Minggu, 07 Juni 2026

Kutampar dan kuusir istriku demi membela selingkuhanku. Pagi itu juga, aku dipecat dan jatuh miskin. Betapa kagetnya aku saat rumahku disita dan ternyata istriku...


Kutampar dan kuusir istriku demi membela selingkuhanku. Pagi itu juga, aku dipecat dan jatuh miskin. Betapa kagetnya aku saat rumahku disita dan ternyata istriku...


***


Plak!


"Berani-beraninya kamu menyentuh Amara! Keluar dari rumahku sekarang juga, Restu!"


Bentakan Tirta menggema di seluruh sudut ruang tamu, memutus napas Restu yang kini terduduk di lantai dingin. 


Sudut bibir wanita itu berdarah, serasi dengan pipinya yang mulai memerah akibat tamparan keras Tirta. 


Di sudut lain, Amara, wanita yang selama tiga bulan ini menjadi duri dalam rumah tangga mereka, tersenyum sinis di balik pura-pura tangisnya.


Restu tidak menangis. Tidak ada setetes pun air mata yang jatuh. Ia hanya menatap Tirta dengan pandangan yang sulit diartikan, bukan tatapan terluka, melainkan tatapan kosong yang dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah yang tak lagi berharga.


"Kamu mengusirku, Mas? Hanya karena perempuan kegatalan ini?" suara Restu terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk seorang istri yang baru saja dikhianati dan ditampar.


"Jaga mulutmu! Amara wanita baik-baik, tidak seperti kamu yang hambar dan cuma tahu cara menghabiskan uangku! Pergi kamu! Pakaian dan barang-barang sialanmu sudah kulempar ke luar!" 


Tirta menunjuk pintu utama dengan telunjuk yang bergetar emosi.


Tanpa sepatah kata pun lagi, Restu bangkit berdiri. Ia merapikan gamis sederhananya yang sedikit kusut, lalu menatap Tirta untuk terakhir kalinya. 


Bibirnya melengkung tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang mendadak membuat tengkuk Tirta meremang. 


Restu melangkah keluar, menyeret koper tuanya tanpa menoleh lagi.


"Selesai sudah beban hidup kita, Sayang," bisik Amara manja, langsung memeluk lengan Tirta. 


Tirta mengembuskan napas lega, merasa telah memenangkan ego kelaki-lakiannya.


***


Namun, kemenangan Tirta hanya berumur beberapa jam.


Pukul sembilan pagi, Tirta baru saja menginjakkan kakinya di lobi PT Mahardika Karya, perusahaan tempatnya bekerja sebagai Manajer Pemasaran dengan gaji puluhan juta. Ia berjalan dengan dada membusung, sampai sebuah panggilan dari ruang HRD memecah kesombongannya.


"Ini surat PHK Anda, Tirta. Mulai detik ini, Anda dipecat secara tidak hormat karena pelanggaran kode etik berat dan pencemaran nama baik perusahaan," ucap Kepala HRD dingin, menyerahkan selembar kertas berlogo resmi.


"Apa?! Dipecat?! Atas dasar apa, Pak? Prestasi saya bagus!" protes Tirta, wajahnya seketika pias.


"Ini perintah langsung dari pemilik holding company kita yang baru. Seluruh aset Anda yang bersumber dari fasilitas kantor akan ditarik hari ini juga. Silakan kemas barang-barang Anda."


Dunia Tirta serasa runtuh. Baru tadi subuh dia merasa di atas angin, dan pagi ini dia terlempar ke dasar jurang. 


Dengan tubuh lemas dan pikiran kacau, Tirta pulang menggunakan taksi daring karena mobil dinasnya langsung disita di parkiran kantor.


Pukul sebelas siang, taksi yang membawa Tirta berhenti di depan rumah dinas mewahnya. Namun, pemandangan di depannya membuat jantung Tirta hampir copot.


Dua mobil mewah hitam terparkir di sana. Beberapa pria berjas hitam tampak berjaga di depan pagar, dan seorang pria paruh baya necis sedang menempelkan stiker besar berwarna merah di dinding rumahnya: ASET INI DISITA.


"Hei! Apa-apaan ini?! Kenapa rumah saya disita?!" teriak Tirta panik, langsung turun dari taksi dan berlari menghampiri pria berjas itu. 


Amara yang keluar dari dalam rumah dengan wajah pucat pasi langsung menghambur ke pelukan Tirta. 


"Mas, rumah kita disita! Mereka bilang kita harus keluar sekarang!"


"Maaf, Saudara Tirta," ucap pria berjas itu sambil menunjukkan dokumen resmi. 


"Rumah ini, beserta seluruh tanah dan aset di dalamnya, telah diambil alih oleh pemilik sah yang baru. Anda tidak lagi memiliki hak di sini."


"Mustahil! Rumah ini dibeli atas nama saya lewat program perusahaan!" Tirta berteriak frustrasi.


Tepat saat Tirta sedang mengamuk, pintu mobil mewah hitam di belakang mereka terbuka. Sepasang sepatu hak tinggi yang anggun menapak ke aspal. 


Sosok wanita dengan setelan blazer mahal, kacamata hitam, dan aura yang luar biasa berwibawa berjalan anggun mendekat. 


Dua pengawal berbadan besar langsung membungkuk hormat padanya.


Ketika wanita itu membuka kacamata hitamnya, Tirta dan Amara seketika membeku. Napas Tirta tercekat di tenggorokan.

Wanita di depannya adalah Restu.


Tidak ada lagi Restu yang memakai gamis murah atau daster rumahan. Restu yang berdiri di hadapannya sekarang memancarkan kemewahan dan kekuasaan yang tak tersentuh.


Tirta bergetar, lututnya lemas seketika. 


"R—Restu? K-kamu ... bagaimana bisa—"


Restu berjalan melewati Tirta seolah pria itu hanya angin lalu, lalu menoleh sedikit dengan tatapan merendahkan yang begitu mematikan.


"Satu tamparan dibalas dengan kemiskinan instan, adil kan, Mantan Suamiku?"


***


Bab 2

"Ambilkan semua barang pria ini, jangan biarkan selembar benang pun tersisa di dalam rumahku."


Suara Restu terdengar begitu tenang, namun getarannya sanggup membuat bulu kuduk Tirta meremang. 


Beberapa pria berbadan tegap langsung bergerak cepat masuk ke dalam rumah, mengemas semua pakaian dan barang milik Tirta serta Amara ke dalam kantong plastik hitam besar, lalu melemparkannya begitu saja ke atas aspal.


Tirta masih mematung, lidahnya mendadak kelu. Ia menatap Restu yang kini berdiri anggun di hadapannya. 


Rasanya baru beberapa jam lalu ia melayangkan tamparan keras ke pipi wanita ini, namun sekarang, posisi mereka berbalik seratus delapan puluh derajat.


"Restu, ini ada apa? Kamu pasti sedang bersandiwara, kan? Dari mana kamu punya uang untuk menyewa semua orang ini?!" Tirta mencoba tertawa, meski suaranya bergetar hebat menahan panik.


Restu tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis, senyuman misterius yang sama seperti saat ia diusir tadi subuh. 


Tanpa memandang Tirta lagi, Restu melangkah masuk ke dalam mobil mewah yang pintunya sudah dibukakan oleh sang pengawal. 


Mobil itu melesat pergi, meninggalkan debu yang menerpa wajah pias Tirta dan Amara.


"Mas, kita harus bagaimana? Aku tidak mau tidur di jalanan!" Amara merengek, menarik-narik kemeja Tirta yang kini mulai basah oleh keringat dingin.


Tirta tidak mendengarkan keluhan Amara. Pikirannya berputar hebat. Pemilik baru holding company yang memecatnya, penyitaan rumah, dan penampilan Restu yang berubah total, semua ini terlalu kebetulan untuk terjadi dalam waktu satu pagi.


***


Siang berganti malam, dan kesengsaraan Tirta baru saja dimulai. Dengan sisa uang di dompetnya, Tirta terpaksa membawa Amara menyewa sebuah kamar kos sempit di pinggiran kota. 


Kamar yang panas, pengap, dan berbau lembap—sangat jauh dari fasilitas mewah yang biasa ia nikmati.


"Aku lapar, Mas. Kita pesan makanan lewat aplikasi saja, ya?" keluh Amara sambil mengibas-ngibas lehernya yang kepanasan.


Tirta membuka ponselnya, berniat menggunakan kartu kredit untuk memesan makanan. 


Namun, saat ia menekan tombol pembayaran, sebuah notifikasi merah muncul di layar: [Transaksi Ditolak. Rekening Anda Ditangguhkan.]


Jantung Tirta mencelos. Ia segera memeriksa aplikasi perbankan miliknya. Angka di mutasi rekeningnya seketika membuat mata Tirta terbelalak. 


Saldo tabungannya yang berisi ratusan juta rupiah kini berubah menjadi nol. Bahkan, seluruh kartu kreditnya telah diblokir serentak oleh pihak bank.


"Tidak mungkin! Kenapa semua rekeningku dibekukan?!" Tirta berteriak frustrasi, menjambak rambutnya sendiri.


***.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...