"Bapak pasti sedang mabuk! Mana mungkin perusahaan memecat saya secara tidak hormat?! Saya ini tulang punggung proyek, Pak! Tanpa saya, tender minggu depan bisa hancur berantakan!"
Teriakan Dimas menggelegar, urat-urat di lehernya menonjol kemerahan menahan amarah bercampur panik.
Namun, suara balasan dari seberang telepon yang kebetulan masih dalam mode pengeras suara itu terdengar jauh lebih mematikan.
"Tender matamu! Justru karena kamu menilep dana material, fondasi proyek kita retak sebelum diserahterimakan! Kamu beruntung saya hanya menuntut ganti rugi ratusan juta. Bersihkan mejamu sekarang, dan jangan pernah menampakkan wajah penipumu itu di kantorku lagi!"
Panggilan terputus. Keheningan yang mencekik seketika turun menyelimuti ruang tamu kami. Ponsel di genggaman Dimas nyaris meluncur jatuh ke lantai.
Pria yang beberapa detik lalu membusungkan dada layaknya bos besar itu kini mematung dengan wajah sepucat kapas.
Di sisiku, Bella si wanita simpanan yang menyamar jadi perawat itu, terlihat salah tingkah. Matanya bergerak gelisah menatap Dimas, raut kemenangannya tadi luntur entah ke mana.
Aku tahu aku harus segera mengambil alih panggung sandiwara ini. Dengan napas yang kubuat tersengal, aku berlari kecil menghampiri suamiku dan mencengkeram lengannya dengan erat.
"Mas, Ya Allah, ini maksudnya apa? Mas beneran di-PHK? Terus tuntutan ganti rugi ratusan juta yang Bapak itu maksud bagaimana bayarnya, Mas?"
Suaraku bergetar sempurna, meneteskan air mata buaya yang sudah kupersiapkan sejak tadi.
Dimas menepis tanganku, tapi kali ini gerakannya tidak bertenaga sama sekali. Wajahnya pias, keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Harga dirinya jelas hancur berkeping-keping.
"I-itu ... itu bosku saja yang sedang stres! Ada orang dalam yang menjebakku, Dek! Sudahlah, kepalaku mau pecah rasanya!"
"Sabar, Pak Dimas. Jangan emosi, kasihan istri Bapak sampai ketakutan begitu," sela Bella, tiba-tiba melangkah maju dengan suara mendayu yang sengaja dilembutkan.
Ia bahkan berani menyentuh lengan Dimas dengan dalih menenangkan.
Aku menahan rasa jijik di perutku dan kembali memasang raut wajah putus asa.
"Suster Bella benar, Mas. Tapi ... tapi kalau Mas tidak bekerja, lalu punya utang ganti rugi sebanyak itu, bagaimana kita bisa membayar gaji Suster Bella? Bukankah sebaiknya Suster batal menginap saja? Biar aku yang kembali mengurus Ibu. Kita harus hemat untuk bayar utang, Mas!"
Mendengar usulku, mata Bella seketika melotot panik. Ia menatap Dimas dengan isyarat menuntut, seolah memberi kode keras agar rencananya tinggal di rumah ini tidak digagalkan.
Dalam kondisi terdesak dan ketakutan, pikiran rasional Dimas sudah sepenuhnya menguap. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu menatapku dengan napas memburu.
"Jangan sembarangan! Aku sudah membayar Bella penuh di muka! Jangan bertingkah seolah kita ini gembel."
Suaranya parau, tak ada lagi nada sombong di sana. Ia lalu menoleh pada Bella dengan senyum yang dipaksakan dan bibir gemetar.
"Bawa kopermu ke kamar tamu, Suster. Mulai hari ini kamu tetap bekerja."
Bella menghela napas lega, menyeret kopernya menuju kamar.
Aku menunduk, menyembunyikan senyum puas yang terukir di bibirku. Pemecatan Dimas adalah bumbu tak terduga yang membuat rencanaku semakin matang.
Dalam kondisi terdesak utang ratusan juta, Dimas pasti akan kehilangan akal sehat. Ia tidak punya pilihan lain selain mempercepat penjualan rukoku dengan menggunakan surat kuasa palsu itu.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar