Senin, 08 Juni 2026

"Uang tabungan lima ratus juta kamu sudah aku transfer ke selingkuhanku, kamu mau apa? Ingat, aku yang cari uang!" Suamiku tertawa penuh kemenangan karena berhasil menguras tabunganku, sampai ponselnya berbunyi menampilkan notifikasi pembekuan seluruh aset dan pembekuan kartu kreditnya...

 


"Uang tabungan lima ratus juta kamu sudah aku transfer ke selingkuhanku, kamu mau apa? Ingat, aku yang cari uang!"


Suamiku tertawa penuh kemenangan karena berhasil menguras tabunganku, sampai ponselnya berbunyi menampilkan notifikasi pembekuan seluruh aset dan pembekuan kartu kreditnya...


***


"Uang tabungan lima ratus juta kamu sudah aku transfer ke selingkuhanku, kamu mau apa? Ingat, aku yang cari uang!"


Gunawan melemparkan ponselnya ke atas meja kaca, menimbulkan bunyi benturan keras yang memutus keheningan ruang tengah. 


Wajahnya dipenuhi senyum jemawa, seolah baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Ia menyandarkan punggung ke sofa, menatap Yuna, istrinya yang masih mengenakan celemek dapur, dengan pandangan merendahkan.


Yuna tidak berteriak. Ia bahkan tidak menjatuhkan cangkir teh yang sedang dipegangnya. 


Perempuan itu hanya berdiri mematung, menatap suaminya dengan ekspresi yang sulit diartikan. 


Keheningan yang tercipta justru membuat senyum Gunawan semakin lebar.


"Kenapa diam? Shock?" 


Gunawan tertawa remeh, sebuah tawa penuh kemenangan yang menggema di langit-langit rumah mewah mereka. 


"Makanya jadi istri itu tahu diri. Kamu cuma numpang hidup di sini, Yuna. Semua kemewahan ini, rumah ini, bahkan baju yang kamu pakai, itu hasil keringatku! Jadi jangan harap kamu bisa bawa sepeser pun uang itu untuk keluarga kamu yang miskin itu."


Gunawan mengambil kembali ponselnya, bersiap menelepon Hani, perempuan yang selama beberapa bulan terakhir ini dipujanya sebagai bidadari. 


Ia ingin memamerkan betapa berkuasanya ia di rumah ini. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh layar, ponsel di genggamannya bergetar hebat.


Bukan panggilan masuk. Melainkan rentetan notifikasi SMS dan email yang masuk secara bersamaan, membuat layarnya berkedip-kedip agresif.


Gunawan mengernyit. Ia membuka bilah notifikasi. Detik itu juga, tawa kemenangannya membeku di udara.


[NOTIFIKASI BANK] 


[Demi keamanan, seluruh rekening atas nama Gunawan Prasetya telah DINONAKTIFKAN sementara. Segala bentuk transaksi didebit ditolak.]


[NOTIFIKASI KARTU KREDIT PLATINUM]


[Fasilitas kredit Anda telah DIBEKUKAN oleh pihak prinsipal. Silakan hubungi pusat layanan.]


[NOTIFIKASI NOTARIS & ASSET MANAGEMENT]


[Status kepemilikan aset properti Reg. 09-A (Rumah Tinggal) dan Reg. 12-B dalam proses peninjauan kembali akibat pelanggaran klausul kontrak utama.]


"Apa-apaan ini?" Gunawan bergumam, mendadak merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. 


Jantungnya berdegup kencang secara abnormal. Ia mencoba membuka aplikasi mobile banking-nya. Saldo yang tertera di sana berstatus: Rp 0 (Dibekukan).


Ia mencoba menyalakan kembali kartu kreditnya, namun sistem menolak aksesnya mentah-mentah. 


Seluruh kerajaan finansial yang selalu ia banggakan runtuh hanya dalam hitungan detik lewat tiga pesan singkat.


"Yuna, kamu apakan ponselku?!" Gunawan membentak, mulai panik. Wajahnya yang tadinya merah karena tawa kini pucat pasi seperti mayat. 


"Kamu pakai aplikasi bajakan apa untuk ngerjain aku?!"


Yuna perlahan meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Gerakannya begitu anggun, sangat kontras dengan kepanikan yang sedang melanda suaminya. 


Ia menatap Gunawan, bukan dengan tatapan seorang istri yang tersakiti atau dikhianati, melainkan dengan tatapan seorang penguasa yang sedang melihat mainannya rusak.


Yuna melangkah mendekat, lalu membungkuk sedikit demi mensejajarkan wajahnya dengan Gunawan yang kini mendadak terlihat begitu kecil di atas sofa mahal tersebut.


"Kamu bilang kamu yang cari uang, Mas?" Yuna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sukses membuat bulu kuduk Gunawan meremang. 


"Aku cuma mau mengingatkan, jangankan uang lima ratus juta yang kamu curi itu, perusahaan tempatmu bekerja, rumah yang kamu tempati, bahkan nama 'Gunawan' yang dihormati di luar sana, semuanya ada karena aku mengizinkannya."


***

Bab 2

"Perusahaan? Izin kamu?!" Gunawan terbahak, meski suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan demi menutupi getaran ketakutan di tangannya. 


"Yuna, jangan mengigau di siang bolong! Aku ini Chief Marketing Officer di megakorporasi swasta, sedangkan kamu? Kamu cuma perempuan rumahan yang hobi bikin kue!"


Yuna tidak mendebat. Ia justru melangkah mundur, mengambil celemek dapurnya yang sedikit kotor, lalu melipatnya dengan sangat rapi seolah benda itu adalah gaun sutra mahal. 


Sikap tenangnya yang luar biasa justru membuat atmosfer di ruangan itu terasa semakin mencekik bagi Gunawan.


"Kalau begitu, silakan buktikan kehebatanmu sebagai seorang CMO tanpa fasilitas dariku, Mas," ucap Yuna lembut, hampir seperti bisikan.


Tanpa menunggu jawaban, Yuna berbalik dan berjalan santai menuju kamarnya, meninggalkan Gunawan yang mulai berkeringat dingin di tengah ruang tamu yang mendadak terasa asing.


Gunawan menghabiskan sepanjang malam dengan kepanikan yang membakar. 


Ia menghubungi pihak bank, namun jawaban yang ia terima selalu sama: “Maaf Bapak Gunawan, instruksi pembekuan ini datang langsung dari dewan komisaris konsorsium pusat holding Anda karena adanya audit internal mendadak.”


Lebih parah lagi, saat ia mencoba menghubungi Hani untuk meminta ketenangan, nomor perempuan itu sibuk. 


Ketika akhirnya tersambung, Hani hanya menangis histeris karena uang lima ratus juta yang baru ditransfer Gunawan kemarin tidak bisa dicairkan ataupun didebit karena status rekening pengirim yang dispute.


***


Keesokan paginya, Gunawan tiba di kantor dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia berniat langsung menghadap jajaran direksi untuk menjernihkan kesalahpahaman ini. 


Namun, saat melintasi lobi, langkahnya terhenti.


Dua orang petugas keamanan berdiri di depan meja kerjanya yang sudah dikosongkan. Seluruh barang-barangnya telah dimasukkan ke dalam kardus.


"Apa-apaan ini?!" Gunawan setengah berteriak, amarahnya menyulut perhatian staf lain. 


"Saya ini CMO di sini! Siapa yang berani menyentuh barang-barang saya?!"


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi, Direktur Utama perusahaan, melangkah keluar dari ruang rapat utama. Wajahnya tampak tegang, namun penuh hormat pada selembar dokumen di tangannya.


"Gunawan, mulai pagi ini, posisi Anda dinonaktifkan sampai batas waktu yang belum ditentukan," ujar sang Direktur tegas. 


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...