Malam harinya, suasana rumah terasa begitu mencekam. Ibu mertuaku dan Bella mengurung diri di kamar, jelas meributkan nasib Dimas yang kini terancam tumpukan utang.
Sementara itu, Dimas duduk sendirian di meja makan. Ia terus-menerus mengacak rambutnya dengan kasar, wajahnya kuyu dan hancur seperti mayat hidup.
Aku berjalan perlahan menghampirinya, meletakkan secangkir teh kamomil hangat di atas meja.
Ini saatnya aku memukul telak mentalnya.
"Diminum dulu tehnya, Mas. Supaya kamu bisa berpikir jernih," bisikku dengan nada prihatin yang membunuh.
Aku menarik kursi di sebelahnya, membiarkan suaraku mengalun lembut namun menusuk tepat di titik ketakutannya.
"Jangan terlalu dipikirkan soal ancaman ganti rugi bosmu tadi. Temanku yang suaminya bangkrut dan kena tuntutan ratusan juta bilang, kalaupun semua barang kita disita dan kita diusir dari rumah ini, tidur beralaskan kardus di emperan toko itu nggak seburuk kelihatannya kok, Mas. Aku ikhlas menemanimu jadi gembel."
Prang!
Dimas menyenggol cangkir teh itu hingga pecah berserakan di lantai.
Tubuhnya bergetar hebat. Matanya membelalak liar penuh teror, seolah ia baru saja melihat masa depannya hancur berkeping-keping.
Pria dengan ego setinggi langit ini paling takut terlihat miskin dan hina.
"G-gembel? Tidur di emperan?" gumamnya dengan gigi gemelutuk. Ia meremas kepalanya sendiri, napasnya nyaris putus karena serangan panik yang luar biasa.
Ketakutan akan kemiskinan itu benar-benar menelan habis sisa-sisa kewarasannya.
"Iya, Mas. Kan kata bosmu tadi ratusan juta. Kalau besok pagi orang suruhan kantormu dan debt collector beneran datang bawa truk untuk menyita semua barang kita, Mas mau aku siapkan karung untuk baju-baju kita sekarang? Biar besok kita nggak kelabakan saat diusir paksa."
"TIDAK! KITA TIDAK AKAN JADI GEMBEL!" jerit Dimas parau, suaranya pecah menahan histeris. Ia menatapku dengan mata merah berair, menolak keras kenyataan pahit yang kubangun di kepalanya.
"Besok pagi, besok pagi akan ada pembeli besar datang ke rumah ini! Dia akan membawa uang tunai miliaran rupiah! Aku akan melunasi semuanya! Aku akan tetap jadi orang kaya!"
Aku menatap pria yang dulu sangat kuhormati itu dengan tatapan dingin yang tak terbaca, menikmati setiap detik kehancuran mentalnya.
Kemenangan ini terasa begitu manis.
"Amin, Mas. Berdoalah yang kencang malam ini," balasku lembut, mencondongkan tubuh dan membisikkan kalimat itu tepat di depan wajahnya yang sepucat kapas.
"Semoga besok pagi yang datang ke rumah kita benar-benar pembeli yang membawa koper berisi uang, dan bukan truk penyita barang yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar