Jumat, 15 Mei 2026

Suamiku menangis mengaku perusahaannya bangkrut dan meninggalkan utang miliaran. Aku rela bekerja siang malam hingga jatuh sakit demi membantunya melunasi utang, sementara ia mengurung diri di rumah. Suatu hari, aku mengantarkan pesanan catering ke sebuah restoran bintang lima. Betapa hancurnya aku melihat suamiku sedang memotong kue perayaan anniversary dengan wanita lain, dan ibu mertuaku memberinya kunci mobil mewah. Saat itu aku baru sadar, ternyata kebangkrutan itu hanyalah...

 


"Maafkan Mas, Dek. Kalau saja Mas tidak ditipu rekan bisnis sialan itu, kamu tidak perlu repot-repot mengaduk kuali sebesar ini jam dua pagi. Utang lima miliar itu benar-benar menghancurkan harga diri Mas sebagai suami. Mas rasanya ingin mati saja."


Suara parau Akbar, suamiku, terdengar menyayat hati. Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan wajah kuyu dan tatapan kosong yang memancarkan keputusasaan mendalam.


Aku mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu tersenyum menenangkan meski kepalaku sebenarnya berdenyut hebat. 


Sudah tiga hari ini aku demam tinggi, tapi pesanan katering tak mungkin kubatalkan. 


Sejak perusahaan Akbar dinyatakan bangkrut enam bulan lalu dan meninggalkan utang miliaran, akulah yang mengambil alih peran sebagai tulang punggung.


"Jangan bicara begitu, Mas. Kita hadapi sama-sama, ya? Utangnya pasti lunas, sedikit demi sedikit. Mas istirahat saja di kamar, biar aku yang selesaikan ini," ucapku lembut.


Akbar mengangguk lemah, batuk pelan, lalu membalikkan badan menuju kamar kami. 


Sesak dadaku melihat lelaki yang dulu begitu gagah dan bangga dengan perusahaannya, kini mengurung diri di rumah seperti pria tak bernyawa. 


Demi dia, aku rela bekerja siang dan malam. Tidur hanya dua jam, menerima segala jenis pesanan, hingga lambungku sering perih karena telat makan. 


Tidak apa-apa. Ini baktiku sebagai istri.


***


Singkat cerita, sore harinya, aku harus mengantarkan pesanan tumpeng dan kue-kue premium ke sebuah restoran bintang lima di pusat kota. 


Pemesannya adalah pelanggan VVIP anonim yang berani membayar tiga kali lipat asal makanannya diantar tepat waktu. 


Kakiku terasa kebas dan pandanganku sedikit berkunang-kunang saat menenteng kotak-kotak besar itu masuk melalui pintu belakang restoran.


"Bawa langsung ke Private Hall di lantai dua, Mbak," instruksi salah satu pelayan restoran.


Dengan napas terengah, aku mendorong troli makanan menuju ruangan yang dituju. 


Namun, saat aku baru saja menempelkan tangan di gagang pintu ganda berukir emas itu, pintunya sedikit terbuka dari dalam. 


Suara gelak tawa yang begitu familiar tertangkap oleh telingaku. Tawa yang sudah enam bulan ini lenyap dari rumahku.


Aku mengintip melalui celah pintu. Detik itu juga, duniaku seolah berhenti berputar. Udara di sekitarku lenyap.


Di tengah ruangan mewah yang dihiasi bunga-bunga lili putih segar, berdiri suamiku. 


Akbar. Tidak ada piyama lusuh, tidak ada wajah kuyu yang putus asa. Ia mengenakan setelan jas tuxedo Armani yang sangat rapi, rambutnya tersisir klimis, memancarkan aura bos besar yang angkuh dan berwibawa.


Namun, bukan itu yang membuat jantungku serasa diremas hingga hancur.


Tangan Akbar saat ini sedang melingkar mesra di pinggang ramping seorang wanita cantik bergaun merah menyala. 


Mereka sedang bersiap memotong kue tart bertingkat tiga yang mewah. Dan yang lebih gila lagi, Ibu mertuaku, wanita yang selama ini selalu mencibir masakanku dan mengeluh karena aku tak kunjung memberinya cucu, berdiri di samping mereka dengan senyum paling semringah yang pernah kulihat.


"Ini kunci mobil keluaran terbaru untuk kalian. Kado dari Mama. Selamat hari jadi pernikahan yang kedua untuk putra kesayangan Mama, dan tentu saja, untuk menantu idaman Mama satu-satunya." 


Ibu mertuaku menyerahkan sebuah kotak beludru kecil kepada wanita bergaun merah itu.


Menantu idaman? Hari jadi pernikahan kedua?!


Tanganku gemetar hebat. Troli yang kupegang nyaris terlepas. Pikiranku mendadak buntu, mencoba mencerna kegilaan apa yang sedang terpampang di depan mataku.


Lalu, di sela-sela riuhnya tepuk tangan dan denting sendok perak yang beradu, suara Akbar terdengar menggema, menghancurkan sisa-sisa kewarasanku.


"Terima kasih, Ma. Dan untukmu, Sayangku, tenang saja. Setelah babu bodoh di rumah itu selesai melunasi sisa 'utang' proyek fiktif kita bulan depan, aku akan langsung menendangnya ke jalanan, dan kita tak perlu lagi sembunyi-sembunyi seperti ini."


***

Bab 2

"Kalian pikir sedang mempermainkan seorang babu bodoh? Silakan berpesta dan tertawa hari ini, karena mulai detik ini, aku pastikan tawa kalian itu akan berubah menjadi jeritan putus asa."


Kalimat itu meluncur dari bibirku, sepelan bisikan angin, namun membawa sumpah yang paling mematikan.


Tangan yang tadinya gemetar memegang troli kini mengepal kuat hingga kuku-kukuku memutih. 


Air mata yang sempat menggenang di pelupuk, seketika kering. 


Rasanya seperti ada sesuatu yang patah di dalam dadaku, namun ironisnya, patahan itu justru membakar habis semua rasa sakit dan lelahku. 


Demam yang sejak tiga hari lalu menyiksa tubuhku mendadak menguap, digantikan oleh adrenalin dan amarah yang memompa deras di setiap nadiku.


Aku tidak mendobrak pintu Private Hall itu. Tidak. Aku bukan istri-istri lemah di sinetron yang akan masuk, menangis meraung-raung, menampar pelakor, lalu diseret keluar dan dicampakkan begitu saja. 


Jika aku gegabah, Akbar yang memiliki segalanya saat ini bisa dengan mudah menyingkirkanku.


Dengan sisa ketenangan yang luar biasa, aku merogoh ponsel murahku dari saku celemek. 


Kuaktifkan mode perekam video dengan resolusi paling jernih. Melalui celah pintu, kurekam dengan detail wajah suamiku, Akbar, yang sedang mendaratkan ciuman mesra di pipi wanita bergaun merah itu. 


Kurekam wajah kegirangan ibu mertuaku, kemewahan ruangan itu, dan tentu saja, kunci mobil keluaran terbaru beserta ucapan 'happy anniversary' yang menjijikkan itu.


Tersimpan. Bukti pertama, aman.


Seorang pelayan restoran tiba-tiba menghampiriku dengan raut bingung. 


"Mbak? Kenapa berhenti di sini? Makanannya ditunggu di dalam."


Aku memutar tubuh perlahan, tersenyum tipis seraya melepaskan peganganku dari troli. 


"Tolong Mas saja yang dorong ke dalam. Bilang pada pemesannya, hidangan ini dibuat khusus dengan keringat tulus dari 'babu' di rumah. Semoga mereka tidak tersedak saat memakannya."


Tanpa menunggu jawaban pelayan yang kebingungan itu, aku berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong. Daguku terangkat.


Di perjalanan pulang, rintik hujan mulai turun, tapi pikiranku tak pernah secerah ini. Aku mampir ke sebuah bilik ATM. 


Hari ini adalah jadwal rutinku mentransfer uang Rp 30 juta, hasil keringatku begadang mengaduk kuali katering sebulan penuh, ke rekening pria bernama Johan. 


Selama ini Akbar bilang, Johan adalah debt collector paling kejam yang akan membunuh kami jika utang miliaran itu tak dicicil.


"Proyek fiktif, ya, Mas?" gumamku sinis, menatap layar mesin ATM.


Detik itu juga, aku membatalkan transfer. Uang 30 juta itu kupindahkan semuanya ke rekening rahasia yang baru kubuka atas namaku sendiri. 


Mulai hari ini, tidak ada lagi sepeser pun uangku yang mengalir ke perut lintah darat bernama Akbar itu.


Aku tiba di rumah sepetak kami lebih dulu. Aku menyapu, mengepel, dan menyemprotkan pengharum ruangan seolah tak terjadi apa-apa. Aku menunggu sang aktor utama pulang.


***


Tepat pukul sembilan malam, derit pintu terdengar. Akbar pulang.

Jas tuxedo Armani yang mewah itu telah lenyap entah ke mana. 


Ia muncul di ambang pintu dengan kaus oblong berlubang di bagian kerah dan jaket pudar. Wajahnya kembali dibuat sekuyu mungkin. Ia memijat pelipisnya, lalu terbatuk pelan seraya menyeret langkahnya. 


Cih, aktor pemenang piala pun akan sungkem melihat akting suamiku.


"Dek," lirihnya dengan suara serak buatan, menatapku dengan mata sayu. "Maaf Mas pulang malam. Tadi Mas seharian jalan kaki cari kerjaan serabutan, nawarin tenaga di pasar, tapi ditolak semua. Mas capek sekali, Dek."


Aku menahan gejolak mual di perutku. Dengan lembut, aku menghampirinya, mengambil jaket lusuhnya, dan mengusap lengannya dengan senyum paling manis yang bisa kubuat.


"Ya ampun, Mas Akbar. Kasihan sekali suamiku ini, pasti kamu lapar dan haus setelah jalan kaki sejauh itu. Duduklah, Mas. Istirahat. Biar aku ambilkan minum."


Aku ke dapur, membawakannya segelas air putih. Akbar meminumnya dengan rakus, seolah-olah ia belum minum seharian. 


Padahal aku tahu persis, perutnya pasti masih penuh dengan makanan mewah di restoran bintang lima sore tadi.


"Uang untuk Pak Johan sudah kamu transfer, Dek?" tanyanya hati-hati, memasang wajah penuh rasa bersalah. "Maaf ya, kamu jadi kerja keras begini."


"Sudah kuurus, Mas. Mas tenang saja, semua akan beres pada waktunya," jawabku lembut, membelai rambutnya. 


Ya, akan kubereskan hidupmu.


Malam itu, setelah memastikan Akbar tertidur lelap dengan dengkuran halusnya, aku menyingkir ke ruang tamu yang gelap. 


Duduk di atas karpet tipis, aku menatap layar ponselku, memutar ulang video perselingkuhan itu dalam diam. Sebuah seringai dingin tercetak di bibirku.


Aku menekan sederet nomor di ponselku, memanggil seseorang dari masa lalu yang selama ini sengaja kusembunyikan dari Akbar.


Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum suara berat seorang pria terdengar di seberang sana.


"Halo, Pengacara Surya? Ini aku. Ya, maaf baru menghubungi setelah sekian lama," ucapku pelan namun tajam, menatap lurus ke arah pintu kamar tempat suamiku tertidur. 


"Aku butuh bantuanmu sekarang juga. Lacak rekening bernama Johan, dan siapkan berkas pembekuan aset serta gugatan perdata gono-gini. Kita buat suamiku yang 'bangkrut' ini benar-benar miskin sampai ke tulang-tulangnya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...