"Kamu pikir aku akan menandatangani surat gila ini?! Lima belas miliar?! Sampai mati pun aku tidak akan menceraikanmu dan membayar hutang ini, Jannah! Kamu istriku, dan secara hukum aku berhak atas setengah dari semua hartamu!"
Hakim menggebrak meja besi ruang jenguk dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaannya. Napasnya memburu, menatapku dengan mata merah menyala.
Pria ini benar-benar tidak tahu di mana ia berpijak.
Di balik seragam tahanan bernomor dada yang lusuh itu, ego patriarkinya masih berusaha meronta, menolak menerima kenyataan bahwa ia bukan siapa-siapa tanpa namaku.
Aku hanya tersenyum simpul, menyesap kopi dari tumbler yang kubawa sendiri, mengabaikan tatapan liar Hakim yang penuh amarah.
"Harta gono-gini?" Aku mengulang kata-katanya dengan nada geli.
"Mas Hakim sayang, sepertinya kepanikan membuat otakmu tumpul. Apakah kamu lupa dengan perjanjian pranikah yang kamu tanda tangani tiga tahun lalu tanpa membacanya, karena kamu terlalu sibuk pamer kepada teman-temanmu bahwa kamu akan menikahi seorang anak tunggal yang kaya raya?"
Wajah Hakim memucat. Rahangnya jatuh perlahan.
"Ya, Mas. Perjanjian itu menyatakan dengan sangat jelas bahwa seluruh aset yang kuperoleh sebelum, selama, dan setelah pernikahan adalah hak milikku sepenuhnya. Kamu tidak berhak atas satu keping koin pun dari kekayaanku," ucapku, mencondongkan tubuh ke depan menatapnya tajam.
"Sebaliknya, hutang lima belas miliar dari dana perusahaan yang kamu curi, itu murni tanggung jawab pribadimu."
"I-itu tidak mungkin." Hakim menggelengkan kepalanya panik. "A-aku tidak punya uang sebanyak itu, Jannah! Aku akan mati membusuk di penjara kalau harus membayar semuanya!"
"Oh, kamu tidak akan sendirian menanggungnya, Mas," balasku santai.
Tanganku merogoh tas dan mengeluarkan sebuah tablet, memutar video yang baru saja dikirimkan oleh asistenku setengah jam yang lalu.
Aku menggeser layar itu menghadap Hakim.
Di video tersebut, terlihat sebuah rumah permanen berlantai dua di sebuah desa yang asri.
Itu adalah rumah kebanggaan ibu mertua. Rumah yang selalu ia agung-agungkan kepada tetangganya sebagai "hasil keringat putra kesayangannya di ibu kota".
Namun, di video itu, pagar rumah tersebut sudah dipasangi garis pembatas dan spanduk merah berukuran besar bertuliskan: DISITA.
Ibu mertua tampak menangis histeris di halaman, terduduk di atas tanah berdebu. Ia dikelilingi oleh para tetangga yang bukannya menolong, malah sibuk merekam dan berbisik-bisik mencemoohnya.
Kesombongan wanita tua itu selama ini akhirnya membuahkan karma instan dari penduduk desa yang muak dengan tingkahnya.
"J-Jannah, apa yang kamu lakukan pada rumah Ibuku?!" Hakim setengah menjerit, mencoba merebut tablet itu namun aku segera menariknya menjauh.
"Apa yang kulakukan? Aku hanya menyita aset perusahaanku yang kau gelapkan, Mas. Bukankah kamu merenovasi total rumah ibumu tahun lalu menggunakan vendor fiktif dari dana promosi perusahaanku?"
Aku menatapnya dengan senyum dingin.
"Tanda tangani surat cerai dan pengakuan hutang ini sekarang. Atau siang ini juga, aku akan menambahkan nama ibumu dalam daftar tersangka kepolisian sebagai penadah aliran dana pencucian uang."
"Jangan libatkan Ibuku, Jannah! Dia sudah tua!"
"Pilihan ada di tanganmu, Mas. Ceraikan aku dan akui hutangmu, atau lihat ibumu memakai baju seragam oranye yang serasi denganmu di sel sebelah."
Tangan Hakim bergetar hebat. Ia menangis tanpa suara, air mata penyesalannya menetes membasahi surat gugatan cerai di atas meja.
Pria sombong yang selalu memuja dirinya sendiri itu akhirnya hancur tak tersisa, ditikam oleh keserakahannya sendiri.
Dengan tangan gemetar dan napas putus asa, ia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas-kertas tersebut.
Selesai.
Aku menarik kembali dokumen itu, memastikan tanda tangannya jelas, lalu memasukkannya ke dalam tas dengan anggun. Aku bangkit berdiri, menepuk pelan debu imajiner di blazerku.
"Terima kasih atas kerja samanya, Saudara Hakim. Persidangan pertamamu dijadwalkan minggu depan. Nikmati sisa waktumu," ucapku, melangkah pergi menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi.
"Jannah!" panggil Hakim dengan suara serak, menghentikan langkahku tepat di depan pintu besi. Aku menoleh perlahan dari balik bahuku. Pria itu menatapku dengan sisa-sisa keputusasaan yang mengiba.
"Aku sudah kehilangan segalanya. Aku tidak punya harta apa-apa lagi untuk membayarmu. Apa ini belum cukup untuk memuaskan dendammu?!"
Aku memutar tubuhku sepenuhnya, menatap pria yang kini tak lebih dari sekadar debu di bawah sol sepatuku. Senyum paling manis dan paling kejam mengembang di bibirku.
"Belum, Mas. Simpan air matamu untuk hari esok. Karena besok pagi, ibumu yang sombong itu akan mulai bekerja sebagai petugas kebersihan di lobi utama perusahaanku untuk menyicil hutang lima belas miliarmu. Mari kita saksikan sama-sama, seberapa kuat tulang punggung kebanggaannya saat harus berlutut menyikat lantai marmer yang biasa diinjak oleh menantu gembelnya ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar