Senin, 08 Juni 2026

"Kamu itu cuma numpang disini! Warisan ayahmu itu sudah jadi milik suamimu!" Ibu mertuaku membentakku saat ketahuan mencuri sertifikat rumahku untuk melunasi utang suamiku. Dia tidak tahu saja kalau aku...

 


"Kamu itu cuma numpang disini! Warisan ayahmu itu sudah jadi milik suamimu!"


Ibu mertuaku membentakku saat ketahuan mencuri sertifikat rumahku untuk melunasi utang suamiku. Dia tidak tahu saja kalau aku...


***


"Kamu itu cuma numpang di sini, Dila! Jangan berlagak jadi nyonya rumah! Warisan ayahmu yang bangkrut itu sudah mutlak jadi milik suamimu sekarang!"


Suara melengking Ibu Restu menggema ke seluruh penjuru kamar.


Tangannya yang dipenuhi perhiasan emas tampak erat mencengkeram sebuah map hijau berlogo Garuda, sertifikat rumah peninggalan almarhum ayahku.


Aku berdiri di ambang pintu, menatap dingin ke arah wanita paruh baya yang baru saja tertangkap basah membongkar brankas pribadiku. 


Bukannya malu, raut wajahnya justru dipenuhi keangkuhan. 


Tidak seperti mertua pada umumnya yang mungkin akan salah tingkah saat ketahuan mencuri, Ibu Restu justru membusungkan dada. 


Ia merapikan selendang sutranya dengan gerakan elegan namun penuh ejekan, menunjukkan betapa ia merasa kebal dan tak tersentuh.


"Kembalikan map itu, Bu. Itu bukan milik Mas Dani," ucapku pelan. 


Aku sengaja merendahkan nada suaraku, memainkan peran sebagai menantu penurut yang selama ini mereka kenal.


"Bukan milik Dani?" Ibu Restu tertawa sinis. "Dengar ya, perempuan tidak tahu diuntung! Kalau bukan karena anakku yang sudi menikahimu, kamu sudah jadi gelandangan! Utang dua miliar Dani di luaran sana itu juga pasti gara-gara membiayai gaya hidupmu! Jadi sudah sepantasnya rumah reot ini dikorbankan untuk menyelamatkan anakku!"


Tepat saat itu, langkah kaki tergesa terdengar mendekat. Mas Dani muncul dari balik lorong, wajahnya tampak panik namun matanya langsung berbinar serakah saat melihat map hijau di tangan ibunya.


"Udah dapet, Ma?" tanyanya tanpa rasa bersalah. Ia bahkan tidak repot-repot menatapku yang masih mematung di dekat lemari.


"Sudah, sayang. Istrimu ini rupanya menyembunyikannya di balik tumpukan baju bekasnya. Benar-benar licik," cibir Ibu Restu seraya menyerahkan sertifikat itu kepada putranya dengan senyum penuh kemenangan.


"Mas." Aku menatap Dani, memeras sedikit air mata agar jatuh membasahi pipiku.


"Kamu mau gadaikan rumah peninggalan ayahku? Di mana kita mau tinggal nanti kalau sampai disita?"


Mas Dani mendengus kasar, buru-buru memasukkan dokumen berharga itu ke dalam tas kerjanya. 


"Kamu nggak usah banyak drama, Dila! Ini cuma digadaikan sementara buat nutupin utangku ke rentenir itu. Nanti kalau bisnisku jalan lagi, aku tebus! Kamu diam saja di rumah, nurut sama suami dan mertua. Jangan bikin masalah yang bikin aku makin pusing!"


Aku menunduk dalam. Bahuku sengaja kubuat bergetar. 


Dari luar, aku tampak seperti istri tak berdaya yang hancur sedang menangisi nasibnya. 


Mereka tidak tahu saja, aku sedang menggigit bibir kuat-kuat menahan tawa agar tidak meledak saat itu juga.


Ibu Restu melangkah mendekat, lalu menepuk pipiku dengan telunjuknya secara merendahkan. 


"Makanya, jadi perempuan itu sadar posisi. Kamu itu cuma pajangan numpang makan di sini."


Mereka berdua lantas berbalik, berjalan cepat meninggalkan kamar dengan tawa remeh yang tak lagi disembunyikan. 


Aku mematung di tempat, membiarkan mereka pergi hingga deru mesin mobil Mas Dani terdengar melesat menjauh dari pekarangan rumah.


Perlahan, aku mengangkat kepalaku. Air mata di pipiku sudah mengering tanpa sisa. Aku berjalan santai menuju nakas, menuangkan segelas air putih, dan menyesapnya dengan tenang.


Meraih ponsel dari dalam saku dasterku, aku mengetikkan sebuah pesan singkat ke nomor khusus yang selama ini tak pernah kubuka di depan Mas Dani maupun ibunya.


Mereka sudah mengambil umpannya. Siapkan penyambutan khusus untuk suamiku besok.


Aku menatap pantulan diriku di cermin. Bibirku perlahan menyunggingkan senyum miring yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Silakan bawa sertifikat itu, Mas Dani, Ibu Restu," bisikku pada udara kosong, nadaku kini berubah dingin, berat, dan mematikan. 


"Aku hanya penasaran, bagaimana ekspresi kalian besok saat tahu lintah darat berdarah dingin yang kalian temui itu sebenarnya berlutut pada siapa."


***


Bab 2

"Sambut dia layaknya raja hari ini, Pak Surya. Berikan semua pujian yang ingin dia dengar, tawarkan secangkir kopi terbaik, dan pastikan suamiku menandatangani dokumen itu dengan senyum paling lebar di wajahnya."


Aku meletakkan cangkir teh porselenku di atas meja dengan pelan, memastikan tidak ada bunyi denting yang merusak ketenangan sore itu. 


Di seberang telepon, suara tawa rendah seorang pria paruh baya terdengar penuh hormat.


"Sesuai keinginan Anda, Nyonya. Umpannya sudah ditelan bulat-bulat. Tuan Dani bahkan tidak membaca klausul kecil di halaman terakhir yang memindahkan seluruh hak kelola perusahaannya ke tangan kita."


"Kerja bagus," balasku lembut, memutus sambungan telepon tepat saat deru mesin mobil yang sangat kukenal memasuki pekarangan.


Aku segera merapikan tatanan rambutku, mengambil kemoceng, dan berpura-pura membersihkan debu di meja pajangan. 


Pintu utama terbuka lebar. Mas Dani melangkah masuk dengan dada membusung, diiringi Ibu Restu yang menjinjing beberapa tas belanjaan dari butik ternama. 


Wajah keduanya berseri-seri, seolah baru saja memenangkan lotre terbesar abad ini.


"Dila! Buatkan kami minuman dingin!" titah Ibu Restu sambil melempar tas belanjaannya ke atas sofa. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah, bergaya seolah udara di rumah ini terlalu sesak untuknya.


"Hari ini anakku baru saja melakukan kesepakatan bisnis yang brilian. Oh, kamu pasti tidak akan mengerti urusan orang-orang cerdas."


Aku menunduk hormat, menyembunyikan senyum tipis yang hampir lolos. 


"Baik, Bu. Akan saya buatkan."


Sembari membawa nampan berisi sirup dingin beberapa menit kemudian, aku mendengarkan Mas Dani yang sedang menyombongkan diri di ruang tengah.


"Mama tahu tidak? Pak Surya yang terkenal bertangan dingin itu ternyata sangat ramah kepadaku! Dia bilang, dia melihat potensi besar di perusahaanku. Sertifikat rumah ini tidak hanya melunasi semua utang lamaku, tapi dia juga menyuntikkan modal tambahan yang jauh lebih besar!" 


Mas Dani tertawa puas, bersandar di sofa sambil mengangkat kakinya ke atas meja.


"Tentu saja, Sayang. Pak Surya itu pasti tahu mana pengusaha sungguhan dan mana yang pecundang," sahut Ibu Restu sambil melirikku sinis saat aku meletakkan gelas di hadapan mereka. 


"Untung saja rumah ini tidak jadi membusuk di tangan perempuan yang tidak tahu cara menghasilkan uang."


Aku hanya diam, mundur selangkah sambil menangkupkan kedua tangan di depan perut. 


Sikapku sempurna, layaknya istri penurut yang sudah menyerah pada nasib. 


Mas Dani menatapku dengan tatapan meremehkan, lalu menyesap minumannya.


Dia tidak tahu bahwa modal tambahan yang baru saja ia terima adalah uangku. 


Dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa tanda tangannya di atas materai tadi bukanlah kesepakatan pinjaman biasa, melainkan surat pelepasan sisa aset terakhirnya jika ia telat membayar cicilan bulan pertama. 


Dan tentu saja, aku sudah mengatur agar semua jalur pendapatannya terhenti mulai minggu depan. Ia akan menyerahkan segalanya padaku dengan tangannya sendiri.


"Kamu dengar itu, Dila?" Mas Dani memecah lamunanku. Suaranya terdengar berat dan penuh dominasi. 


"Mulai detik ini, rumah ini bukan lagi milikmu. Ini sudah masuk ke dalam aset perusahaanku. Jadi, jangan pernah berani mengatur apa pun di sini. Kamu harus bersyukur aku masih berbaik hati mengizinkanmu tidur di kamar utama."


Aku menatap mata suamiku dalam-dalam. Wajah tampan yang dulu membuatku jatuh cinta itu kini hanya terlihat seperti boneka rapuh yang sedang menari di atas telapak tanganku.


"Aku sangat bersyukur atas kemurahan hatimu, Mas Dani," jawabku dengan senyuman paling manis dan lembut, membuat keningnya sedikit berkerut karena heran melihat ketenanganku. 


"Seorang pemimpin hebat sepertimu memang pantas merayakan hari ini. Nikmatilah tidur nyenyakmu malam ini, Mas, karena mulai besok, kamu akan menyadari bahwa harga sebuah kemewahan terkadang harus dibayar dengan seluruh napas yang kamu miliki."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...