"Mulai besok kamu dipecat! Perusahaan ini sekarang milikku dan calon istri baruku!"
Suamiku melempar surat pemecatan dan surat cerai ke wajahku. Dia tidak tahu, justru inilah kehancuran untuknya, dia akan kembali miskin dengan selingkuhannya karena...
***
"Mulai besok kamu dipecat! Perusahaan ini sekarang milikku dan calon istri baruku!"
Kalimat itu meluncur bersama selembar kertas putih yang menghantam pipiku sebelum akhirnya mendarat mengenaskan di atas lantai marmer.
Di sebelahnya, menyusul map cokelat berisi surat gugatan cerai.
Retno, lelaki yang bersamaku selama lima tahun ini, berdiri berkacak pinggang dengan senyum jumawa.
Di lengan kanannya, menggelayut manja seorang wanita muda berpakaian ketat yang menatapku dengan pandangan penuh kemenangan.
"Kenapa diam? Kaget?" Retno terkekeh sinis. "Sadar diri, Indah. Kamu itu cuma pajangan usang di kantor ini. Selama ini aku bertahan sama kamu cuma karena kasihan. Tapi sekarang? Aku sudah punya segalanya. Perusahaan ini sudah resmi atas namaku, dan posisi kamu sebagai Direktur Operasional, sudah digantikan oleh calon istriku."
Aku menatap kertas di lantai, lalu beralih menatap wajah suamiku—ah, maksudku calon mantan suamiku.
Tidak ada air mata. Tidak ada histeria. Hanya ada rasa geli yang mati-matian kutahan di dalam dada.
Dia benar-benar mengira dia yang membangun semua kemewahan ini?
"Mas Retno yakin dengan keputusan ini?" tanyaku, mengatur nada suaraku sedatar dan sepasrah mungkin.
Aku harus memainkan peran ini dengan sempurna agar kejatuhannya nanti terasa jauh lebih menyakitkan.
"Sangat yakin!" sela si selingkuhan dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
"Lagipula, perempuan kampung kayak kamu mana cocok memimpin perusahaan fashion sebesar ini? Mas Retno itu butuh pendamping yang berkelas, bukan yang cuma tahu urusan dapur dan laporan bulanan!"
Retno mengangguk setuju, mengusap kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Kamu dengar sendiri, kan? Lagipula, Restu sudah berbeda, Indah. Restu dari orang tuaku, dari lingkaran bisnisku, semuanya sekarang mengalir untuk calon istri baruku ini. Kamu? Kamu itu cuma masa lalu yang menghambat karierku."
Aku menghela napas panjang, membungkuk perlahan untuk mengambil surat pemecatan dan gugatan cerai tersebut.
Di sudut bibirku, sebuah senyuman tipis yang tak mereka sadari mulai terukir.
Retno tidak pernah tahu. Dia tidak pernah tahu siapa aku sebenarnya di balik nama 'Indah' yang sederhana ini.
Dia terlalu buta oleh keserakahan hingga lupa membaca detail kecil di balik akta pendirian perusahaan, investor misterius yang menyuntikkan dana ratusan miliar saat dia hampir bangkrut dulu, dan siapa pemilik asli tanah tempat gedung megah ini berdiri.
Dia mengira restu dari orang tua dan relasi bisnisnya adalah segalanya. Dia tidak tahu, restu yang sesungguhnya memegang kendali atas seluruh hidup dan napas finansialnya justru baru saja dia lempar ke lantai.
Tanpa 'restu' dariku, besok pagi seluruh asetnya tak lebih dari sekadar tumpukan utang.
Aku menegakkan tubuh, menatap lurus ke dalam manik mata Retno dengan ketenangan yang mendadak membuat senyum pria itu agak menyusut.
"Baik, kalau itu maumu, Mas. Silakan nikmati puncak kejayaanmu malam ini bersama calon istri barumu," ucapku pelan, melangkah mundur menuju pintu keluar sambil melambaikan kertas pemecatan di tangan.
Retno mengernyitkan dahi, mendadak merasa tidak nyaman dengan ketenanganku.
"Apa maksudmu? Kamu mengancamku?"
Aku memegang gagang pintu, menoleh ke belakang dengan tatapan paling dingin yang pernah dia lihat seumur hidupnya, lalu berbisik tajam.
"Mari kita lihat, seberapa lama kamu bisa bertahan di atas takhta ini setelah kamu memecat pemilik asli dari seluruh duniamu."
***
Bab 2
"Jangan pernah mengemis untuk kembali saat kamu melihat kami di puncak kesuksesan, Indah!"
Teriakan Retno menggema di koridor, mengiringi langkah kakiku yang mantap meninggalkan ruangan yang dulu penuh dengan keringat dan ide-ideku.
Aku bahkan tidak menoleh. Untuk apa? Seseorang yang sedang berjalan menuju jurang tidak perlu diberi tahu bahwa mereka sebentar lagi akan jatuh. Mereka harus merasakannya sendiri.
Aku masuk ke dalam mobil, melempar tas dan map cokelat itu ke kursi penumpang.
Aku mengambil ponsel, mengetik sebuah pesan singkat kepada pengacara pribadi keluarga besarku yang selama lima tahun ini identitasnya kurahasiakan dari Retno.
[Tarik semua investasi tanpa jejak. Batalkan kontrak sewa gedung atas nama perusahaan Retno per besok pagi. Dan satu lagi, aktifkan klausul penalti untuk semua vendor utama.]
Balasan datang kurang dari satu menit.
[Dimengerti, Nona. Semua akan selesai sebelum matahari terbit.]
***
Keesokan harinya, aku sengaja datang ke sebuah kafe premium yang terletak tepat di seberang gedung kantor Retno.
Dari balik kaca besar yang buram, aku menyesap teh kamomil dengan tenang, menikmati pemandangan kekacauan yang mulai terjadi.
Hanya butuh waktu tiga jam setelah jam kantor dimulai.
Dari kejauhan, aku bisa melihat mobil-mobil mewah milik para investor utama terparkir sembarangan di depan lobi. Wajah-wajah panik mulai bermunculan.
Ponselku bergetar. Nama Retno berkedip di layar. Aku membiarkannya berdering sampai panggilan ketiga, sebelum akhirnya mengangkatnya dengan nada suara yang sangat tenang.
"Indah! Kamu di mana?!" Suara Retno terdengar bergetar, kehilangan seluruh keangkuhan yang dia pamerkan kemarin.
"Kamu melakukan sesuatu pada sistem perusahaan, kan? Kenapa semua investor tiba-tiba menarik modal secara serentak? Bahkan pemilik gedung mengirim surat pengosongan dalam waktu 24 jam! Apa yang kamu lakukan?!"
"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa, Mas," jawabku lembut, hampir seperti berbisik.
"Bukankah kemarin kamu sendiri yang bilang bahwa aku ini tidak berguna dan hanya pajangan usang? Bagaimana mungkin seorang pajangan bisa menghancurkan perusahaan besarmu dalam semalam?"
"Jangan bohong! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan! Siapa yang ada di belakangmu?!" cecar Retno, napasnya memburu, terdengar suara tangisan histeris calon istri barunya di latar belakang yang panik karena semua fasilitas kartu kredit perusahaan mendadak diblokir.
Aku meletakkan cangkir tehku perlahan, membiarkan denting porselen yang halus terdengar di seberang telepon.
Aku tersenyum, membayangkan wajah Retno yang kini pasti sudah pucat pasi menyadari seluruh dunianya runtuh tanpa dia tahu dari mana arah serangannya.
Aku menghirup napas dalam-dalam, bersiap memberikan pukulan tak kasat mata yang akan membuatnya terjaga sepanjang malam.
"Aku tidak menyembunyikan siapa pun, Mas. Kamu hanya lupa bahwa fondasi rumah yang megah sekalipun akan runtuh seketika saat kamu mengusir tanah yang menopangnya secara sukarela."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar