Suamiku dilempar makanan basi oleh mertuaku. Suamiku yang tidak terima langsung mengamuk dan mengusir mertuaku. Kukira selama ini suamiku lemah, tapi ternyata suamiku...
***
"Makan ini, dasar anak tak berguna! Suami istri sama-sama benalu, pantasnya memang menelan sampah busuk!"
PRANG!
Aroma asam dan menyengat seketika menguar tajam, memenuhi seluruh penjuru ruang tamu kami yang sempit.
Aku terkesiap, napasku seakan berhenti di tenggorokan saat melihat kuah kental sayur lodeh yang sudah berjamur itu menetes dari rambut dan kemeja lusuh suamiku.
Mertuaku, wanita yang selama ini selalu menganggapku sebagai kutukan dalam keluarganya, berdiri berkacak pinggang dengan wajah angkuh.
Tangannya baru saja melemparkan mangkuk berisi makanan sisa tiga hari lalu itu tepat ke arah wajahku, namun Hanan dengan sigap pasang badan dan melindungiku agar tak terkena cipratannya sedikipun.
Tubuhku gemetar hebat.
Selama pernikahan kami, Hanan selalu menunduk. Dia pria yang sangat baik, tapi dia tak pernah berani melawan ibunya.
Aku sudah terbiasa melihatnya menelan ludah, meminta maaf, dan membersihkan kekacauan yang dibuat wanita tua itu.
Kukira hari ini akan sama. Kukira suamiku akan kembali menjadi pria lemah yang hanya bisa terdiam pasrah.
Namun, aku salah besar.
Hanan tidak menunduk. Tangan kasarnya perlahan mengusap sisa kuah busuk di pelipisnya.
Saat ia mengangkat wajah, rahangnya mengeras. Sorot matanya yang biasa teduh kini menajam, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi hingga membuat bulu kudukku meremang.
"Apa yang kau lihat?!" bentak mertuaku, meski nada suaranya terdengar sedikit goyah melihat tatapan putranya.
"Mau melawan?! Aku ini ibumu! Berani kau menatapku seperti itu demi perempuan mandul ini?!"
Hanan melangkah maju. Satu langkahnya entah kenapa terasa begitu berat dan penuh kuasa.
"Cukup."
Hanya satu kata. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun bergema dengan ketegasan mutlak yang tak terbantahkan.
"Mas Hanan," panggilku lirih, takut setengah mati.
"Keluar dari rumahku. Sekarang," desis Hanan. Tangannya menunjuk lurus ke arah pintu yang terbuka.
Mata mertuaku melotot seakan mau keluar dari sarangnya.
"Kau mengusirku?! Anak durhaka! Kalian ini gembel yang bahkan untuk makan saja kesusahan! Berani-beraninya kau mengusirku dari rumah ini!"
"Aku bilang, keluar."
Hanan melangkah semakin dekat, menjulang di hadapan wanita yang telah melahirkannya itu.
Entah kilatan apa yang ada di mata suamiku saat ini, tapi wanita tua yang biasanya sangat arogan itu mendadak pucat pasi.
Ia mundur perlahan, bibirnya bergetar hebat, seolah sedang berhadapan dengan malaikat maut.
Tanpa berani mengucapkan satu makian pun lagi, mertuaku berbalik dan berjalan cepat keluar dari pekarangan rumah kami dengan wajah ketakutan.
BRAK!
Hanan membanting pintu hingga tertutup rapat, lalu menguncinya. Hening seketika menyelimuti kami.
Aku masih membeku di sudut ruangan, tak percaya dengan pemandangan yang baru saja kusaksikan.
Apakah itu benar-benar Hanan? Suamiku yang penurut dan gampang ditindas?
Perlahan, punggung tegap Hanan berbalik menatapku. Tatapan tajam pembunuhnya langsung lenyap tak berbekas. Ia tersenyum lembut, lalu mendekat dan berlutut di hadapanku, meraih kedua tanganku yang sedingin es.
"Mas." Suaraku bergetar, air mataku akhirnya tumpah.
"Kamu ... kamu mengusir Ibu? Bagaimana kalau keluarga besarmu marah? Bagaimana kalau kita tidak diakui lagi, Mas? Nanti kita mau hidup pakai apa?"
Hanan mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya yang bebas dari noda. Tatapannya begitu dalam, memancarkan perlindungan mutlak sekaligus penyesalan yang luar biasa.
"Maafkan aku karena membiarkanmu menderita selama ini, Melina. Aku diam bukan karena aku lemah. Aku hanya mencoba menahan diri demi menghormati wanita yang telah memberiku nyawa. Tapi saat dia berani menyentuh dan merendahkanmu, kesabaranku sudah habis."
Hanan mengecup punggung tanganku dengan lembut, lalu menatap mataku lekat-lekat.
"Kamu tidak perlu takut dibuang oleh keluarga miskin dan serakah itu, Sayang. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh menghinamu lagi. Karena asal kamu tahu, sebenarnya suamimu ini adalah ..."
***
Bab 2
"... sebenarnya suamimu ini adalah orang yang memegang kendali atas semua kesombongan mereka."
Napas Melina tercekat. Mata sayunya membelalak lebar, menatap lurus ke dalam netra legam suaminya.
Ruang tamu kecil yang masih menyisakan aroma tak sedap itu mendadak terasa hampa, tergantikan oleh ketegasan luar biasa yang menghentak dada.
Tidak ada lagi Hanan yang selalu menunduk pasrah. Pria di hadapannya kini memancarkan wibawa dan aura misterius yang belum pernah Melina lihat sebelumnya.
"Maksud Mas Hanan?" bisik Melina pelan. Tangannya tanpa sadar meremas ujung kemeja Hanan.
"Kendali apa? Bukankah sebulan yang lalu saat kamu pulang, kamu bilang kontrak kerjamu di luar negeri diputus dan kita harus hidup berhemat?"
Hanan tersenyum, sebuah senyuman tipis yang menyiratkan kecerdasan dan ketenangan. Pria itu bangkit perlahan, melepaskan kemejanya yang bernoda, lalu membimbing istrinya untuk duduk di sofa tua mereka.
"Sebulan ini adalah ujian, Sayang," jelas Hanan lembut, suaranya tenang namun begitu menguasai suasana.
"Aku tidak pernah dipecat. Aku sengaja pulang dengan pakaian lusuh, kantong kosong, dan berpura-pura jatuh miskin. Aku ingin melihat, seberapa besar cinta dan penerimaan keluargaku saat aku tak punya apa-apa. Ternyata dugaanku benar."
Melina terdiam, mencoba mencerna rentetan kalimat suaminya. Ingatannya kembali pada kejadian satu bulan terakhir.
Betapa angkuhnya Mas Danang, kakak iparnya itu, memamerkan mobil mewah baru dan menyindir Hanan sebagai beban keluarga.
Betapa teganya ibu mertuanya menyuruh Melina mengerjakan tugas setara asisten rumah tangga di rumah besar mereka hanya demi sisa lauk pauk.
"Aku bisa diam jika hanya aku yang direndahkan," lanjut Hanan, rahangnya kembali menegang saat mengingat kejadian pelemparan makanan sore ini.
"Tapi melihat mereka berani melukaimu dan menginjak harga dirimu, itu adalah garis batas yang tidak seharusnya mereka lewati."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" tanya Melina, rasa khawatir masih tersisa di hatinya.
"Kamu tidak akan bertindak gegabah, kan? Aku tidak ingin kamu berdebat keras atau sampai bertengkar fisik dengan Mas Danang."
Hanan meraih tangan Melina, mengecupnya dengan penuh penghormatan.
"Kita tidak akan mengotori tangan kita dengan hal semacam itu, Melina. Pembalasan terbaik bukanlah dengan teriakan atau amarah," ucap Hanan, matanya menatap tajam ke depan, seolah sedang menyusun bidak catur yang mematikan.
"Kita akan biarkan mereka merasa terbang sangat tinggi. Mas Danang sangat membanggakan posisinya, bukan? Ibu selalu memuja kakakku karena kehidupan mewahnya. Kita akan mengambil apa yang paling mereka agungkan secara diam-diam. Tanpa mereka sadari dari mana asalnya."
Melina menatap suaminya dengan takjub. Pria di hadapannya ini adalah seorang ahli strategi yang tengah merancang permainan sempurna.
Meski Melina belum tahu apa sebenarnya pekerjaan Hanan di luar negeri sana, satu hal yang ia yakini: suaminya bukan lagi pria tak berdaya.
Hanan kemudian mengambil ponselnya yang layarnya sudah retak, menekan satu nomor tanpa nama yang selama sebulan ini tak pernah ia hubungi. Panggilannya diangkat pada dering pertama.
"Mulai jalankan rencananya," ucap Hanan melalui sambungan telepon, suaranya sedingin es.
"Tahan semua aliran utamanya secara perlahan. Biarkan dia merasa pestanya besok lusa adalah puncak kejayaannya, sebelum kita tarik karpet merah itu tepat dari bawah kakinya."
Hanan menutup telepon dan menatap istrinya yang masih terpaku. Ia membelai rambut Melina dengan lembut.
"Mas, kita diundang ke pesta perayaan jabatan Mas Danang lusa nanti," cicit Melina ragu.
"Tapi kita mau pakai baju apa ke sana? Bagaimana kalau Ibu dan Mas Danang mengusir kita di depan banyak orang?"
Senyum di bibir Hanan melebar, memancarkan kepastian yang membuat hati Melina seketika tenang.
"Pakai saja gaun biasamu yang paling rapi, Sayang. Biarkan mereka tertawa dan mencemooh saat kita datang," bisik Hanan tepat di depan wajah istrinya.
"Karena sebelum malam itu berakhir, aku akan memastikan mereka berlutut memohon pada orang yang baru saja dilempar sayur basi."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar