Menantuku selalu membuat makanan basi untuk anakku. Setelah kuselidiki, ternyata selama ini anakku selingkuh. Akhirnya kubantu menantuku dengan...
***
"Buang saja semua makanan ini ke tempat sampah, Ma! Istri tidak tahu diuntung, masa setiap hari selalu memasak makanan basi untuk suaminya?!"
Gala membanting sendok ke atas meja makan. Napasnya memburu, wajahnya merah padam menatap piring berisi oseng cumi yang aromanya memang agak masam.
Di sebelahnya, Irma hanya menunduk dalam. Jari-jemarinya saling bertautan dengan erat, gemetar, sementara air mata sudah menggenang di pelupuk matanya tanpa berani menetes.
Aku, Widya, menatap putra tunggalku dan menantuku bergantian. Sebagai ibu kandung Gala, naluriku mendadak terusik.
Ada yang aneh. Irma adalah menantu yang kupilih sendiri karena sifatnya yang lemah lembut dan sangat pintar memasak.
Mana mungkin dalam seminggu terakhir ini dia mendadak bertingkah konyol dengan menyajikan makanan busuk untuk suaminya sendiri?
"Gala, jaga bicaramu," tegurku datar, berusaha menahan emosi. "Mungkin Irma lelah, atau ada bumbu yang salah."
"Salah bumbu bagaimana, Ma? Ini sudah kelewatan! Kalau Mama tidak percaya, coba saja sendiri!"
Gala berdiri, menyambar tas kerjanya dengan kasar, lalu melangkah lebar keluar rumah tanpa mencium tanganku ataupun berpamitan pada istrinya.
Suara pintu depan yang berdentum keras menyisakan keheningan yang mencekam di ruang makan.
Aku mengalihkan pandangan pada Irma. Menantuku itu langsung berlutut di dekat kakiku, terisak pelan.
"Maaf, Mama. Maafkan Irma. Irma memang bukan istri yang baik."
Aku berjongkok, memegang kedua pundak Irma, lalu menatap matanya dalam-dalam.
"Irma, tatap Mama. Kamu sengaja, kan? Ada apa sebenarnya?"
Irma tersentak. Dia menggeleng cepat dengan kepanikan yang terpancar jelas di matanya.
"Enggak, Ma. Irma cuma ... cuma teledor."
Jawaban yang terlalu instan. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
***
Siangnya, setelah Irma pamit ke pasar, aku memutuskan untuk menyelidiki kamar mereka.
Hatiku tidak tenang. Aku mulai memeriksa laci-laci, lemari pakaian, hingga ke sudut-sudut meja kerja Gala.
Hingga akhirnya, mataku tertuju pada sebuah jaket kerja Gala yang tergantung di balik pintu. Dari kantong dalamnya, menyembul selembar kertas kecil berlogo laboratorium klinik swasta.
Penasaran, aku mengambil dan membukanya. Jantungku mencelos seketika.
Itu adalah hasil tes DNA prenatal, tes patologis untuk janin yang masih di dalam kandungan.
Di sana tertulis nama Gala sebagai pemohon, dan nama seorang wanita bernama 'Vanya' sebagai pihak ibu. Hasil probabilitas penanda genetik: 99,9% Identik.
Duniaku serasa berputar.
Anak laki-laki yang kubesarkan dengan nilai-nilai agama dan kehormatan, ternyata berselingkuh di luar sana.
Bahkan selingkuhannya sedang mengandung darah dagingnya.
Belum sempat aku meredakan syok, sebuah ponsel lama di dalam laci meja kerja Gala yang sepertinya tertinggal, bergetar.
Ada pesan WhatsApp masuk yang terpampang di layar kunci dari kontak bernama 'Vanya'.
[Sayang, hari ini jangan lupa transfer uang bulanan untuk bayar sewa apartemen, ya. Anak kita di dalam perut udah kangen pengen makan steak mewah. Untung kamu selalu bisa makan hemat di rumah karena masakan basi istrimu itu, jadi uangnya bisa buat aku semua.]
Deg.
Seketika, potongan-potongan teka-teki di kepalaku menyatu dengan sempurna.
Pantas saja Irma selalu memasak makanan basi!
Itu adalah satu-satunya cara Irma agar Gala tidak makan di rumah, sehingga Gala terpaksa mengeluarkan uang untuk makan di luar dan mengurangi jatah uang yang bisa dia berikan untuk selingkuhannya.
Irma sudah tahu semuanya, dan dia sedang menahan luka ini sendirian sambil menguras isi dompet Gala secara perlahan dengan caranya sendiri.
Air mataku menetes, bukan karena kecewa pada Irma, tapi karena murka pada darah dagingku sendiri.
Gala sudah menjelma menjadi bajingan, dan dia tega menginjak-injak ketulusan wanita sebaik Irma.
Awas kamu Gala, Ibu akan buat perhitungan untukmu! Kamu pasti akan menyesal telah selingkuh!
***
Gala pulang dengan wajah ketus. Di meja makan, Irma kembali menyajikan semangkuk sup ayam yang kuahnya tampak berminyak aneh dan berbau kecut.
Gala langsung mendengus jijik.
"Lagi?! Kamu sengaja mau meracuni aku, Irma?! Ma, lihat menantu kesayangan Mama ini! Mulai hari ini, Gala mau cerai dari Irma!"
Irma hanya diam, menggigit bibir bawahnya, siap menerima makian. Namun, sebelum Gala sempat melontarkan kata-kata kasar berikutnya, aku berjalan mendekat.
Bukannya memarahi Irma, aku justru mengambil mangkuk sup basi itu, lalu dengan gerakan cepat, aku menyiramkan seluruh isinya tepat ke atas kepala Gala.
Byur!
Kuah sup yang masam dan potongan ayam mendarat di rambut dan kemeja mahal Gala. Suasana rumah seketika hening mencekam. Gala mematung dengan mata melotot syok, sementara Irma menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan.
Aku menatap Gala dengan pandangan sedingin es, lalu tersenyum menyeringai.
"Bukan cuma makanannya yang basi, Gala, tapi otak, hati, dan seluruh harga dirimu juga sudah busuk karena perempuan murahan itu!"
***
"Ma! Apa-apaan ini?! Kenapa Mama malah menyiram Gala?!"
Suara Gala meninggi, bergetar menahan syok dan amarah yang luar biasa sembari mengusap kuah sup yang menetes dari wajahnya.
Irma di sampingnya langsung bergerak mundur, wajahnya pucat pasi melihatku yang masih menggenggam mangkuk kosong dengan ekspresi yang sangat tenang.
Aku menarik napas panjang, lalu mengubah raut wajahku dalam sekejap menjadi ekspresi panik yang dibuat-buat.
"Astaga, Gala! Maafkan Mama, Nak! Mama tadi mau mengusir lalat besar yang mau hinggap di kepalamu, tapi tangan Mama mendadak licin dan gemetar karena tekanan darah tinggi Mama kambuh!"
Aku memegang pelipisku, berpura-pura limbung agar sandiwara ini terlihat sempurna di mata Gala.
"Irma, cepat ambilkan handuk untuk suamimu. Dan Gala, bersihkan badanmu dulu. Maafkan Mama, ya, tensi Mama akhir-akhir ini memang sering naik kalau melihat kalian ribut terus."
Gala mendengus kasar, meski amarahnya mereda karena mengira ini murni kecelakaan akibat penyakitku.
Dengan langkah menghentak penuh kekesalan, dia berjalan menuju kamar mandi.
Begitu punggung Gala menghilang, aku menatap Irma yang sedang mengambil kain pel. Aku mendekatinya, lalu menahan tangannya dengan lembut.
"Simpan kain pelnya, Irma. Biar bibi yang urus. Ikut Mama ke kamar."
Di dalam kamar, pintu kukunci rapat. Irma berdiri dengan kepala tertunduk, meremas jemarinya ketakutan.
"Irma, buka tasmu," perintahku lembut namun tegas.
"Ma, Irma mohon, jangan ceraikan Irma dari Mas Gala," tangisnya pecah.
"Siapa yang bilang mau menceraikanmu?" Aku tersenyum hangat, lalu mengambil tas tangan Irma dan membukanya sendiri.
Aku mencari sesuatu di sana, hingga kutemukan sebuah buku tabungan atas nama Irma yang saldonya hampir kosong.
Aku juga memeriksa ponselnya. Benar saja, tidak ada bukti transferan nafkah yang layak dari Gala selama beberapa bulan terakhir.
Semuanya sudah dikuras oleh wanita bernama Vanya itu.
Aku menggenggam kedua tangan menantuku.
"Mama sudah tahu semuanya, Irma. Tentang Vanya, tentang hasil tes DNA itu, dan tentang alasan kenapa kamu selalu memasak makanan basi untuk Gala."
Irma terbelalak, air matanya seketika berhenti menetes karena terkejut.
"Mama ... Mama tahu?"
"Mama tahu kamu sengaja membuat Gala jengkel agar dia tidak makan di rumah, dan uang makannya habis untuk jajan di luar sehingga uang untuk selingkuhannya berkurang, kan?"
Aku mengusap air mata di pipi menantuku.
"Tapi caramu terlalu melelahkan untuk dirimu sendiri, Sayang. Menghadapi laki-laki tidak setia itu tidak perlu dengan mengotori tanganmu di dapur setiap hari. Mama punya cara yang lebih ampuh."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar