Sabtu, 16 Mei 2026

(26) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


Tepuk tangan bergemuruh riuh. Lampu sorot mengarah tepat ke arah kami. Aku menggenggam tangan Sari, menuntunnya melangkah ke tengah ballroom. 


Istriku tampak sangat memukau, memancarkan pesona seorang Nyonya Besar yang sesungguhnya. 


Kami membuka malam itu dengan sebuah tarian dansa yang sempurna, disaksikan oleh ratusan pasang mata yang kini hanya berani menatap kami dengan penuh rasa hormat.


Enam tahun penderitaan istriku, semuanya telah terbayar lunas. Ia kini berdiri di puncak dunia, tak tersentuh oleh siapa pun.


Setelah tarian selesai dan perjamuan kembali mengalir santai, aku membawa Sari ke balkon VVIP di lantai dua untuk menikmati udara malam dan beristirahat sejenak dari keramaian. 


Sari menyandarkan kepalanya di bahuku, memandang kelap-kelip lampu kota yang membentang luas.


"Semuanya terasa sangat sempurna, Mas. Aku nyaris tidak percaya ini semua nyata," bisiknya pelan, penuh kelegaan.


Aku mengecup pelipisnya lembut. 


"Ini sangat nyata, Sayang. Tidak akan ada lagi yang berani merendahkanmu."


Di tengah momen romantis itu, terdengar suara gagang sapu yang jatuh berdebum ke lantai marmer.


Seorang petugas kebersihan hotel berseragam kusam yang sedang bekerja di sudut balkon tiba-tiba mematung menatap kami. 


Pria itu gemetar hebat. Wajahnya sangat kuyu, kantung matanya menghitam, dan postur tubuhnya tak lagi tegap. 


Pekerjaan kasar rupanya telah mengikis habis ketampanan yang dulu selalu ia banggakan.


Sari membelalakkan matanya. 


"R-Rendi?"


Melihat Sari berdiri bergelimang harta dan perhiasan bagai seorang ratu, akal sehat Rendi seakan putus. 


Rasa menyesal yang teramat dalam menghancurkan sisa-sisa egonya. Ia melangkah maju dengan pandangan memelas, mencoba mengiba pada istriku.


"Sari, kamu terlihat sangat cantik," suara Rendi serak dan bergetar. 


"Maafkan aku, Sari. Aku sungguh menyesal telah meninggalkanmu dulu. Tolong bantu aku, aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku rela melakukan apa saja asal kamu mau memaafkanku."


Namun, sebelum Rendi berani melangkah lebih dekat, aku segera bergeser, menutupi tubuh istriku dari pandangan matanya. 


Aku menatap pria benalu itu dengan senyuman paling sinis yang membuat nyalinya seketika menciut.


"Dulu kamu membusungkan dada dan membuang istriku karena merasa terlalu tinggi untuk wanita miskin. Tapi malam ini biarkan matamu terbuka lebar, Rendi; wanita yang dulu kamu tinggalkan demi harta itu, kini berdiri sebagai ratu yang memiliki seluruh gedung tempatmu membersihkan debu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...