Jumat, 15 Mei 2026

(23) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


Beban berat yang sejak semalam menghimpit dadaku seakan menguap begitu saja. Ayah mertuaku ternyata tidak sekejam kelihatannya. 


Beliau justru menggunakan kekuasaan dan hartanya untuk membantuku membersihkan benalu di dalam keluargaku sendiri.


Tanpa membuang waktu, aku segera membawa kotak kayu kusam itu ke atas meja. Dengan menggunakan tang perkakas, aku merusak gembok berkarat yang menguncinya. 


Jantungku berdebar kencang saat penutup kotak itu terbuka.


Di dalamnya, tersimpan rapi buku tabungan lama, mutasi rekening, dan dokumen polis asuransi jiwa atas nama Bapak.


Tanganku gemetar saat membuka lembar demi lembar mutasi rekening tersebut. 


Benar saja. Tepat sembilan tahun lalu, saat Bapak sedang kritis di rumah sakit dan menunggu jadwal operasi, uang sebesar dua miliar rupiah cair ke rekening Ibu. 


Namun, dalam hitungan hari, uang penyelamat nyawa itu ludes dipindahkan ke rekening perusahaan investasi bodong dan kwitansi pembelian perhiasan mewah.


Air mataku menetes di atas kertas usang itu. 


Hutang nyawa Bapak kini benar-benar menemukan titik terangnya. Ibu membiarkan suaminya tiada hanya demi gaya hidup yang fana.


"Kita bisa menyerahkan bukti ini ke polisi sekarang, Mas," usul Fitri sambil mengusap punggungku, mencoba menenangkan.


Aku menggeleng pelan. Aku menghapus air mataku dengan kasar, rahangku mengeras. 


Mataku terpaku pada sebuah amplop cokelat tipis yang tersembunyi di bagian paling dasar kotak kayu tersebut.


Aku menarik amplop itu, membukanya, dan membaca secarik kertas perjanjian bermaterai di dalamnya. 


Detik berikutnya, senyum sinis yang sangat dingin tercetak di bibirku.


"Kamu benar, Sayang. Penjara adalah hukuman yang terlalu mudah dan nyaman untuk wanita serakah seperti dia," bisikku sambil menyerahkan kertas itu ke tangan Fitri. 


"Biarkan ibuku menikmati penderitaannya di jalanan malam ini. Karena besok pagi, saat dia mengira hidupnya sudah berada di titik paling hancur, kita akan menyapanya dengan kejutan dari surat hutang piutang ini, yang akan membuatnya memohon agar nyawanya dicabut saat itu juga."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...