"Batal! Pernikahan ini batal! Dan kau, benalu sialan, seret langkahmu keluar dari sini sebelum aku sendiri yang menghancurkan sisa hidupmu!"
Suara gelegar Pak Wijaya menghantam kesadaranku dengan keras. Pria paruh baya yang beberapa menit lalu hampir resmi menjadi ayah mertuaku itu kini menatapku dengan urat leher menonjol.
Wajahnya merah padam, hancur oleh kebangkrutan instan yang baru saja dijatuhkan oleh Zea, istri yang selama ini kuanggap remeh, yang ternyata adalah Nona Muda pewaris tunggal Adhitama Group!
Aku merangkak dengan sisa tenaga mendekati Aurel yang masih tersungkur di lantai.
"Aurel Sayang, dengarkan aku. Kita masih bisa—"
"Jangan sentuh aku, Gembel!" Aurel menepis tanganku dengan kasar, menatapku dengan sorot penuh rasa jijik.
"Gara-gara kamu dan ambisi bodohmu, keluargaku hancur! Pergi kamu! Aku menyesal pernah sudi disentuh oleh pria penipu sepertimu!"
Dua petugas keamanan hotel bertubuh kekar langsung menarik lengan kemejaku, menyeretku seperti karung rongsokan melewati ratusan tatapan mencemooh dari para tamu undangan, lalu membuangku ke luar lobi hotel di tengah derasnya hujan malam.
Aku terduduk di aspal yang dingin, merogoh saku tuxedo putihku yang kini kotor berlumur lumpur. Kupencet layar ponsel dengan tangan gemetar, membuka aplikasi m-banking.
Jantungku serasa ditikam belati. Saldo ratusan juta di semua rekeningku, yang sebenarnya adalah uang bulanan dari Zea yang selalu kuakui pada semua orang sebagai hasil keringatku sendiri, kini tertulis angka nol. Diblokir total!
Aku berlari gontai menuju basement, berharap masih bisa membawa kabur mobil mewah yang kupakai untuk mengurung Zea tadi.
Nihil. Tempat parkir itu melompong.
Dengan sisa uang lima puluh ribu di dompet, aku nekat menembus hujan dan menyetop taksi menuju apartemen mewah yang selama ini kutinggali bersama ibu dan adik perempuanku.
Setidaknya, aku harus mengamankan jam tangan branded dan perhiasan di rumah sebelum Zea menyitanya. Aku bisa menjualnya untuk bertahan hidup.
Namun, langkahku terhenti kaku begitu taksi menurunkanku di lobi apartemen.
Di bawah rintik hujan yang dingin, aku melihat Ibu dan adikku, Sinta, duduk menangis meraung-raung di pelataran. Di sekeliling mereka berserakan koper-koper murah dan pakaian yang dilempar begitu saja layaknya tumpukan sampah.
Tiga pria berjas hitam, pengawal Zea, berdiri angkuh memblokir pintu kaca lobi.
"Galen! Tolong Ibu, Nak!" Ibu menjerit histeris begitu melihatku, langsung memeluk kakiku dengan tubuh basah kuyup.
"Perempuan udik istrimu itu tiba-tiba mengusir kami! Dia merampas semua perhiasan emas yang kamu belikan untuk Ibu! Dia juga membuang tas branded Sinta! Cepat beri pelajaran perempuan kurang ajar itu, Galen!"
Aku tak bisa menjawab. Bibirku kelu, tenggorokanku tercekat melihat kehancuran yang bergulir bagai bola salju menghantam hidupku hanya dalam kurun waktu satu jam.
Tiba-tiba, salah satu pengawal berjas hitam melangkah maju menembus hujan. Ia menyodorkan sebuah tablet berlayar lebar tepat ke depan wajahku.
Di layar itu, terpampang wajah Zea yang tengah duduk anggun di sofa kulit merah, dengan senyum merendahkan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Bagaimana rasanya tidur beralaskan aspal malam ini, Mas Galen? Nikmatilah hidangan pembuka ini bersama ibu dan adik kesayanganmu. Karena mulai besok pagi, aku akan memastikan kalian bertiga mencicipi rasanya menjadi gelandangan paling hina untuk melunasi utang dua ratus miliar itu padaku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar