Selasa, 05 Mei 2026

Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

 


"Omong kosong! Sertifikat asli rumah ini selalu kujaga dengan nyawaku di kamarku, dasar perempuan miskin halusinasi!"


Jeritan melengking Ibu menyayat udara malam. Beliau tertatih-tatih berlari keluar dari pintu utama, rambut sasaknya mulai berantakan. 


Di tangannya, sebuah map hijau berlogo Badan Pertanahan Nasional dicengkeram erat-erat, diacungkan ke udara bagaikan pedang kemenangan.


Langkahku terhenti. Harapan sekecil biji zarah kembali muncul di dadaku. 


Benar juga, Ibu sangat terobsesi dengan sertifikat itu. Beliau selalu menyembunyikannya di tempat rahasia di kamarnya. 


Tidak mungkin Kirana bisa membelinya tanpa sepengetahuan Ibu.


Kirana, yang sudah setengah masuk ke dalam mobilnya, menghentikan gerakannya. 


Dia menatap Ibu dengan senyum meremehkan yang amat sangat, persis seperti seseorang yang sedang melihat pertunjukan badut jalanan yang menyedihkan.


"Oh, begitu?" kekeh Kirana pelan, suaranya mengalun merdu namun sedingin es. 


"Kalau begitu, coba kau buka map kebanggaanmu itu sekarang, Nyonya Besar. Nyalakan sentermu terang-terang, dan baca huruf demi huruf nama siapa yang tertera di lembar pengesahan yang kau peluk setiap malam itu."


Tangan Ibu gemetar. Dengan napas memburu, ia membuka map hijau tersebut tepat di bawah cahaya lampu teras yang benderang. Matanya memicing, membaca deretan kalimat legal di kertas berharga itu.


Detik berikutnya, map hijau itu terlepas dari tangannya, jatuh membentur lantai marmer teras.


Wajah Ibu berubah abu-abu. Matanya mendelik ngeri, seakan bola matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. 


Lututnya seketika kehilangan fungsi, membuatnya ambruk terduduk di lantai yang dingin sambil mencengkeram dadanya yang naik turun tak beraturan.


"T-tidak mungkin. I-ini pasti palsu. Kenapa ... kenapa namamu yang ada di sini, hah?!" rintih Ibu dengan suara serak, separuh nyawanya seolah baru saja ditarik paksa.


"Kau ingat saat gadai rumah ini nyaris disita bank dua tahun lalu karena kecerobohan investasi anak kebanggaanmu, Randi?" 


Kirana tersenyum miring. 


"Akulah yang menebusnya lunas. Sebagai gantinya, pihak bank membalik nama sertifikat itu atas namaku secara legal, sementara yang kau pegang selama ini ... hanya ilusi semata."


Tanpa menunggu balasan, Kirana masuk sepenuhnya ke dalam mobil. Pria bersarung tangan putih itu menutup pintu dengan suara yang elegan. 


Konvoi mobil-mobil mewah itu melaju membelah malam, meninggalkan kami berdua dalam kehancuran yang pekat.


Aku bahkan tidak punya tenaga untuk membantu Ibu berdiri. Pikiranku kosong. Rumah ini, perusahaanku, pekerjaanku, semuanya ... lenyap dalam waktu kurang dari satu jam.


"Astaga, apa yang sudah kulakukan pada Kirana?" gumamku menyesal. 


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kulempar surat cerai ke wajah istriku. Tapi anehnya istriku tidak sedih, dia malah tertawa membuatku bingung. Ternyata selama ini istriku menunggu diceraikan karena dia adalah...

  "Omong kosong! Sertifikat asli rumah ini selalu kujaga dengan nyawaku di kamarku, dasar perempuan miskin halusinasi!" Jeritan me...