Jumat, 15 Mei 2026

(15) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...


Aku menoleh ke arah Putri di sebelahku. Ia mengenakan setelan blazer berwarna navy yang elegan. 

Tangannya sedikit dingin saat kugenggam, tapi sorot matanya tajam dan berani.

Dirga, yang duduk di kursi penumpang depan, segera turun lebih dulu. Langkahnya yang panjang dan tegap langsung membuat beberapa karyawan menyingkir. 

Pria gagah itu membukakan pintu untuk Putri, mengawal menantuku layaknya seorang ratu. Aku menyusul perlahan di belakang mereka.

Suara langkah sepatu kami di lantai marmer lobi seolah menyita perhatian semua orang.

Adi yang sedang marah, refleks menoleh. Matanya membelalak lebar, rahangnya nyaris jatuh melihat siapa yang datang dengan pengawalan seketat itu.

"P—Putri?!" desis Adi tak percaya. Ia menatap istrinya, lalu beralih menatap pria berseragam di sebelahnya. 

"Ngapain kamu ke sini, perempuan udik?! Dan siapa tentara ini?!"

Putri menatap suaminya itu dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang tak lagi menyimpan rasa takut sedikit pun.

"Menemui bawahan-bawahanku, tentu saja," jawab Putri tenang, suaranya menggema jernih. 

"Sekaligus memastikan mantan manajer sepertimu benar-benar sudah diusir dari gedungku."

Wajah Adi berubah semerah kepiting rebus. Harga dirinya benar-benar diinjak-injak tepat di depan puluhan mantan bawahannya.

"Tutup mulutmu, gembel! Kamu pikir kamu siapa, hah?!"

Kehilangan akal sehatnya, Adi menerjang maju. Tangannya terangkat tinggi, berniat menampar wajah Putri.

Namun, sebelum tangan kotor itu menyentuh menantuku, Dirga bergerak sigap. 

Dengan ketenangan seorang prajurit terlatih, ia menangkis pukulan Adi, memelintir sedikit lengan pria itu ke belakang punggung, lalu mendorongnya hingga Adi jatuh berlutut di lantai marmer. 

Tidak ada kekerasan berlebihan, namun kuncian itu membuat Adi tak berkutik seketika.

"Lepaskan! Sialan! Kamu pikir karena bawa pengawal kamu bisa menginjak-injakku, Putri?!" erang Adi meronta kesakitan, menatap istrinya dengan penuh kebencian.

Dirga hanya menatap Adi dengan raut wajah datar, lalu beralih menatap Putri dengan sikap hormat.

"Nyonya Putri, pria ini sekarang ada di bawah kendali Anda. Perintahkan saja, saya siap menjadi tangan kanan Anda untuk membalas semua dendam dan penderitaan Anda selama ini."

Belum sempat Adi mencerna tawaran Dirga yang mengancam itu, aku melangkah maju. 

Kutatap anak kandungku sendiri yang kini tak berdaya di lantai dengan senyum yang sangat dingin.

"Dan jangan pikir penderitaanmu berakhir hanya dengan pemecatan ini, Adi. Karena Ibu sendiri yang akan turun tangan membalas semua perbuatan busukmu pada Putri, sampai kamu memohon untuk tidak pernah dilahirkan ke dunia ini."

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...