"Investor utama kita, The Sovereign Group, baru saja mengirimkan nota darurat. Mereka menarik seluruh suntikan dana jika Anda masih menginjakkan kaki di gedung ini. Kami tidak punya pilihan."
"Investor utama? Tapi kenapa?! Apa salah saya?!" Gunawan menuntut penjelasan, napasnya memburu.
"Mereka tidak memberi alasan personal," jawab Direktur itu dingin.
"Mereka hanya mengatakan, gaya hidup Anda belakangan ini berisiko merusak citra korporasi. Selamat pagi, Gunawan."
Gunawan berdiri mematung di lobi korporasi yang fana itu. Dunia yang ia bangun dengan keangkuhan runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Di kepalanya, kalimat Yuna semalam mendadak bergaung seperti lonceng kematian: Perusahaan tempatmu bekerja, ada karena aku mengizinkannya.
Tidak, tidak mungkin Yuna, batin Gunawan menolak keras. Dia hanya anak yatim piatu yang beruntung kunikahi! Ini pasti konspirasi bisnis.
Dengan sisa harga diri yang hancur, Gunawan pulang ke rumah menggunakan taksi daring, yang pembayarannya terpaksa menggunakan sisa uang tunai terakhir di dompetnya. Ia bertekad akan menyeret Yuna dan menuntut penjelasan.
Namun, saat ia membuka pintu rumah mewah mereka, aroma masakan yang sangat harum menyambut indra penciumannya.
Di meja makan, telah tersaji sup ayam jamur kesukaannya lengkap dengan segelas teh hangat. Yuna duduk di sana, membaca sebuah majalah bisnis dengan tenang.
Ia mendongak, menatap Gunawan yang berantakan dengan senyuman hangat seorang istri yang berbakti, seolah badai semalam dan kehancuran karier Gunawan pagi ini sama sekali bukan karena ulah tangannya.
"Kamu sudah pulang, Mas? Ayo makan dulu, kamu kelihatan sangat lelah," sapa Yuna, suaranya begitu manis, tanpa ada nada sarkasme sedikit pun.
Sikap elegan dan penuh perhatian ini justru membuat Gunawan merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es yang siap pecah kapan saja.
Gunawan mendekat ke meja makan dengan tubuh gemetar, menatap makanan itu, lalu menatap istrinya dengan pandangan ngeri.
"Yuna, tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan?"
Yuna meletakkan majalah jalanya dengan perlahan, lalu menatap manik mata Gunawan yang dipenuhi ketakutan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Mas, aku hanya berhenti menjadi jaring pengamanmu," Yuna tersenyum manis sembari mendorong mangkuk sup ke hadapan suaminya.
"Bukankah kamu pria hebat yang mencari uang sendiri? Nikmati saja prosesnya, karena ini baru hari pertama."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar