Bab 3
"Selamat menikmati masa hukumanmu, Sayang. Jangan lupa pakai tabir surya saat bersantai di kolam renang pribadi villanya, dan pastikan kamu menghabiskan limit kartu hitam ini sebagai bentuk penyesalan terdalammu."
Aku mengecup kening Raisa di depan teras rumah, melambaikan tangan saat supir pribadi berjas rapi membukakan pintu mobil mewah yang akan mengantarnya ke bandara.
Dari ekor mataku, aku bisa melihat Ibu berdiri mematung di balik jendela ruang tamu.
Wajahnya pias, matanya menatap nanar ke arah mobil yang perlahan menjauh membawa 'menantu pemalasnya' menuju penderitaan paling nikmat di Pulau Dewata.
Kini, pertunjukan sesungguhnya baru dimulai.
Begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah, keheningan yang mencekam langsung menyambutku.
Tidak ada lagi suara gemericik air dari dapur atau denting spatula yang biasanya sudah berbunyi sejak subuh.
Yang ada hanyalah Ibu, berdiri kaku di tengah ruang keluarga, menatap noda kecap lengket dan sampah yang kemarin sengaja ia tebar sendiri.
"Ciko berangkat kerja dulu ya, Bu. Oh ya, biro jasa kebersihan berlangganan kita kebetulan sedang libur panjang minggu ini," ucapku sambil merapikan dasi, menatap Ibu dengan senyum paling tulus.
"Tapi Ciko sama sekali tidak khawatir. Toh, selama ini Ibu selalu mengeluh merekalah yang membuat lantai lecet, dan Ibu bilang hasil pel Ibu jauh lebih bersih, kan? Selamat berolahraga, Bu."
Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan keluar.
Namun, sebelum masuk ke dalam mobil, aku menyempatkan diri menelepon Tante Marni, ketua arisan sosialita berlian yang gengsinya setinggi langit, sekaligus saingan terberat Ibu dalam urusan pamer kekayaan.
"Halo, Tante Marni? Ini Ciko. Iya Tante, besok acara arisannya di rumah Ciko, kan? Ciko cuma mau mengabari, Ibu melarang keras Ciko pesan katering dari hotel bintang lima. Katanya, lidah Tante Marni dan ibu-ibu lainnya terlalu berkelas untuk makanan instan. Jadi, Ibu bersikeras akan memasak semua hidangan dari nol, sendirian, khusus untuk sahabat-sahabat tercintanya."
Dari seberang telepon, aku bisa mendengar pekikan kagum Tante Marni.
Rencanaku terkunci rapat. Ibu tidak akan bisa memesan makanan dari luar tanpa menjatuhkan harga dirinya sendiri hingga ke dasar bumi.
***
Hari itu berlalu dengan sangat menyenangkan. Aku memantau CCTV dari kantorku dan hampir tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan di layar.
Ibu yang biasanya hanya duduk manis menonton televisi sambil mengunyah camilan, kini harus mengepel lantai marmer berkali-kali karena noda kecapnya mengering dan lengket.
Ia tampak terengah-engah, berkali-kali memijat pinggangnya, sementara setumpuk piring kotor bekas makan malam kami sisa kemarin masih menggunung di wastafel.
***
Keesokan harinya, tepat di hari H arisan, aku sengaja mengambil cuti setengah hari dan pulang lebih awal.
Kondisi rumah ... luar biasa berantakan. Asap tipis mengepul dari arah dapur, diiringi suara panci yang beradu kasar. Aku melangkah santai menuju sumber keributan.
Kulihat Ibu sedang berdiri di depan kompor dengan daster yang basah oleh keringat, rambut sasaknya acak-acakan, dan wajahnya tercoreng noda bumbu rendang. Ia sedang memotong daging dengan tangan gemetar saking lelahnya.
"Ya ampun, Ibu. Aroma masakannya sangat ... unik," sapaku lembut, bersandar di ambang pintu dapur.
Ibu menoleh dengan mata merah dan napas tersengal.
"Ciko! Kenapa kamu membatalkan pesanan katering rahasia yang Ibu pesan tadi pagi?! Ibu nyaris pingsan mengurus rumah sebesar ini sendirian!"
Aku memasang wajah terkejut yang kubuat sealami mungkin.
"Loh, Ibu pesan katering? Ciko batalkan karena Ciko pikir itu penipuan, Bu. Kan Ibu sendiri yang selalu bilang ke Ciko dan Raisa kalau masakan katering itu sampah dan hanya perempuan malas yang tidak mau masak untuk tamu kehormatannya. Ciko hanya ingin menjaga nama baik Ibu di depan teman-teman arisan."
Bibir Ibu bergetar hebat. Ia memegang ujung meja dapur, tampak kehilangan kata-kata, terjebak dalam jaring kebohongannya sendiri yang kini menjerat lehernya dengan sangat manis.
Tepat pada detik yang menegangkan itu, suara bel rumah berbunyi nyaring, disusul oleh riuh rendah suara hak tinggi yang beradu dengan lantai teras. Rombongan nyonya-nyonya berlian itu telah tiba.
Aku tersenyum penuh arti, membiarkan Ibu yang masih berantakan panik setengah mati, lalu berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka lebar, kurentangkan tanganku menyambut belasan wanita sosialita yang tampil dengan gaun dan perhiasan paling gemerlap.
"Selamat datang, Tante-tante semua! Silakan masuk ke ruang makan. Ibu sudah berkeringat darah di dapur sejak subuh tadi, khusus menyiapkan hidangan yang katanya ... jauh lebih berkelas daripada sekadar mengandalkan tenaga menantu yang menumpang hidup."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar