Bab 3
Ia tidak tahu, bahwa di sebuah ruangan kerja yang mewah di pusat kota, seorang asisten sedang melaporkan sesuatu pada Restu.
"Semua aliran dana dan fasilitas atas nama Tirta sudah dihentikan, Nyonya. Sesuai perintah Anda, kita tidak perlu menuntutnya ke jalur hukum atas penggelapan aset kecil yang dulu ia lakukan," ucap sang asisten dengan hormat.
Restu yang sedang menyesap teh hangatnya hanya mengangguk pelan.
"Benar. Penjara terlalu nyaman untuk orang seperti dia. Biarkan dia menikmati 'kebebasan' yang sudah kuatur."
Bagi Restu, jebakan terbaik bukanlah jeruji besi, melainkan membiarkan targetnya berjalan di atas duri yang sengaja ditebarkan secara perlahan tanpa tahu siapa pelakunya.
***
Keesokan paginya, Tirta yang mulai kelaparan dan frustrasi mencoba mencari peruntungan.
Sebagai mantan Manajer Pemasaran berprestasi, ia yakin masih ada perusahaan lain yang mau menampungnya. Ia mendatangi sebuah perusahaan kompetitor yang dulu sangat gencar ingin merekrutnya.
"Maaf, Pak Tirta," ucap HRD perusahaan tersebut dengan senyum formal yang dipaksakan.
"Nama Anda sudah masuk dalam daftar hitam aliansi perusahaan nasional. Kami tidak bisa menerima kandidat dengan catatan buruk."
"Daftar hitam? Siapa yang memasukkan nama saya?!" tuntut Tirta dengan mata memerah.
"Kami tidak berwenang memberitahunya. Yang jelas, pihak di balik keputusan ini memiliki kekuatan untuk menutup seluruh akses karier Anda di kota ini. Permisi."
Tirta keluar dari gedung tinggi itu dengan langkah gontai.
Di tengah terik matahari, ponselnya tiba-tiba berdering dari nomor yang tidak dikenal.
Dengan tangan gemetar, Tirta mengangkat panggilan itu, berharap ada keajaiban atau tawaran pekerjaan.
Namun, suara di seberang telepon justru membuat darahnya berdesir hebat. Itu suara Restu, yang terdengar sangat lembut namun begitu dingin.
"Bagaimana rasanya hidup di tempat yang seharusnya, Mas? Ini baru permulaan dari permainan yang kamu mulai sendiri."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar