"Apapun yang terjadi, jangan pernah buka pintu ini dari dalam. Sekalipun yang mengetuk dan menangis memanggil namamu itu adalah ibumu!"
Tanganku gemetar saat memutar kunci gembok tambahan yang sengaja kupasang di bagian luar pintu kamar Dewa.
Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisku, membasahi kerah kemeja yang sudah lecek seharian.
Di balik celah bawah pintu, aku bisa mendengar isakan tertahan dari jagoan kecilku yang baru berusia tujuh tahun itu.
"Ayah, Dewa takut gelap, Yah. Jangan kunci Dewa sendirian," rintihnya dengan suara parau yang menyayat hati.
Aku menggigit bibir kuat-kuat hingga mengecap rasa amis darah.
"Tahan sebentar ya, Nak. Ayah janji ini cuma sampai besok pagi. Ayah berjaga di luar. Ingat pesan Ayah, tutup telingamu rapat-rapat kalau dia mulai bernyanyi."
Setelah memastikan gembok itu terkunci sempurna, aku membalikkan badan dengan napas memburu.
Jantungku berdetak brutal menghantam tulang rusuk. Di ujung lorong rumah yang temaram, siluet seorang wanita berdiri mematung membelakangiku.
Rambut panjangnya yang kusut masai tergerai hingga sepinggang.
Dia mengenakan daster putih pudar, baju yang sama yang ia pakai saat aku menjemputnya siang tadi dari Rumah Sakit Jiwa.
Saras, istriku.
Setelah tiga tahun mendekam di balik tembok putih berjeruji karena depresi berat tingkat psikotik yang membuatnya hampir menenggelamkan Dewa di bak mandi, dokter menyatakan ia sudah stabil dan boleh rawat jalan.
Namun sejak ia menginjakkan kaki kembali ke rumah ini sore tadi, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Matanya kosong. Kulitnya pucat pasi sedingin mayat.
Dan yang paling membuatku gila, sejak magrib tadi, dia terus mengasah pisau daging di dapur sambil bersenandung lagu pengantar tidur yang sumbang.
"Saras," panggilku pelan, berusaha menjaga suaraku senormal mungkin. "Sudah malam. Kenapa kamu belum tidur?"
Siluet itu tak bergerak sedikit pun. Suara gesekan logam dari pisau yang entah sejak kapan ia bawa ke lorong itu terdengar beradu dengan kuku jarinya.
"Aku sedang menunggu anakku, Mas." Suaranya terdengar serak, mengambang di udara seperti bisikan angin malam. Dia tidak menoleh.
"Susu cokelatnya sudah dingin. Dewa haus. Aku harus memberikannya."
Bulu kudukku meremang hebat.
"Dewa sudah tidur, Ras. Dia sangat kelelahan. Besok pagi saja kalian main lagi. Sekarang, kamu masuk ke kamar tamu. Obatmu sudah kusiapkan di atas nakas."
"Dia tidak tidur, Mas."
Wanita itu memutar lehernya dengan lambat, menatapku dari sudut matanya yang putih kemerahan di tengah kegelapan lorong.
Bibirnya menyeringai, menampilkan senyum yang membuat darahku berdesir mundur.
"... dia sedang menangis di dalam sana. Dia memanggil ibunya."
Aku menelan ludah dengan susah payah, melangkah mundur menutupi pintu kamar Dewa dengan punggungku.
"Masuk ke kamarmu, Saras! Sekarang!" bentakku setengah putus asa.
Seringai di wajahnya memudar. Dengan gerakan kaku layaknya boneka kayu, ia berbalik dan menyeret langkah kakinya menuju kamar tamu di ujung kiri lorong. Pintu tertutup rapat.
Aku merosot jatuh ke lantai, menyandarkan punggung di pintu kamar anakku dengan napas tersengal.
Kepalaku berdenyut hebat. Rasa lelah secara fisik dan mental menguasaiku.
Aku merogoh saku kemeja, mengeluarkan dua butir pil penenang resep dokter milikku sendiri, menelannya mentah-mentah tanpa air.
Aku tidak boleh lengah. Aku akan tidur duduk di sini, menjaga pintu ini sampai pagi menyingsing.
Tidak akan kubiarkan Saras mendekati Dewa lagi. Tidak akan pernah.
Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Saras. Atau jangan-jangan istriku ...
***
Bab 2
Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.
***
Cahaya matahari yang menyilaukan menusuk kelopak mataku.
Aku terbangun dengan tubuh kaku dan leher yang sakit bukan main. Suasana rumah terasa begitu hening.
Terlalu hening. Bahkan suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar seperti ketukan palu di telingaku.
Aku mengucek mata, nyawaku belum terkumpul penuh saat tatapanku jatuh pada gembok pintu kamar Dewa.
Masih terkunci rapat dari luar. Semuanya utuh.
Napas lega meluncur dari bibirku.
Aku buru-buru merogoh kunci di saku celana, membuka gembok itu dengan tangan gemetar, dan menekan kenop pintu.
"Dewa? Bangun jagoan, ini Ayah—"
Kalimatku terhenti di udara. Jantungku seakan jatuh menghantam lantai.
Tempat tidur bergambar mobil balap itu kosong melompong.
Selimutnya tersingkap berantakan. Jendela kamar masih terkunci rapat dari dalam. Tidak ada tanda-tanda kerusakan, tidak ada celah untuk keluar.
Tapi Dewa tidak ada di sana.
"Dewa?!" Aku berteriak panik, membalikkan selimut, menggeledah kolong tempat tidur, membuka pintu lemari dengan kasar. Kosong.
"Dewa! Kamu di mana, Nak?!"
Pikiranku langsung tertuju pada satu nama.
Saras.
Aku berlari kesetanan menerjang lorong menuju kamar tamu. Pintu kayu itu kudobrak dengan satu tendangan keras hingga engselnya nyaris lepas.
"Saras! Di mana kamu sembunyikan anakku?!"
Hening.
Kamar tamu itu kosong. Rapi. Bahkan seprai tempat tidurnya sama sekali tidak kusut, seolah tidak pernah ditiduri semalaman.
Obat di atas nakas masih utuh. Pintu lemari terbuka sedikit, memperlihatkan daster putih pudar yang kemarin dipakai wanita itu ... tergantung rapi di sana.
Lututku lemas. Kepalaku berputar hebat. Gembok kamar Dewa terkunci dari luar, jendelanya terkunci dari dalam.
Bagaimana mungkin mereka berdua bisa menghilang begitu saja seperti ditelan bumi?
Di tengah kepanikan yang nyaris membuatku gila, suara dering telepon rumah memecah keheningan yang mencekam.
Dengan langkah gontai dan napas memburu, aku berjalan menuju meja telepon di ruang tengah. Tanganku sedingin es saat mengangkat gagang telepon itu ke telinga.
"H—halo?" suaraku bergetar hebat.
Di seberang sana, terdengar suara isakan tangis seorang wanita. Isakan yang sangat familiar.
"Halo, Mas Arya? Ini aku, Mas, Saras."
Aku membeku. Keringat dingin kembali membanjiri tengkukku.
Suara ini ... ini benar-benar suara Saras yang jernih, bukan suara serak dan kosong seperti wanita semalam.
"Mas, kamu di mana?" isak Saras di ujung telepon, suaranya terdengar begitu frustrasi dan putus asa.
"Aku sudah menunggumu di lobi Rumah Sakit Jiwa sejak subuh tadi. Dokter bilang hari ini aku sudah resmi dipulangkan. Mas, tolong katakan padaku, perempuan yang semalam kau bawa pulang ke rumah dan tidur di pangkuanmu sambil mengelus kepala anak kita di rekaman CCTV kamar, dia itu siapa, Mas?!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar