Minggu, 03 Mei 2026

(9) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Kalung emas seberat dua puluh gram milik Bu Tejo tidak akan pernah bersarang di laci istriku, Bu. Karena malam ini juga, aku yang akan memastikan perhiasan itu menjadi bumerang yang menghancurkan sandiwara Ibu sendiri."


Aku membatin dengan rahang mengeras, menahan gemuruh amarah yang nyaris meledakkan dadaku. 


Setelah memastikan Ibu telah masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat, aku bergegas kembali ke kamarku dengan langkah panjang.


Fitri masih duduk di tepi ranjang, menatapku dengan sorot mata cemas saat aku masuk dan langsung mengunci pintu. 


Tanpa membuang waktu, aku melangkah cepat menuju meja riasnya, menarik laci paling bawah yang biasa ia gunakan untuk menyimpan dokumen dan barang berharga.


"Mas? Ada apa? Kenapa membongkar laciku?" tanya Fitri, bangkit dan menghampiriku dengan raut kebingungan.


Tanganku meraba bagian sudut terdalam laci itu. Benar saja. Di bawah tumpukan map ijazah, jari-jariku menyentuh sebuah bungkusan tisu kecil yang terasa keras. 


Aku menariknya keluar, membuka lipatan tisu itu perlahan di depan mata Fitri.

Kilau kuning dari sebuah kalung rantai emas seketika memantulkan cahaya lampu kamar kami.


Fitri memekik tertahan, buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. 


"Astagfirullah! Mas, i-itu kan kalung emas yang baru dibeli Bu Tejo minggu lalu? K-kenapa bisa ada di laciku?!"


Aku menatap mata istriku yang mulai berkaca-kaca. 


"Karena ibuku sendiri yang menyusup dan menaruhnya di sini, Sayang," bisikku getir. 


"Beliau sengaja menyuruh Siska meracik obat tidur di susumu agar kau tak bisa bangun, lalu besok pagi beliau akan memimpin ibu-ibu kompleks untuk menggeledah kamarmu dan mencapmu sebagai maling."


Tubuh Fitri luruh ke lantai seketika. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia memeluk lututnya, bahunya bergetar hebat menerima kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia layani dengan penuh bakti, ternyata berniat menghancurkan harga dirinya hingga sehina ini.


"Tega sekali Ibu, Mas. Apa salahku sampai harus difitnah menjadi pencuri?" rintihnya pilu, air matanya jatuh membasahi lantai.


Aku berjongkok, merengkuh tubuh bergetar itu ke dalam pelukanku erat-erat. 


"Mulai malam ini, kita tidak akan diam lagi, Fit. Mas tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ibuku sendiri, menginjak-injak kehormatanmu."


***


Menjelang subuh, saat seisi rumah masih terlelap, aku menyelinap keluar kamar membawa kalung tersebut. 


Aku berjalan tanpa suara menuju ruang keluarga, tempat di mana tas kulit kesayangan Ibu selalu tergeletak di atas sofa. 


Dengan sangat hati-hati, kubuka resleting tas itu, menyelipkan kalung emas Bu Tejo tepat di saku bagian dalam, lalu menutupnya kembali tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


Pagi harinya, keributan meledak persis seperti yang sudah dijadwalkan oleh sutradara utamanya.


"Aduh, bagaimana ini, Bu Ningsih?! Kalung emas saya hilang! Padahal seingat saya, kemarin sore pas kita ngerujak di ruang tamu sini, kalungnya sempat saya lepas karena gatal, terus saya taruh di meja!" 


Tangisan Bu Tejo yang melengking heboh terdengar sampai ke arah dapur.


Aku yang sedang membuatkan teh hangat untuk Fitri hanya tersenyum tipis, lalu melangkah santai ke ruang depan. 


Di sana, sudah ada Bu Tejo, Ibu, dan beberapa tetangga yang tampak panik. Siska yang masih harus berpura-pura menjadi wanita bawaan Ibu, hanya berdiri di dekat tembok sambil sesekali menelan ludah menatapku gugup.


"Ya ampun, Jeng Tejo! Yakin hilangnya di rumah saya?" seru Ibu dengan raut wajah terkejut yang luar biasa meyakinkan. Beliau lalu memicingkan mata, menatap ke sekeliling ruangan dengan gestur penuh curiga. 


"Jangan-jangan, astaga! Perasaan saya jadi tidak enak."


"Ada apa, Bu Ningsih?" tanya salah satu tetangga yang ikut penasaran.


"Bukannya saya mau menuduh, ibu-ibu. Tapi di rumah ini kan ada satu orang yang kerjanya cuma di kamar dan malas-malasan. Kalau dia butuh uang untuk gaya hidupnya ... aduh, saya jadi malu mengatakannya!" Ibu berakting menepuk jidatnya, seolah sangat terpukul memiliki menantu seperti istriku.


"Maksud Ibu, Mbak Fitri?!" pekik Bu Tejo tak percaya. "Ayo kita buktikan, Bu! Kita geledah kamarnya sekarang juga!"


Bagaikan seorang komandan, Ibu langsung memimpin barisan ibu-ibu itu menuju kamarku. 


Aku sengaja membuka pintu lebar-lebar sebelum mereka bertindak anarkis. 


Di dalam, Fitri sedang duduk tenang di tepi ranjang. Mata sembabnya semalam telah ia tutupi dengan polesan bedak tipis, terlihat kuat dan tak tersentuh.


"Ada apa ini, Bu? Kenapa ramai-ramai masuk ke kamar kami?" tanyaku dengan nada sedatar mungkin.


"Minggir kamu, Putra! Ibu mau membuktikan kalau istrimu yang tidak bisa masak itu juga seorang maling!" bentak Ibu garang. Tanpa permisi, beliau langsung menerobos masuk menuju meja rias Fitri.


Dengan senyum miring kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan, Ibu menarik laci paling bawah itu dengan kasar. Beliau merogoh tangannya ke bagian terdalam, siap untuk mengeluarkan 'barang bukti' untuk mempermalukan Fitri di depan umum.


Namun, sedetik kemudian, senyum angkuh di wajah Ibu lenyap.


Tangannya mengais-ngais isi laci dengan panik. Tumpukan map berhamburan ke lantai, tapi benda yang diincarnya tidak ada di sana. Wajah Ibu seketika memucat pasi. Keringat dingin mulai merembes di keningnya.


"M-mana ... mana barangnya?" gumam Ibu gelagapan, membongkar laci lain dengan napas memburu sementara ibu-ibu kompleks yang berdiri di ambang pintu mulai saling tatap kebingungan.


Aku tersenyum penuh arti. Perlahan, aku melangkah maju menghampiri Ibu, menenteng tas kulit cokelat kesayangannya yang sengaja kuambil dari ruang depan.


"Mencari barang bukti yang Ibu siapkan sendiri?" suaraku membelah keheningan, terdengar begitu dingin dan tajam. 


Aku menumpahkan seluruh isi tas kulit itu ke atas kasur, menampilkan untaian kalung emas 20 gram yang berdenting pelan saat beradu dengan botol parfum. 


"Jelaskan pada warga, Bu. Kenapa kalung yang Ibu tuduh dicuri oleh istriku, justru bersarang manis di dalam tas pribadi Ibu sendiri?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

  "Kau pasti salah dengar, Aryo! Berikan ponselnya padaku, biar Ibu yang bicara dengan kakakmu!" Ibu merebut paksa ponsel dari tan...