Jumat, 15 Mei 2026

(6) Aku membentak dan mengusir istriku yang sedang hamil tua karena ketahuan mencuri uang tabunganku sebesar 50 juta. Dia menangis memohon, tapi aku tidak peduli dan langsung menjatuhkan talak. Keesokan harinya, pihak rumah sakit meneleponku dan memintaku segera datang. Saat dokter menjelaskan untuk apa uang 50 juta itu dibayarkan oleh istriku malam sebelumnya, aku langsung meminta maaf dan menangis menyesal. Ternyata istriku...

 


"Tidak usah repot-repot datang ke kantor Senin besok, Dewa! Barang-barangmu sudah saya suruh staf keamanan buang ke tempat sampah. Manusia bodoh mana yang berani mencari mati dengan menendang putri tunggal pemilik perusahaan tempatnya mengais rezeki?!"


Suara teriakan Pak Cipto, Direktur Personalia di tempatku bekerja, menggema keras dari speaker ponselku yang tak sengaja tersentuh tombol pelantang. 


Tanganku bergetar hebat hingga ponsel itu tergelincir, jatuh menghantam lantai koridor rumah sakit dengan bunyi nyaring.


Aku membeku. Tatapanku kosong menatap layar ponsel yang perlahan meredup.


Perusahaan properti raksasa tempatku bekerja selama lima tahun terakhir, tempat di mana aku selalu membanggakan jabatanku di depan Arini ... ternyata adalah milik keluarganya?


"Wa, i-itu beneran Pak Cipto, bos kamu?" Mbak Rika tergagap, wajahnya kini pias tak berdarah. 


Matanya membelalak menatap Tuan Suryanegara dan Bara secara bergantian dengan raut ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan. 


"Jadi, keluarga ini ..."


Bara tersenyum sinis, melangkah maju dan menatap kami berdua layaknya menatap setumpuk debu yang tak berharga.


"Kau pikir kakakku mendaftar menjadi staf administrasi rendahan di kantormu dulu karena dia butuh uangmu, Dewa?" desis Bara dengan nada meremehkan yang mengiris harga diriku hingga tak bersisa. 


"Dia sedang melakukan audit tertutup untuk anak perusahaan kami! Dan bodohnya, kau malah memintanya menikah, menyuruhnya resign, lalu memaksanya hidup pas-pasan menghitung recehan bersamamu dan keluargamu yang benalu ini."


Tubuhku terhuyung ke belakang. Kebenaran ini menghantam kewarasanku bertubi-tubi. 


Arini ... wanita yang selalu menunduk saat Mbak Rika menghina masakannya yang murah, wanita yang selalu tersenyum saat kubelikan baju diskonan, dia adalah pewaris takhta dari kekayaan yang bahkan tak mampu kubayangkan?


"Tuan Bara, saya ..." Mbak Rika mencoba menyela, nada suaranya kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lembut dan menjilat. 


"Saya minta maaf. Saya sungguh tidak tahu kalau Arini ... maksud saya, Nona Arini ... tolong jangan cabut fasilitas medis Ibu kami."


Tuan Suryanegara mengangkat sebelah tangannya, menghentikan ucapan Mbak Rika tanpa sudi menatap wajah kakakku itu.


"Sesuai kehendak putriku, ibumu akan dipindahkan ke Presidential Suite. Kami bukan keluarga tak beradab yang menelantarkan orang sakit," ucap Tuan Suryanegara dingin, lalu tatapan tajamnya beralih padaku. 


"Tapi untukmu, Dewa, bersihkan rumah putriku malam ini juga. Jangan sampai ada satu pun barang kotor milikmu yang tertinggal di sana besok pagi."


Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Tuan Suryanegara dan Bara berbalik, melangkah masuk ke dalam ruang perawatan khusus yang dijaga ketat oleh para pengawal berjas hitam. 


Pintu tertutup rapat, mengurungku dalam penyesalan yang kini terasa mencekik leher.


Dengan langkah gontai dan pikiran yang hancur lebur, aku meninggalkan rumah sakit. 


Sepanjang perjalanan pulang menembus dinginnya malam, air mataku tak berhenti mengalir. 


Aku kehilangan segalanya hanya dalam waktu beberapa jam.


Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...