-paruku.


"Halo, Randi? Ini Ibu! Apa-apaan kau ini membentak adikmu dan bicara soal pemecatan malam-malam begini? Perusahaan ini milik keluarga kita, kau tidak bisa bertindak seenaknya apalagi gara-gara ancaman investor antah berantah—"


"Ibu diam saja, jangan ikut campur!"


Bentakan Randi dari loudspeaker terdengar begitu keras, membuat Ibu tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. 


Selama hidupnya, Randi tidak pernah sekali pun meninggikan suara pada Ibu. Anak kebanggaan itu selalu bicara lembut. Namun malam ini, kepanikan dan keputusasaan benar-benar telah menelan kewarasan kakakku itu.


"Ini bukan investor antah berantah, Bu! Ini pemegang saham mayoritas rahasia yang selama tiga tahun ini diam-diam mengalirkan dana agar perusahaan kita tidak bangkrut! Ibu tahu apa artinya? Kalau mereka menarik uangnya malam ini, besok pagi keluarga kita resmi jadi gembel di jalanan!"


Wajah Ibu seketika pias. Kosmetik mahalnya tak mampu menutupi warna pucat pasi yang kini merayapi kulitnya. Bibirnya bergetar hebat. 


"Lalu ... lalu kenapa mereka tiba-tiba marah dan menuntut adikmu dipecat? Aryo bahkan tidak memegang kendali proyek besar."


"Itulah yang membuatku mau gila, Bu!" raung Randi frustrasi, suaranya terdengar nyaring di tengah ruangan yang senyap. 


"Asisten eksekutif mereka meneleponku dengan marah. Mereka bilang ada seseorang di rumah kita yang baru saja berani menginjak-injak harga diri atasan mereka hari ini! Mereka tidak peduli pada negosiasi, tidak mau ganti rugi miliaran, mereka cuma mau Aryo angkat kaki dari perusahaanku detik ini juga!"


Tubuhku lemas. Kakiku tak lagi mampu menopang berat badanku hingga aku merosot jatuh ke sofa. 


Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Randi seperti palu godam yang menghantam dadaku berkali-kali. 


Pikiranku otomatis terlempar pada sosok wanita berpakaian sederhana yang baru saja melangkah keluar dari rumah ini dengan tawa lepasnya.


Kirana.


[Tiga tahun aku bermain peran menjadi istri miskin yang tertindas.


Bersiaplah membereskan barang-barangmu di kantormu besok pagi, dan jangan kaget kalau kamu dipecat!]


"T-tidak mungkin," gumamku lirih, menatap ngeri ke arah dokumen cerai yang tadi kuhempaskan ke wajahnya. 


"Mas Randi, siapa ... siapa nama atasan mereka? Siapa investor utama itu?"


Terdengar hela napas kasar dari seberang telepon, diiringi suara gemerisik kertas tebal yang sedang dibalik dengan tergesa-gesa dan tangan bergetar.


"Itu dia masalahnya, Aryo! Selama tiga tahun ini kita hanya berhubungan lewat perwakilan hukum mereka! Tapi malam ini, untuk pertama kalinya mereka mengirimkan salinan dokumen pemutusan kontrak dengan cap basah dan tanda tangan asli pemiliknya!"


"Siapa namanya, Randi?! Cepat sebutkan agar Ibu bisa mencarinya dan memohon ampun!" jerit Ibu nyaris histeris, air mata kepanikan mulai menggenang di pelupuk matanya.


Keheningan sejenak menyelimuti panggilan itu. Deru napas Randi terdengar memburu, sebelum suaranya kembali terdengar, kali ini begitu pelan, berat, dan dipenuhi teror yang mencekam hingga ke ubun-ubun.


"Tanya pada anak kesayanganmu itu, Bu! Kesalahan fatal apa yang sudah Aryo perbuat."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

  "Kau pasti salah dengar, Aryo! Berikan ponselnya padaku, biar Ibu yang bicara dengan kakakmu!" Ibu merebut paksa ponsel dari tan...