Senin, 04 Mei 2026

(3) Aku dipecat saat sedang bulan madu dengan selingkuhanku. Saat benar-benar panik, ternyata istriku pergi dari rumah. Apa dia tahu kalau aku selingkuh? Kemana istriku pergi? Atau jangan-jangan istriku adalah...

 


"Kamu gila, Ndri?! Coba pakai logikamu! Perempuan di berita ini pakai kalung berlian seharga miliaran dan disalami menteri! Sedangkan Yeni? Beli daster obralan di pasar saja dia masih nawar sampai urat lehernya putus! Ini pasti cuma orang kaya yang wajahnya kebetulan mirip!" bantahku keras, menepis ponsel Indri hingga terlempar ke atas kasur busa tipis yang kempes.


Indri mendengus kasar, memungut ponselnya dengan bibir mengerucut. 


"Ya tapi namanya sama, Mas! Terus kenyataannya rumah mewahmu itu udah dijual atas nama dia, kan?! Jangan-jangan selama ini kamu yang dikadalin sama istrimu yang sok polos itu!"


Ucapan Indri menohok ulu hatiku. 


Rumah ... ya, rumah itu. Ingatanku kembali terlempar pada kejadian setahun lalu. Saat itu Yeni menyodorkan setumpuk dokumen dengan senyum paling manis dan lugu yang pernah kulihat. 


'Mas, ini untuk syarat administrasi usaha kueku biar gampang dapat pinjaman modal. Pihak bank butuh jaminan aset atas namaku,' bujuknya waktu itu dengan suara lembut. 


Karena buta hukum dan terlalu meremehkan kepolosannya sebagai yatim piatu yang tak tahu apa-apa, aku menandatanganinya begitu saja di depan notaris kenalannya. 


Aku membalikkan nama sertifikat rumah hasil keringatku menjadi hak milik Yeni.


Betapa bodohnya aku! 


Kini, di sinilah aku berakhir. Di sebuah kontrakan pengap berukuran tiga kali tiga meter, dengan atap seng yang membuat ruangan ini terasa seperti oven raksasa. Hawa panas bercampur bau selokan dari luar menelusup masuk tanpa permisi.


"Mas, aku laper! Pesenin makanan kek, dari tadi pagi kita belum makan! Aku mau pasta atau minimal ayam bakar madu, deh!" rengek Indri sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan majalah bekas. Keringat membuat rambut hasil smoothing-nya lepek dan riasan mahalnya luntur tak keruan.


Aku merogoh saku celana dengan tangan gemetar. Hanya tersisa dua lembar uang lima puluh ribuan lecek. 


"Uangku tinggal seratus ribu, Ndri. Semua aksesku diblokir. Kita makan nasi bungkus warteg depan gang saja, ya?"


"Hah?! Warteg?! Nggak mau!" jerit Indri histeris, menendang pintu lemari plastik di dekatnya. Ia menatapku dengan pandangan jijik dan merendahkan. 


"Aku nggak sudi makan makanan murah pinggir jalan! Bisa sakit perut aku, Mas! Kamu tuh gimana sih jadi cowok? Udah kere, bawa aku ke tempat kumuh, sekarang ngasih makan aja nggak mampu! Nyesel aku ikut kamu!"


Dadaku bergemuruh menahan amarah yang mendidih. Kutarik napas panjang, mencoba meredam emosi yang siap meledak. 


Saat menatap wajah Indri yang bersungut-sungut egois, entah mengapa bayangan Yeni langsung berkelebat di pelupuk mataku.


Penyesalan itu datang bagai hantaman godam tak kasatmata yang meremukkan dadaku.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) Kujatuhkan talak untuk istriku dan kupermalukan dia di depan teman-temanku. Tapi tak kusangka, dia balik mempermalukanku...

  Tanpa menoleh lagi, Bimo melangkah pergi meninggalkan rumah. Anton dan Rio buru-buru menyusul di belakangnya, menundukkan kepala dan mengh...