Selasa, 05 Mei 2026

(11) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


Aku menghela napas panjang, menekan dalam-dalam rasa perih yang menyayat hatiku. 


"Justru karena Ibu adalah wanita yang melahirkanku, aku menghentikan sandiwara ini sebelum Ibu berbuat lebih jauh. Harga diri Ibu tidak hancur karena aku, Bu. Harga diri Ibu hancur karena niat buruk Ibu sendiri."


Aku melangkah mendekati Fitri, menggenggam tangannya erat. Kurasakan telapak tangan istriku sangat dingin, namun ia tak lagi menangis. 


Fitri perlahan mengangkat wajahnya, menatap Ibu mertuanya dengan tatapan yang selama ini belum pernah kulihat—sebuah tatapan kecewa namun penuh dengan ketegasan.


"Ibu." Suara lembut Fitri memecah ketegangan, membuat Ibu menoleh dengan tatapan sinis. 


"Selama enam bulan saya tinggal di rumah ini, saya selalu berusaha bangun paling pagi, memasak makanan kesukaan Ibu, merapikan rumah, dan melakukan apa pun agar Ibu bisa menerima saya. Jika memang Ibu tidak menyukai saya, Ibu bisa mengatakannya langsung pada saya. Mengapa Ibu harus menyiksa saya perlahan-lahan dengan membuang masakan saya, meracuni susu saya, membawa wanita lain ke rumah ini, hingga menuduh saya sebagai pencuri?"


"Karena kamu memang tidak pantas untuk Putra!" jerit Ibu tanpa memedulikan rasa sakit yang terpancar dari mata Fitri.


"Anakku butuh istri yang selevel, yang kaya, yang bisa menjamin masa tuaku! Bukan perempuan miskin sepertimu yang bisanya cuma menumpang hidup!"


"Cukup, Bu!" tegasku memotong ucapan Ibu yang semakin melantur. 


"Sejak kapan Ibu peduli dengan status sosial? Selama ini gajiku lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kita semua. Fitri tidak pernah menghamburkan uangku sepeser pun. Alasan Ibu itu sama sekali tidak masuk akal!"


Aku menatap tajam ke arah Ibu. Ada sesuatu yang tidak beres di sini. 


Ambisi Ibu menyingkirkan Fitri dan mendatangkan wanita bayaran bernama Siska ini terasa terlalu terburu-buru dan penuh kepanikan, seolah Ibu sedang dikejar waktu.


"Katakan yang sebenarnya, Bu," desakku, melangkah perlahan mengikis jarak dengan Ibu. 


"Apa yang sedang Ibu sembunyikan dariku? Untuk apa Ibu begitu menginginkan menantu yang kaya raya secara tiba-tiba?"


Ibu memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tangannya saling meremas gelisah. 


Namun, beliau tetap menutup mulutnya rapat-rapat, enggan menjawab pertanyaanku.


Tepat saat keheningan yang mencekam itu menguasai ruangan, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari sudut kamar. Semua mata sontak menoleh ke arah sumber suara.


Siska melangkah maju. Wajahnya yang sejak tadi pias ketakutan kini berubah menjadi sangat dingin dan datar. 


Ia menatap Ibu mertuaku dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu beralih menatapku dalam-dalam. 


Siska tahu, kapal ini sudah karam, dan ia tidak berniat ikut tenggelam bersama kebohongan wanita paruh baya itu.


"Cukup sandiwaranya, Tante Ningsih," ucap Siska tiba-tiba, suaranya mengalun tajam dan mematikan. 


"Mas Putra berhak tahu yang sebenarnya. Beritahu dia, Tante. Beritahu putra kesayanganmu ini bahwa alasan Tante sangat ingin menyingkirkan Mbak Fitri dan menyewaku untuk berpura-pura menjadi wanita kaya yang hamil ..." 


Siska menjeda kalimatnya, menarik napas panjang sambil menatap lurus tepat di manik mataku. 


"... adalah karena Tante sudah diam-diam menggadaikan sertifikat rumah ini kepada rentenir, dan tenggat waktu penyitaannya tinggal tiga hari lagi, kan?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(11) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

  Aku menghela napas panjang, menekan dalam-dalam rasa perih yang menyayat hatiku.  "Justru karena Ibu adalah wanita yang melahirkanku,...