"Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!"
Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...
***
"Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!"
Kalimat itu meluncur begitu ringan dari bibir Wendi, suamiku, bersamaan dengan sesapan santainya pada cangkir kopi pagi ini.
Ia bahkan tidak repot-repot menatap mataku saat mengatakannya.
Tatapannya lurus ke arah layar ponsel, jemarinya sibuk menggulir layar dengan raut wajah tanpa dosa.
Aku terdiam sejenak. Pandanganku beralih ke arah garasi luar yang melompong. Mobil SUV putih yang kubeli dengan 'uang belanjaku' sendiri itu sudah tidak ada di sana.
Lenyap, ditukar dengan keegoisan seorang laki-laki yang merasa dirinya adalah raja di rumah ini.
"Kamu menjualnya tanpa bertanya padaku dulu, Mas?" tanyaku. Nada suaraku datar, sangat tenang. Jauh dari ekspektasi Wendi yang mungkin mengira aku akan menangis histeris atau melempar piring.
Wendi mendecak pelan, meletakkan cangkirnya dengan kasar.
"Untuk apa aku minta izin? Aku ini kepala keluarga. Rina butuh modal untuk buka kafe, dan kamu ... kamu itu cuma di rumah, Nagita. Nyuci, masak, nonton TV. Kalau mau ke pasar, pesen ojek online kan bisa. Jangan egois jadi perempuan."
Aku tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Wendi tidak menyadari adanya perubahan tajam pada sorot mataku.
Egois katanya? Selama lima tahun pernikahan ini, aku diam.
Aku meredupkan diriku, menyembunyikan duniaku yang sebenarnya hanya agar Wendi, seorang pria yang merintis karir dari bawah, tidak merasa terintimidasi oleh istrinya sendiri.
Aku memakai daster sederhana, menawar sayur di pasar, dan membiarkan dia merasa menjadi satu-satunya pilar kebanggaan keluarga.
Dan inilah balasannya.
Wendi bangkit berdiri, merapikan jas kerjanya yang harganya bahkan tidak sampai setengah dari harga sepatuku yang tersimpan rapat di brankas. Ia menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
"Oh ya, satu lagi," ucapnya sambil menyambar tas kerjanya. "Besok malam perusahaanku mengadakan Gala Dinner ulang tahun perusahaan. Semua petinggi, termasuk Komisaris Utama yang selama ini identitasnya disembunyikan, kabarnya akan hadir."
"Lalu?" pancingku, masih mempertahankan wajah tanpa ekspresi.
"Kamu di rumah saja. Jangan coba-coba datang," desis Wendi tajam. "Acara itu sangat eksklusif. Aku sedang mengincar posisi Direktur Pemasaran, dan aku tidak mau reputasiku hancur hanya karena bos-bosku melihat istriku yang penampilannya seperti asisten rumah tangga. Mengerti?"
Tanpa menunggu jawabanku, Wendi berbalik dan melangkah keluar rumah, memanggil taksi online yang sudah ia pesan.
Meninggalkanku yang masih berdiri di ruang makan dengan keheningan yang kini terasa sangat berbeda.
Dulu, keheningan ini terasa seperti pengorbanan cinta. Hari ini, keheningan ini adalah genderang perang.
Pernikahan ini sudah berakhir detik ini juga. Wendi telah menggali kuburannya sendiri, dan aku dengan senang hati akan mendorongnya masuk.
Aku berjalan pelan menuju kamar, mengunci pintu, dan membuka sebuah panel rahasia di balik lemari pakaian yang tidak pernah diketahui Wendi.
Di dalamnya, sebuah ponsel hitam dengan lapisan keamanan tingkat tinggi menyala saat mendeteksi sidik jariku.
Aku menekan satu nomor panggilan cepat. Tiga detik kemudian, suara tegas dari seberang sana terdengar.
"Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa saya siapkan?"
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajah 'ibu rumah tangga' yang lugu itu telah lenyap, digantikan oleh aura dingin yang selama bertahun-tahun kutidurkan.
"Siapkan dokumen perceraianku, dan kirimkan gaun malam paling eksklusif yang pernah dirancang untukku. Besok malam, aku akan memastikan seorang pria sombong berlutut mengemis di depan seluruh jajaran direksinya."
***
Bab 2
"Pastikan namanya ada di daftar kandidat utama untuk promosi malam ini. Buat dia merasa seolah sudah memenangkan segalanya, terbang menembus awan, sebelum aku sendiri yang mencabut sayapnya."
Aku menyesap teh kamomilku dengan tenang, membiarkan asisten kepercayaanku, Bram, mencatat setiap instruksiku di ujung telepon.
Tidak perlu ada teriakan atau barang yang dibanting.
Pembalasan terbaik selalu disajikan dalam keadaan dingin, dirancang dengan keanggunan yang tidak akan pernah bisa diantisipasi oleh pria mana pun, apalagi Wendi.
Di kantornya saat ini, Wendi pasti sedang tersenyum lebar. Rencananya untuk mendanai kafe adiknya dengan uang hasil penjualan mobilku berjalan tanpa hambatan, dan undangan VIP untuk acara malam ini sudah berada di genggamannya.
Dia sama sekali tidak tahu, bahwa setiap karpet merah yang ia injak hari ini, adalah jaring sutra yang sengaja aku pintal untuk menjeratnya.
Menjelang sore, Wendi pulang lebih awal. Langkahnya ringan, wajahnya berbinar penuh keangkuhan.
Aku masih memainkan peranku dengan sempurna. Berdiri di ruang tengah, aku merapikan kerah kemeja yang akan ia pakai, sebuah rutinitas terakhir yang kulakukan sebagai 'Nagita, sang istri penurut'.
"Sudah rapi, Mas?" tanyaku lembut, seolah kejadian kemarin pagi tentang mobilku hanyalah angin lalu.
Wendi merampas jasnya dari tanganku tanpa mengucapkan terima kasih.
"Sempurna. Malam ini adalah penentuannya. Direktur Utama sendiri yang akan mengumumkan promosi itu. Aku pastikan, setelah malam ini, posisi kita akan semakin berjarak."
Ia menatapku dari pantulan cermin, senyum meremehkan itu kembali terukir.
"Dan ingat, kamu di rumah saja. Pesankan makanan dari luar kalau kamu lapar, asal jangan pakai uang belanja yang kuberikan untuk foya-foya. Tamu-tamu di acara malam ini adalah elit bisnis, orang-orang dengan wawasan luas. Kalau kamu ikut, kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, dan tentu saja, mempermalukanku."
Aku hanya menunduk sedikit, menyembunyikan senyum simpul yang nyaris lolos.
"Tentu, Mas. Semoga malam ini menjadi malam yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu."
Ia mendengus bangga, menyemprotkan parfum mahalnya, lalu melangkah pergi meninggalkanku.
Suara pintu yang ditutup rapat menjadi pertanda bahwa babak penderitaannya telah dimulai.
Begitu deru mesin mobil yang menjemputnya menghilang di ujung jalan, keheningan rumah ini kembali dipecahkan oleh dering ponsel rahasiaku.
"Semua persiapan telah selesai, Nyonya. Mobil Anda sudah menanti di luar. Gaun, perhiasan, dan tim penata rias sudah bersiap di penthouse hotel yang berada tepat di atas ballroom acara," lapor Bram dengan nada yang mengalun tegas.
"Terima kasih, Bram. Aku segera turun."
Tiga jam berlalu dengan begitu cepat. Kini, gemerlap lampu kristal dari luar ballroom mulai memantul di kaca jendela mobil mewahku yang berhenti tepat di depan pintu masuk VIP.
Dari balik kaca berlapis privasi ini, aku bisa melihat suasana foyer yang dipenuhi petinggi perusahaan.
Di tengah-tengah mereka, berdiri Wendi. Ia sedang tertawa lepas bersama rekan-rekannya, memegang gelas minuman dengan dagu terangkat tinggi, tampak begitu menikmati ilusi kekuasaannya.
"Tuan Wendi baru saja dipersilakan menempati kursi paling depan, Nyonya. Tepat di bawah podium," ucap Bram yang duduk di kursi kemudi, melirikku melalui kaca spion dalam.
"Dia terlihat sangat antusias menantikan kedatangan Komisaris Utama."
Aku tersenyum penuh arti. Tanganku bergerak pelan, memoleskan lipstik merah gelap di bibirku sebagai sentuhan terakhir dari transformasi ini. Bayangan wanita berdaster yang tadi sore menyetrika kemeja itu sudah mati.
"Bagus. Biarkan dia menikmati sorotan panggungnya lima menit lagi. Setelah itu, perintahkan pembawa acara untuk memanggil namaku. Mari kita sapa 'karyawanku' yang paling membanggakan malam ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar