Sabtu, 16 Mei 2026

(12) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Rahim, Ma ... Rahim perempuan yang mati-matian menyambung nyawamu setiap pagi, Mama buang begitu saja hanya karena Mama takut benih dari perempuan miskin mengotori garis keturunan kita?!"


Suaraku memecah keheningan kamar kos yang pengap malam itu, menghantam dinding tipis berjamur seperti petir yang menyambar di siang bolong.


Tas ransel berisi uang tunai seratus dua puluh juta itu terlepas dari genggamanku, jatuh berdebum ke lantai semen. 


Aku menatap wanita tua yang meringkuk di sudut kasur itu dengan pandangan jijik yang tak bisa lagi kusembunyikan. 


Air mataku menetes, bukan karena sedih, melainkan karena amarah dan rasa bersalah yang mengoyak-ngoyak dadaku.


Mama tersentak hebat. Napasnya yang sedari tadi sesak karena menahan nyeri di dada, mendadak tercekat. Wajahnya yang pucat pasi menatapku dengan horor.


"Y-Yoga, dari mana ... dari mana kamu tahu fitnah itu?" suara Mama bergetar, mencoba menyangkal dengan sisa-sisa kelicikannya.


"Fitnah?!" Aku tertawa keras, tawa orang gila yang baru saja kehilangan kewarasannya. 


"Hani tidak memberiku obatnya, Ma! Dia menyuruhku menanyakan langsung padamu! Jawab aku, Ma! Apa benar Mama yang menandatangani persetujuan pengangkatan rahim Hani saat dia kritis setelah menyelamatkanku malam itu?!"


Mama menggeleng panik, air matanya tumpah menderas. 


"Kondisinya kritis, Ga! Dokter bilang rahimnya pendarahan akibat benturan! Biaya operasinya mahal, butuh perawatan panjang, sementara asuransimu cairnya belum jelas! Mama ... Mama cuma memilih opsi yang paling murah dan cepat supaya uang kita tidak habis untuk perempuan benalu itu!"


"Jadi Mama korbankan masa depan istriku?!" bentakku kalap, mencengkeram kerah bajuku sendiri yang terasa mencekik. 


"Dan selama tiga tahun ini, setiap kali keluarga besar berkumpul, Mama selalu menghina Hani mandul! Mama suruh aku menceraikannya karena dia tidak bisa memberi keturunan! Padahal Mama, Mama orang yang merampas rahimnya?! Jahat sekali Mama!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...