Aku mendengus keras, memilih membuang muka dan membanting tubuh ke atas kasur, menarik selimut tebal menutupi dadaku.
Aku tidak akan membiarkan omong kosongnya merusak suasana hatiku. Wanita ini hanya tidak terima uangnya kuambil, itu saja.
***
Aku terbangun dengan perasaan segar. Sinar matahari pagi menembus celah gorden. Aku menggeliat, merasa menang karena malam tadi bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan 'rentenir' fiktif karangan Andin.
Di sebelahku, kasur sudah kosong. Andin pasti sudah berangkat kerja ke kantornya yang membosankan itu.
Baru saja aku meraih handuk untuk mandi, ponselku tiba-tiba bergetar hebat di atas nakas. Ada lima panggilan tak terjawab dari Ibu, dan kini panggilan keenam masuk dengan layar yang terus berkedip panik.
"Halo, Bu? Tumben pagi-pagi sekali—"
"WILLY!! TOLONG IBU, NAK!! KAMU KESINI SEKARANG JUGA!!"
Suara jeritan Ibu yang histeris dan diiringi suara pecahan barang yang jatuh ke lantai membuat jantungku seolah merosot ke perut.
"Bu?! Ada apa?! Halo?!"
"Ada penagih utang, Wil!! Banyak sekali! Mereka bawa linggis dan cat semprot merah! Mereka bilang kamu punya utang ratusan juta yang jatuh tempo hari ini dan bunganya berlipat ganda! Ya ampun, Willy! Mereka sedang menyeret kursi tamu dan TV Ibu keluar!! Mereka bilang mau menyita rumah ini!!"
Napas Ibu terdengar tersengal-sengal diiringi suara bentakan pria bersuara serak di latar belakang.
Tanganku gemetar hebat hingga ponselku nyaris terlepas. Keringat dingin seketika membanjiri pelipisku.
"Willy! Kamu hutang ke siapa, Nak?! Siska sampai pingsan melihat mereka mencorat-coret tembok depan rumah! Tolong Ibu, Wil—"
Tut.
Sambungan diputus paksa dari seberang. Pikiranku kosong. Kakiku lemas tak bertulang.
Ini tidak mungkin. Rentenir itu ... mereka sungguhan ada?!
Dengan tangan bergetar, aku mencoba menghubungi Andin. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua diabaikan.
Baru pada panggilan ketiga, suara ketukan sepatu hak tinggi yang elegan terdengar berirama dari seberang, disusul suara yang begitu tenang dan anggun.
"Bagaimana, Mas? Kopi paginya terasa lebih nikmat dengan teriakan panik Ibumu?" sapa Andin dari seberang telepon.
"Andin!! Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?! Suruh orang-orang suruhanmu itu pergi dari rumah Ibuku sekarang juga, atau aku akan menceraikanmu detik ini juga!!" teriakku dengan suara pecah dan kepanikan yang luar biasa.
Dari seberang sana, terdengar suara tawa kecil Andin yang mengalun merdu namun mematikan, menyisakan kengerian yang membuat lututku ambruk ke lantai.
"Cerai? Silakan saja, Mas. Suratnya bahkan bisa kuurus hari ini juga. Tapi sebelum itu, bilang pada Ibumu untuk menyiapkan camilan dan teh yang enak untuk tamu-tamuku, karena sebelum uang tiga ratus juta itu kembali utuh dengan bunga tiga ratus persen ke rekeningku, para penagih utang itu akan menginap dan mengadakan pesta dangdutan setiap hari di ruang tamu Ibumu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar