Kucuri uang tabungan istriku untuk membiayai pernikahan adikku. Saat ketahuan, istriku justru tertawa lepas, betapa kagetnya aku saat istriku bilang...
***
"Kamu pikir aku akan hancur dan menangis darah memohon di kakimu setelah tahu seluruh isi ATM-ku kamu kuras habis untuk pesta mewah adikmu, Mas?"
Aku mematung di ambang pintu kamar. Jari-jariku yang masih memegang erat kartu ATM milik Andin mendadak terasa dingin.
Layar ponsel di tangan kiriku masih menyala, menampilkan bukti transfer yang berhasil kulakukan.
Tiga ratus juta rupiah. Lunas sudah berpindah ke rekening Siska, adik bungsuku, demi mewujudkan impian pernikahan mewahnya di sebuah hotel bintang lima lusa nanti.
Sebagai tulang punggung keluarga dan seorang Manajer di perusahaan bergengsi, aku merasa berhak melakukan ini. Andin hanyalah istriku.
Sepengetahuanku, dia hanya seorang wanita kantoran biasa yang gajinya tak seberapa. Uang ratusan juta di rekening itu pastilah hasil dari sisa-sisa uang belanja bulanan yang selalu kuberikan dengan royal, atau mungkin tabungan dari hasil keringatku yang diam-diam ia kumpulkan.
Jadi, sudah sewajarnya aku mengambil hakku untuk menjaga kehormatan keluargaku, bukan?
Aku menegakkan dada, menatap tajam istriku yang sedang duduk di tepi ranjang.
Aku sudah mempersiapkan diri melihatnya mengamuk, melempar barang, atau menjerit histeris layaknya istri-istri di luaran sana ketika kehilangan hartanya.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru benar-benar di luar nalar.
Andin menunduk, bahunya bergetar pelan.
Sedetik kemudian, dia mendongak dan tertawa lepas. Tawanya menggema di seluruh sudut kamar kami.
Bukan tawa sumbang, bukan pula tawa putus asa. Itu adalah tawa yang murni, renyah, dan teramat santai, seolah aku baru saja melontarkan lelucon paling konyol abad ini.
"Hahahahaha! Astaga, Mas ... Mas William, kamu ini sungguh luar biasa," ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu asyik tertawa.
Aku menelan ludah. Bulu kudukku meremang mendengar tawa itu.
"Kenapa kamu malah tertawa?!" bentakku, berusaha menutupi rasa gugup dan kebingungan yang tiba-tiba menyergap rongga dada.
"Kamu sudah gila karena uangmu habis?! Dengar ya, Andin! Adikku Siska butuh dana itu agar keluarga calon suaminya yang kaya raya tidak merendahkan martabat ibu dan keluargaku! Sebagai istri, kamu harusnya ikhlas berkorban!"
Tawa Andin seketika berhenti. Keheningan yang mencekam mendadak mengambil alih ruangan. Ia berdiri dan melangkah pelan mendekatiku.
Tidak ada sebersit pun gurat kemarahan di wajah cantiknya yang biasa tampil rileks itu. Hanya ada senyum miring yang begitu merendahkan.
Tatapan matanya berubah sedingin es, tajam bagai elang yang sedang menatap mangsa bodoh yang masuk sendiri ke dalam perangkapnya.
Aku refleks mundur selangkah. Entah kenapa, aura Andin malam ini terasa begitu mendominasi, seolah-olah dia adalah penguasa yang sedang menatap budaknya.
Bukankah dia hanya wanita penurut?
Andin berhenti tepat di depanku, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan menatap lurus ke dalam mataku.
"Ambil saja uang receh itu, Mas. Hitung-hitung sumbangan terakhir dariku untuk biaya makan keluargamu sebelum kalian hancur berkeping-keping," bisiknya dengan nada rendah dan senyum mematikan yang seketika membuat aliran darahku membeku.
"Karena asal kamu tahu, uang tiga ratus juta yang baru saja kamu curi dan transfer ke adikmu kesayanganmu itu adalah..."
***
Bab 2
"Karena asal kamu tahu, uang tiga ratus juta yang baru saja kamu curi dan transfer ke adikmu kesayanganmu itu adalah hasil pencairan dana dari sindikat rentenir kelas kakap yang sengaja kubuat menggunakan KTP-mu, data kerjamu, dan sertifikat rumah ibumu sebagai jaminannya. Selamat menikmati terornya besok pagi, Suamiku sayang."
"Kamu sudah kehilangan akal, Andin?! Kamu pikir aku pria bodoh yang bisa kamu gertak dengan bualan murahan soal rentenir?!" bentakku dengan urat leher yang nyaris putus, menunjuk tepat di depan wajahnya yang kelewat tenang.
Aku tertawa sinis, berusaha menutupi detak jantungku yang sempat berpacu liar.
Mustahil. Andin ini cuma karyawan biasa. Jangankan berurusan dengan sindikat rentenir, melihat preman di pinggir jalan saja dia biasanya sudah menunduk takut.
Dia pasti sedang mengarang cerita untuk mengintimidasiku agar aku mengembalikan uang itu.
Cih, trik murahan wanita pelit!
"Terserah kalau kamu menganggapnya bualan, Mas," balas Andin santai. Ia membalikkan badan, berjalan menuju meja rias seolah ancamanku barusan hanya angin lalu.
Dengan gerakan anggun yang entah sejak kapan ia miliki, Andin mulai mengoleskan krim malam ke wajahnya.
"Aku hanya memberitahu fakta. Berani berbuat, berani bertanggung jawab, kan? Lagi pula, kamu kan tulang punggung keluarga yang sangat bisa diandalkan."
Kalimat terakhirnya penuh penekanan yang menyindir, tapi aku memilih mengabaikannya.
Tepat saat itu, ponsel di genggamanku berdering nyaring. Nama 'Siska Adikku Tersayang' berkedip di layar.
Sengaja kugeser tombol hijau dan kunyalakan pengeras suara agar Andin bisa mendengar betapa bahagianya keluargaku malam ini berkat keputusanku.
"Halo, Mas Willy!! Ya ampun, Mas! Uangnya udah masuk semua! Tiga ratus juta, pas!" Suara lengkingan gembira Siska terdengar memenuhi kamar.
"Gila, Mas Willy emang the best! Untung Mas tegas, nggak kayak istri Mas yang pelit itu. Masa buat adiknya sendiri perhitungan! Besok Siska mau langsung DP katering VVIP sama sewa gaun desainer ternama, Mas!"
Aku tersenyum penuh kemenangan, melirik Andin dari pantulan cermin meja rias.
"Baguslah, Dek. Mas akan selalu kasih yang terbaik untuk keluarga kita. Habiskan saja, jangan pedulikan orang luar yang iri melihat kebahagiaan kita."
"Siap, Mas Bos! Ya udah, Siska mau lanjut milih suvenir mahal dulu ya. Dadah, Mas!"
Sambungan terputus. Aku melipat tangan di dada, menatap punggung Andin dengan dagu terangkat.
"Kamu dengar sendiri, Andin? Uangnya aman, pestanya akan tetap berjalan mewah. Bualan rentenirmu itu tidak mempan padaku."
Alih-alih marah, Andin perlahan memutar kursinya. Ia menatapku dengan senyum tipis yang entah kenapa membuat bulu kudukku kembali berdiri. Ia menyesap air putih di gelasnya sebentar, lalu berkata dengan nada yang begitu lembut.
"Tentu saja uangnya aman malam ini, Mas. Biarkan Siska bermimpi indah malam ini dan membayar semua uang mukanya besok pagi. Karena semakin banyak dia membayar DP, semakin besar kerugian yang akan kalian tanggung saat pestanya hancur berantakan."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar