"Beli di mana parfum murahan yang menempel di kerah bajumu ini, Mas? Aromanya sangat pas dengan karakter perempuan tak tahu malu yang semalaman bersamamu."
Suara Anggun mengalun begitu tenang memecah keheningan kamar, namun kata-katanya sukses membuat pergerakan tangan Tino yang sedang memasang jam tangan mendadak terhenti.
Pria itu menatap pantulan istrinya melalui cermin meja rias.
Sejenak, raut panik melintasi wajah tampannya sebelum tertutup rapat oleh topeng ketenangan yang memuakkan.
"Kamu ini bicara apa sih, Nggun? Perempuan siapa? Parfum ini kan pewangi pakaian dari penatu langganan kita," elak Tino sambil membalikkan badan.
Ia melangkah mendekati Anggun, mengulas senyum manis yang selama lima tahun ini selalu berhasil membutakan mata dan hati sang istri.
Tino mencoba meraih bahu Anggun, namun wanita itu mundur selangkah, menepis udara kosong seolah sentuhan suaminya adalah sesuatu yang sangat kotor.
"Oh, pewangi pakaian?" Anggun mengangkat sebelah alisnya, ujung bibirnya melengkung sinis.
"Sejak kapan penatu langganan kita menggunakan parfum palsu yang biasa dipakai oleh staf magang gen Z di kantormu itu, Mas?"
Wajah Tino sedikit menegang, namun tawanya terdengar hambar.
"Astaga, Sayang. Kamu ini terlalu banyak baca novel drama. Aku semalam lembur di kantor mengurus laporan untuk klien, wajar kalau mungkin wanginya bercampur dengan udara kantor. Malam ini kan acara syukuran besar di rumah Ibu, tolong jangan mulai pertengkaran yang tidak masuk akal."
Syukuran besar. Anggun mendengus dalam hati. Mertuanya yang angkuh dan sebenarnya miskin itu bersikeras mengadakan syukuran heboh di rumah mereka.
Bu Darmi ingin memamerkan 'kesuksesan' Tino kepada para tetangga, padahal hampir seluruh biaya katering dan dekorasi ditarik dari rekening pribadi Anggun. D
an yang lebih menjijikkan, Tino mengundang seluruh stafnya malam ini, termasuk si parasit kecil bernama Vanya.
Dua hari yang lalu, dunia Anggun hancur berkeping-keping saat melihat notifikasi tersembunyi di ponsel Tino.
Sebuah video rekaman CCTV lobi hotel bintang tiga yang dikirimkan oleh nomor tanpa nama, memperlihatkan suaminya sedang memeluk mesra pinggang Vanya masuk ke dalam lift.
Bukannya menangis meraung-raung, detik itu juga hati Anggun membeku. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rencana balasan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar tangisan perpisahan.
"Kamu benar, Mas. Malam ini adalah malam yang sangat spesial. Aku tidak akan merusaknya," ucap Anggun akhirnya, memoleskan lipstik merah menyala ke bibirnya. Menutupi segala luka dan bersiap maju ke medan perang.
"Ayo kita berangkat. Ibu pasti sudah menunggu anak kebanggaannya."
Sepanjang perjalanan menuju rumah mertuanya, keheningan mencekik isi mobil.
Begitu mereka tiba, suara musik organ tunggal yang memekakkan telinga langsung menyambut.
Rumah Bu Darmi yang tadinya sempit kini dipenuhi tenda dan kursi plastik yang memakan separuh jalan gang. Khas sekali, selalu ingin terlihat mewah dengan modal pas-pasan.
"Ya ampun, anak Ibu yang paling tampan dan sukses sudah datang!" seru Bu Darmi dengan suara melengking sengau, langsung menyambut Tino dan memeluknya erat, sementara Anggun diabaikan begitu saja bagai angin lalu.
"Ibu bangga sekali sama kamu, No. Berkat kamu, keluarga kita bisa mengadakan syukuran semewah ini," lanjut Bu Darmi, sengaja mengeraskan suara agar ibu-ibu arisan di sekitarnya mendengar.
Anggun hanya tersenyum tipis, meremas tali tasnya. Tentu saja mewah, rekeningku yang menjerit menangis, batinnya sinis.
"Eh, Anggun. Kamu kok baru datang? Istri macam apa kamu, suaminya lelah bekerja malah tidak ditemani dengan baik. Untung tadi ada Vanya yang rajin bantu-bantu Ibu di dapur siapkan hidangan," cibir Bu Darmi, melirik tajam ke arah menantunya.
Tepat saat nama itu disebut, seorang gadis muda dengan gaun krem yang membalut ketat tubuh rampingnya muncul dari arah dalam rumah.
Vanya. Rambutnya dicatok bergelombang sempurna, wajahnya dipoles riasan lugu yang menipu.
"Eh, Pak Tino, Mbak Anggun sudah datang," sapa Vanya dengan nada lembut yang dibuat-buat, sengaja menatap Tino dengan pendar memuja yang terang-terangan.
"Maaf ya Mbak Anggun, Vanya tadi inisiatif bantu-bantu Ibu, soalnya kasihan Ibu repot sendirian sementara Mbak Anggun belum datang."
Anggun menatap lurus ke arah gadis itu. Darahnya mendidih melihat betapa tak tahu malunya wanita ini berakting di depannya.
Di tempat ini, dikelilingi keluarga suaminya yang sok suci, Anggun tahu ini adalah panggung yang sangat sempurna.
Tanpa banyak bicara, Anggun mengeluarkan ponsel dari tas mahalnya. Ia menekan aplikasi sosial media, menyalakan mode siaran langsung.
Ratusan pasang mata langsung bergabung dalam hitungan detik berkat pengikut akun bisnisnya yang lumayan banyak.
"Mbak Anggun mau ngapain?" Vanya mundur selangkah, raut wajah lugunya sedikit pudar melihat senyum dingin yang kini tercetak di bibir Anggun.
***
Bab 2
Tino yang menyadari ada yang tidak beres langsung melangkah maju.
"Nggun, kamu ngapain rekam-rekam begini? Matikan hapenya!"
Alih-alih mematikan, Anggun justru mengarahkan kamera ke wajah Tino, lalu beralih cepat ke wajah Vanya.
Dengan gerakan secepat kilat, Anggun menerjang maju. Tangannya melesat kuat, mencengkeram kasar akar rambut bergelombang Vanya.
"Aaaakh! Sakit, Mbak!" pekik Vanya, tubuhnya limbung hingga menabrak meja katering.
Tumpukan piring berjatuhan, menimbulkan suara pecahan kaca yang menghentikan alunan musik seketika. Seluruh tamu undangan membelalak ngeri.
"Anggun! Kamu gila, ya?!" teriak Bu Darmi histeris, berusaha melerai.
Namun Anggun menepis tangan ibu mertuanya. Ia menarik rambut Vanya hingga gadis itu mendongak dengan wajah berurai air mata, menyejajarkan wajah si perusak hubungan itu tepat di depan kamera ponselnya yang menyala merah.
"Lihat baik-baik wajah lugu ini, semuanya!" seru Anggun lantang, suaranya menggema mengalahkan kasak-kusuk para tetangga.
"Ini Vanya, staf kantoran yang hobi lembur sampai pagi bersama suamiku di kamar hotel! Hebat sekali aktingmu menjadi tamu yang baik hati di rumah mertuaku!"
"Nggun, cukup! Hentikan siaran langsung ini, kamu mempermalukan keluarga kita!"
Tino memucat pasi, keringat dingin membasahi kemejanya. Ia tahu karier dan nama baiknya bisa hancur detik ini juga.
Anggun melepaskan cengkeramannya, membiarkan Vanya tersungkur di lantai sambil terisak memeluk kaki Tino.
Suasana syukuran itu berubah menjadi arena tontonan memalukan. Ibu-ibu tetangga mulai berbisik sinis, merekam kejadian itu dari ponsel mereka masing-masing.
"Ampun, Nggun. Aku khilaf. Tolong matikan kameranya, kita bicarakan ini di rumah. Aku janji akan tinggalkan dia," bisik Tino memelas, wajah tampannya kini tampak begitu menyedihkan.
Alih-alih menampar Tino atau menangis meminta cerai, Anggun justru tertawa pelan. Tawanya terdengar begitu elegan namun menyimpan bisa mematikan.
Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjongkok menyejajarkan wajahnya dengan Vanya yang gemetar ketakutan.
Jari lentik Anggun mengangkat dagu Vanya, lalu beralih menatap suaminya dengan senyum yang membuat bulu kuduk Tino berdiri.
"Siapa bilang aku akan menceraikanmu, Mas? Jika kamu begitu menyayangi perempuan ini sampai rela membohongiku, jangan tinggalkan dia. Malam ini juga, bawa dia pulang ke rumah kita. Biar aku sendiri yang mendidiknya bagaimana caranya menjadi 'istri' yang tahu batasan di bawah atap kekuasaanku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar