Minggu, 07 Juni 2026

Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...

 


Ibuku selalu bilang istriku pemalas, padahal yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu istriku. Diam-diam kupasang CCTV, dan kubuat ibuku menyesal karena...


***


"Ceraikan saja perempuan pemalas itu, Ciko! Istri macam apa yang jam segini masih enak-enakan molor, sementara mertuanya sudah berpeluh mencuci piring dan memasak?!"


Suara nyaring Ibu menggema membelah keheningan pagi, membuatku yang baru saja menyendok nasi goreng terhenti seketika. 


Aku menatap Ibu yang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu dapur, lalu menoleh ke arah kamar di mana istriku, Raisa, masih terlelap.


Ibu tidak tahu, atau mungkin sengaja menutup mata, bahwa Raisa baru bisa memejamkan mata pukul tiga pagi tadi. 


Semalaman, istriku itu harus menyetrika tumpukan pakaian Ibu, membersihkan kulkas, hingga menyiapkan bahan masakan untuk hari ini.


"Bu, Raisa itu kelelahan. Dia semalaman membereskan rumah dan menyiapkan semua ini," belaku tegas. 


Kutaruh sendok ke piring dengan bunyi dentingan pelan namun tajam. Aku tidak suka ada yang merendahkan istriku, sekalipun itu ibuku sendiri.


"Kelelahan apa?!" sergah Ibu melotot, matanya membesar menatapku tajam. 


"Pekerjaan rumah apanya? Ibu yang dari subuh tadi masak nasi goreng ini, Ciko! Istrimu itu cuma numpang makan, numpang tidur, dan menghabiskan gajimu!"


Aku menghela napas panjang, berusaha menekan gemuruh di dada. Berdebat dengan Ibu di pagi hari sebelum berangkat ke kantor bukanlah pilihan yang bijak. 


Namun, aku tahu persis masakan di meja ini adalah hasil jerih payah Raisa. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, istriku sudah bangun meracik bumbu jauh sebelum adzan subuh berkumandang.


Hari itu, aku berangkat ke kantor dengan dada sesak oleh rasa marah yang tertahan. Aku tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. 


Sebagai suami, sudah menjadi kewajibanku untuk menjadi tameng bagi kehormatan Raisa. 


Jika Ibu terus menuduhnya tanpa bukti, maka aku yang akan memberikan bukti tak terbantahkan itu kepada Ibu.


Sepulang kerja, aku sengaja mampir ke sebuah toko elektronik. Aku membeli tiga buah kamera CCTV mini, ukurannya hanya sebesar kancing kemeja, tidak akan ada yang menyadarinya.


***


Malam harinya, saat Ibu sedang asyik menonton sinetron di ruang tengah dan Raisa sedang sibuk menidurkan diri karena kelelahan, aku bergerak dalam diam. 


Kupasang kamera-kamera itu di titik-titik paling strategis: satu di sela-sela hiasan dinding ruang tamu, satu di balik pot bunga plastik di dapur, dan satu lagi di sudut ruang keluarga.


Kamera itu langsung terhubung ke aplikasi di ponsel cerdasku.


***


Keesokan paginya, aku menjalankan rencanaku. Aku berpamitan berangkat kerja seperti biasa, mencium kening Raisa yang sedang sibuk merapikan dasiku, dan menyalimi tangan Ibu. 


Namun, aku tidak benar-benar pergi ke kantor.

Aku memarkirkan mobilku di ujung jalan perumahan, tepat di bawah pohon rindang. 


Dengan jantung berdebar kencang, kubuka aplikasi pemantau CCTV di ponselku. Aku menaikkan volume hingga maksimal, bersiap mendengar dan melihat apa pun yang terjadi di istanaku sendiri.


Di layar, terlihat Raisa sedang sibuk mengepel lantai ruang tengah hingga keringat membasahi daster sederhananya. 


Setelah memastikan lantai mengkilap, ia berjalan ke area belakang untuk menjemur pakaian.


Tepat saat sosok Raisa menghilang dari pantauan kamera, pintu kamar Ibu terbuka. 


Ibu keluar dengan langkah mengendap-endap, tangannya membawa sebuah kantong plastik berisi sampah basah sisa makanan semalam.


Mataku melebar sempurna melihat apa yang Ibu lakukan selanjutnya.


"Bagus, mumpung si gembel Raisa lagi jemur baju di belakang, aku akan sebar sampah dan tumpahkan kecap ini ke lantai yang baru dia pel!" gumam Ibu sambil tertawa sinis ke arah bawah, menyebarkan kotoran itu dengan sengaja. 


"Biar Ciko lihat sepulang kerja nanti, betapa kotor dan menjijikkannya pekerjaan istri kesayangannya itu. Setelah ini, Ciko pasti akan langsung menendangnya keluar dari rumah ini!"


Di dalam mobil, tanganku mengepal erat memukul kemudi hingga buku-buku jariku memutih. Rahangku mengeras menahan emosi yang kini mendidih sampai ke ubun-ubun.


"Jadi ini kelakuan Ibu di belakangku? Bersiaplah, Bu, Anak penurut Ibu ini akan membuat Ibu mengemis maaf atas setiap air mata yang jatuh dari mata istriku."


***

Bab 2

"Halo, dengan layanan agen perjalanan wisata VIP? Tolong siapkan paket liburan paling mewah ke Bali selama dua minggu penuh. Ya, hanya untuk satu orang. Istri saya butuh istirahat panjang dari sebuah panggung sandiwara yang sangat melelahkan."


Aku menutup panggilan telepon itu dengan senyum tipis yang terasa dingin. Layar ponsel di pangkuanku masih menampilkan rekaman dari kamera CCTV, merekam tuntas semua lakon yang ibuku mainkan. 


Alih-alih marah dan mengamuk, sebuah rencana pembalasan yang jauh lebih rapi dan elegan sudah tersusun sempurna di kepalaku. 


Jika Ibu menyukai peran sebagai korban yang paling menderita, maka aku akan memberikannya panggung utama.


***


Sore harinya, aku sengaja pulang lebih awal. Begitu kakiku melangkah melewati pintu depan, aroma menyengat dari sampah basah dan kecap langsung menyapa indra penciumanku. 


Sesuai dugaanku, lantai ruang tengah yang terbuat dari marmer putih kini dipenuhi noda lengket yang menjijikkan.


"Astaga, Ciko! Syukurlah kamu pulang cepat, Nak!"

Suara dramatis Ibu langsung menyambutku. Ia berlari kecil dari arah dapur sambil memegang pelipisnya, seolah nyaris pingsan.


"Lihat kelakuan istrimu ini! Ibu baru saja mau istirahat setelah seharian memasak dan mencuci, tapi lihat lantainya! Istrimu yang pemalas itu membiarkan sampah berceceran di mana-mana. Dia sengaja ingin membuat Ibu mati kelelahan di rumah ini, Ciko!" keluh Ibu dengan napas memburu, menunjuk ke arah tumpahan kotoran di lantai.


Dari arah belakang, kulihat Raisa berjalan tergesa-gesa sambil membawa kain pel. Wajah istriku pucat pasi, matanya berkaca-kaca menahan tangis.


"Mas, aku berani sumpah lantai ini tadi sudah aku pel sampai bersih. Aku cuma ke belakang sebentar untuk mengangkat jemuran, dan pas kembali, lantainya sudah begini," suara Raisa bergetar, menatapku dengan sorot memohon agar aku mempercayainya.


Ibu mencibir sinis. "Alasan! Kamu memang sengaja, kan? Ciko, kamu harus tegas! Beri istrimu ini pelajaran supaya dia tahu diri!"


Aku menatap Ibu, lalu beralih menatap Raisa. 


Perlahan, aku berjalan menghampiri istriku, mengambil kain pel dari tangannya yang gemetar, lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut. 


Kuberikan senyuman paling menenangkan untuknya, sebelum akhirnya aku berbalik menatap Ibu dengan raut wajah yang kubuat sedatar dan setenang mungkin.


"Ibu benar," ucapku pelan namun tegas. "Raisa memang sangat mengecewakan hari ini."


Kulihat kedua mata Raisa membelalak tak percaya. Bahunya merosot seketika. 


Di sisi lain, sebuah senyum kemenangan yang licik perlahan terbit di sudut bibir Ibu.


"Bagus!" sahut Ibu penuh semangat. "Kembalikan saja dia ke rumah orang tuanya, Ciko! Biar dia sadar—"


"Rumah ini sepertinya terlalu besar untuk diurus oleh Raisa," potongku tenang, membiarkan suaraku menggema di ruang tengah yang hening. 


"Buktinya, hasil kerjanya selalu membuat Ibu tidak puas dan berujung membuat Ibu kelelahan. Sebagai anak yang berbakti, Ciko tidak tega melihat Ibu terus-terusan mengeluh."


Aku merogoh saku jas, mengeluarkan sebuah amplop tebal berlogo biro perjalanan mewah, dan meletakkannya di atas meja kaca.


"Karena itu, Ciko sudah memutuskan untuk menghukum Raisa. Mulai besok pagi, Raisa akan Ciko 'asingkan' ke villa VIP di Bali selama dua minggu. Biar dia merenungkan kesalahannya di sana, sambil menikmati perawatan spa mewah agar tubuhnya tidak manja lagi."


Senyum di wajah Ibu membeku seketika. Dahinya berkerut bingung, seolah kesulitan mencerna kata "hukuman" yang baru saja kuucapkan.


"Lalu ... lalu siapa yang mengurus rumah ini selama dua minggu?" tanya Ibu dengan suara yang mendadak parau.


Aku melebarkan senyum, menatap tepat ke dalam manik mata Ibu dengan kepolosan yang kubuat-buat.


"Tentu saja Ibu," jawabku riang. "Kan Ibu sendiri yang tadi pagi bilang kalau selama ini Ibu yang selalu memasak dari subuh, mencuci, dan membersihkan rumah ini sendirian, sementara Raisa cuma menumpang tidur. Ciko rasa, tanpa ada gangguan dari menantu yang pemalas, pekerjaan Ibu di rumah ini pasti akan jauh lebih ringan dan cepat selesai, bukan?"


Wajah Ibu mendadak pucat pasi. Bibirnya bergetar, mencoba merangkai kata sanggahan, namun tak ada satu pun suara yang keluar. 


Ia menyadari senjatanya baru saja berbalik menyerang dirinya sendiri.


Aku melangkah mendekat, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Ibu, dan memberikan pukulan penutup yang paling mematikan.


"Oh, satu lagi, Bu. Lusa rombongan arisan sosialita Ibu jadi kumpul di rumah ini, kan? Selamat menyiapkan jamuan mewahnya sendirian ya, Bu. Ciko sungguh tidak sabar membuktikan pada semua orang, apakah masakan Nyonya rumah sejati besok, akan sama lezatnya dengan nasi goreng yang 'Ibu' buat dari jam tiga pagi tadi."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...