Minggu, 07 Juni 2026

Suamiku memalsukan kematiannya dan kabur bersama selingkuhannya, meninggalkan utang bertumpuk padaku. Dia mengira aku hanyalah wanita lemah, padahal sebenarnya aku adalah...

 


Suamiku memalsukan kematiannya dan kabur bersama selingkuhannya, meninggalkan utang bertumpuk padaku. Dia mengira aku hanyalah wanita lemah, padahal sebenarnya aku adalah...


***


"Tanda tangani surat ini, Hani! Jaka sudah mati, dan sekarang semua utang-utangnya adalah tanggung jawabmu sebagai istrinya!"


Bentakan itu menggema di ruang tamu yang sempit, menghancurkan keheningan malam yang sunyi. 


Seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular di lengannya melemparkan selembar kertas bermaterai ke atas meja kayu yang rapuh. 


Di hadapannya, Hani duduk bersimpuh, menatap kertas itu dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.


Baru tadi siang Jaka dinyatakan tewas dalam kecelakaan tragis di luar kota. 


Jenazahnya bahkan belum tiba, namun para penagih utang sudah mengepung rumahnya seperti burung hering yang kelaparan.


"T-tapi dari mana saya punya uang lima ratus juta, Pak? Jaka hanya seorang buruh pabrik biasa," cicit Hani dengan suara bergetar. 


Dia meremas ujung bajunya yang pudar, menampilkan akting terbaiknya sebagai seorang istri yang rapuh, miskin, dan tak berdaya.


"Itu bukan urusan kami! Suamimu berutang pada bos kami untuk modal bisnis yang katanya gagal. Kalau kamu tidak bisa bayar bulan ini, rumah ini akan kami sita, dan kamu, bisa kami pakai untuk melunasi semuanya!" 


Pria itu tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh dua anak buahnya.


Hani menunduk dalam-dalam. Bukan karena takut, melainkan untuk menyembunyikan kilatan dingin yang tiba-banda muncul di sepasang matanya. 


Lima ratus juta? Angka yang sangat menggelikan. 


Bagi Hani yang asli, uang segitu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya perawatan rutin mobil-mobil sport di garasi rahasianya.


Namun, yang membuat dadanya benar-benar sesak bukan karena ancaman para lintah darat ini. 


Melainkan sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel rahasianya satu jam yang lalu. 


Sebuah foto yang dikirim oleh informasikannya: foto Jaka, suaminya yang "tewas" siang tadi, sedang merangkul mesra seorang wanita cantik di dalam kabin pesawat kelas bisnis menuju luar negeri.


Jaka tidak mati. Suaminya itu memalsukan kematiannya, menguras tabungan mereka yang tak seberapa, lalu kabur bersama selingkuhannya. 


Jaka sengaja meninggalkan tumpukan utang fiktif ini agar Hani hancur dan tidak bisa mengejarnya. 


Jaka mengira, Hani hanyalah gadis yatim piatu lemah yang bisa ditindas sesuka hati setelah tidak lagi berguna.


Bodoh, batin Hani berbisik sinis. Kamu bermain api dengan orang yang salah, Jaka.


Hani mengusap air mata palsunya, lalu menatap sang penagih utang dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat.


"Tolong beri saya waktu seminggu, Pak. Saya akan cari pinjaman."


"Tiga hari! Kalau tidak ada uangnya, bersiaplah angkat kaki dari sini!" ancam pria itu sebelum akhirnya melangkah pergi bersama anak buahnya, membanting pintu dengan keras.


Setelah rumah kembali sepi, Hani bangkit berdiri. Sikap rapuh dan bahu yang merosot itu lenyap dalam sekejap. 


Dia menegakkan tubuhnya, memancarkan aura keanggunan dan otoritas yang sangat kontras dengan pakaian murahannya.


Hani berjalan ke arah kamar, merogoh bagian bawah lemari pakaian yang paling dalam, dan mengeluarkan sebuah ponsel satelit khusus yang tidak pernah ia sentuh selama dua tahun pernikahan ini. Dia menyalakannya. 


Begitu layar menyala, puluhan notifikasi dari petinggi-petinggi korporasi internasional langsung membanjiri layarnya.


Dia menekan satu nomor cepat. Panggilan itu langsung diangkat pada deringan pertama.


"Restu," panggil Hani. Suaranya kini terdengar berat, dingin, dan penuh penekanan, sangat berbeda dengan suara lembut yang biasa didengar Jaka.


Di seberang telepon, suara seorang pria terdengar sangat terkejut sekaligus hormat. 


"Nona ... Nona Hani? Anda akhirnya menghubungi kami? Perintah Anda, Nona?"


Hani menatap foto Jaka yang masih terpajang di dinding kamar dengan tatapan kosong, lalu tersenyum menyeringai.


"Siapkan jet pribadi dan aktifkan kembali seluruh asetku yang membeku. Jaka mengira aku sudah tamat, maka mari kita tunjukkan padanya siapa pemilik panggung yang sebenarnya."


***

Bab 2

"Nona Hani, seluruh aset Anda senilai triliunan rupiah telah aktif sepenuhnya, dan target kita saat ini sedang merayakan 'kebebasannya' di sebuah resor mewah di Bali," lapor Restu dari seberang telepon, suaranya terdengar sangat patuh dan tak sabar menunggu perintah selanjutnya.


Hani yang saat ini sedang duduk di kursi kayu tuanya tersenyum tipis. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk meja, polanya berirama, seolah sedang memainkan melodi kehancuran untuk sang suami.


"Bagus, Restu. Tapi jangan sentuh dia seujung kuku pun. Permainan ini akan sangat membosankan jika berakhir terlalu cepat," sahut Hani, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan.


Di tempat pelariannya, Jaka mengira dia telah berhasil melakukan kejahatan sempurna. 


Dia pikir dia bisa hidup bergelimang harta bersama selingkuhannya, Siska, setelah meninggalkan Hani dalam kubangan utang. 


Jaka tidak pernah tahu bahwa perusahaan kosmetik tempat Siska bekerja, hotel tempat mereka menginap, bahkan bank tempat Jaka menyimpan uang hasil curiannya, semuanya berada di bawah payung gurita bisnis milik keluarga Hani.


Hani tidak butuh hukum atau polisi untuk menghukum Jaka. Penjara terlalu nyaman untuk pengkhianat seperti suaminya. 


Hani akan menggunakan kekuasaannya untuk membolak-balikkan hidup Jaka sampai pria itu memohon-mohon untuk mati.


"Apa langkah pertama Anda, Nona?" tanya Restu lagi.


"Jaka sangat bangga dengan uang lima ratus juta yang dia bawa lari, bukan? Buat dia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia hari ini, lalu jatuhkan dia ke titik terendah besok pagi," perintah Hani dingin. 


"Hubungi pihak hotel. Katakan pada mereka bahwa Jaka terpilih sebagai pemenang 'Undian Tamu VIP' dan berhak mendapatkan voucer investasi gratis senilai dua miliar rupiah."


"Voucer investasi? Tapi Nona, itu justru akan membuatnya semakin kaya," Restu tampak bingung.

Hani terkekeh pelan, sebuah kekehan yang bisa membuat bulu kuduk siapa pun merinding. 


"Tentu saja, Restu. Biarkan dia menginvestasikan seluruh uangnya ke sana. Setelah semua uangnya masuk, buat perusahaan investasi itu 'bangkrut' dalam waktu satu malam akibat manipulasi pasar. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya tanpa tahu siapa yang menjatuhkannya."


"Dimengerti, Nona. Lalu bagaimana dengan para penagih utang yang mendatangi rumah Anda?"


Hani melirik pintu depan rumahnya yang tadi pagi sempat digedor-gedor lagi. 


"Biarkan mereka datang besok. Aku masih ingin menikmati peran sebagai istri yang teraniaya sebentar lagi. Kirimkan seseorang untuk membeli surat utangku dari bos mereka, jadi secara hukum, akulah yang memegang kendali atas nasibku sendiri."


"Perintah dilaksanakan, Nona. Semua akan rapi sebelum matahari terbit."


Hani mematikan sambungan telepon. Dia berjalan menuju cermin besar di kamarnya. 


Wajahnya yang polos tanpa riasan tetap memancarkan kecantikan yang berkelas. 


Jaka selalu menganggapnya sebagai wanita rumahan yang bodoh, yang hanya bisa memasak dan mencuci bajunya. 


Jaka lupa, atau lebih tepatnya tidak pernah tahu, bahwa wanita yang dinikahinya ini adalah orang yang mengendalikan separuh perputaran ekonomi di kota ini.


Nikmatilah hari kemenanganmu yang singkat ini, Jaka, batin Hani sambil merapikan rambutnya. 


Karena mulai besok, setiap embusan napas yang kamu hirup adalah atas izin dariku.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...